Karma

Perbuatan baik, balasannya juga baik. Perbuatan buruk, balasannya juga buruk. Apabila belum ada pembalasannya, berarti saatnya belum tiba. Hukum Tuhan selalu bergulir, siapa menabur akan menuai.

Begitulah bunyi salah satu pepatah Cina yang sepertinya melatarbelakangi terciptanya karya sebuah film horor berjudul Karma.

Film Karma bercerita tentang Sandra, perempuan yang tengah hamil, di mana ayah dari calon anak yang dikandungnya adalah Armand, salah satu anggota keluarga Guan. Namun, mereka berdua belum menikah. Hal ini membuat Sandra diusir dari keluarganya yang tinggal di Australia, karena mereka pindah dari Jakarta sejak tragedi Mei 1998. Sebelum mempersiapkan pernikahan mereka di Jakarta, Armand pun membawa Sandra ke rumah keluarganya, di mana dari kakeknya sampai kakaknya, tinggal di sana. Sikap sang kakek yang seperti menolak kehadiran Sandra, obrolan para pembantu di rumah, dan keinginan Sandra untuk menghidupkan kembali rumah keluarga Guan tersebut, membawanya kepada sebuah cerita masa lalu dan karma..

Satu hal yang menarik dari film horor satu ini adalah terlibatnya budaya Cina yang mendasari permasalahan di film ini, sehingga dialah peran utamanya. Setelah menonton, kita bisa tahu bahwa ada budaya Cina yang seperti itu. Tidak hanya sekedar wajah-wajah para pemain yang khas wajah Tionghoa ataupun budaya memasang Hio saja, tapi ada budaya baru yang bisa kita pelajari di film ini.

Film ini terasa setengah-setengah. Akting para pemain, ada yang bisa dibilang bagus, sisanya kurang maksimal. Bahkan, Dominique pun, yang bisa menjadi daya tarik film ini, tampak bermain biasa saja. Jonathan Mulya justru bisa tampil cukup baik, meski porsi adegannya tidak terlalu banyak. Dari alur cerita, cerita tentang masa lalu Guan sangat menarik dan juga mengandung pesan moral yang baik. Tapi dalam menggambarkan kehidupan Sandra yang dihantui dan ketakutan, rasanya biasa saja. Terlihat konyol dan tidak menyeramkan. Untuk ukuran film horor, hantu film ini tidak terlalu menakutkan. Meski kemunculannya cukup bikin kaget ditambah dengan sound yang pas.

Boleh saya akui, bahwa bagian menjelang akhir cerita ini cukup menarik. Kemungkinan bisa diprediksi atau ngga, 50:50. Overall, ini film standar, boleh ditonton boleh ngga. Mungkin buat yang ga suka nonton film horor, akan banyak hal-hal ga logis dan bikin kita nyeletuk “apaan, sih?”. Tapi masih ada yang bisa di’dapet’, meski akting para pemainnya ga melarutkan emosi kita. Baiknya, film ini emang dibikin sebagai film horor, bukan film horor yang hanya sebagai kamuflase film bokep!

Diterbitkan di:  on Juli 23, 2008 at 1:17 pm Tinggalkan sebuah Komentar

Syukuran Angkatan 2008 SMA N 8 Jakarta

 

Apa sih yang bisa kita lakukan sebagai ungkapan rasa syukur kita terhadap Tuhan, ketika kita mendapatkan sesuatu yang membahagiakan? Salah satunya adalah dengan berbagi. Hal inilah yang menjadi pilihan siswa-siswi angkatan 2008 SMA N 8 Jakarta untuk bersyukur untuk kelulusan SMA, diterima di Perguruan Tinggi yang diinginkan, maupun ajang doa bersama bagi beberapa teman lain yang baru saja ikutan SNMPTN dua hari sebelumnya. Para alumni yang ‘fresh graduate’ dari SMA ini memilih berbagi dengan adik-adik mereka di beberapa panti asuhan.

 

 

Pada tanggal 5 Juli 2008, sekitar pukul 9 pagi, Ruang OSIS SMA N 8 tampak ramai. Sebagian besar yang meramaikan ruang tersebut memakai jaket bertuliskan Delapan 2008, yakni jaket angkatan 2008. Ada yang sibuk menyampul kardus, ataupun mengklasifikasikan kardus, maupun sibuk mencari lakban atau gunting. Tertera di beberapa kardus tulisan “Manggarai” dan “Tebet”. Setelah semua tampak rapih dan waktu yang menunjukkan pukul 10 menjelang setengah 11, mereka pun dikumpulkan oleh –sebut saja- panitia untuk dibriefing lebih jelas. Jadi, dari sekitar 30-40 orang yang hadir, akan dibagi dua kelompok. Satu kelompok menuju panti asuhan yang berada di Tebet, kelompok lain ke panti asuhan yang berada di Manggarai. Setelah itu, kedua kelompok akan bertemu kembali di Panti Asuhan Sayap Ibu di daerah Kebayoran.

 

Baik di Manggarai maupun di Tebet, kedua panti asuhan sama-sama berada di dalam gang-gang kecil. Acara di kedua panti asuhan tersebut tidaklah banyak, hanya sekedar sambutan, persembahan dari panti asuhan yang bersangkutan, serta pemberian snack (seperti yang di acara ulang tahun). Untuk barang-barang, sembako, dan dana, hanya diserahkan secara simbolik. Melihat kondisi panti asuhan tersebut, sepertinya cukup baik karena ada kegiatan pendidikan yang berjalan di sana, meski beberapa anak bersikap ‘nakal’. Yang membuat tampak miris adalah perbandingan panti asuhan yang kecil itu dengan beberapa rumah mewah yang berada di depan gang..

 

                                                            

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Di Sayap Ibu, tampak beberapa anak-anak di sana sudah sibuk lari-lari dan meminta gendong pada “Mama” dan “Papa” mereka dari SMA 8. Dapat dilihat dari kondisi mereka, bahwa tidak semua anak-anak tersebut memiliki kondisi yang normal. Melihat mereka saja rasanya air mata sudah menjerit minta keluar. Anak tersebut memeluk, bergelayutan, pada siapa saja yang mereka ingin. Tak henti-hentinya mereka berlarian kesana kemari. Mereka tampak “liar” ketika melihat kamera, karena saling berebutan ingin menjepret mengunakan kamera. Ketika makan siang bersama, mereka tampak tenang menikmati makanan, ada juga yang tampak nyaman makan di pangkuan para ‘tamu’, tanpa mereka kenal itu siapa.

 

  

 

Setelah acara makan siang, ada juga acara bagi-bagi hadiah. Anak-anak tersebut harus menjawab pertanyaan maupun mengikuti ‘perintah’ beberapa kakak untuk mendapatkan tas, tempat pensil, maupun gelas. Rasanya bahagia sekali melihat mereka bisa tersenyum, tertawa, dan senang melihat tempat pensil maupun tas baru mereka. Rasa bahagia itu rasanya spesial sekali. Mungkin ada rasa sesal menyerbu, mengapa selama ini selalu mengeluh karena pacar ga bales SMS atau ga bisa jalan ke Mall karena dilarang mama papa, sedangkan mereka, sama sekali tidak tahu ayah ibu mereka..

 

Kemudian, dengan dipimpin salah satu orang dari pihak SMA 8, semua yang ada disitu berdoa bersama, memanjatkan rasa syukur atas kebahagiaan yang diberikan saat itu, maupun atas kelulusan dan hal-hal lainnya. Setelah berdoa, dilanjutkan dengan shalat Dzuhur bersama, kemudian foto bersama. Ketika pulang, ada rasa bahagia yang tinggal di dalam hati setiap mengingat senyuman yang muncul di wajah adik-adik tersebut..

 

[sebenernya mau masukkin foto hasil jepretan mereka, tapi lama banget :( oiya, foto2 diatas adalah hasil jepretan gema, fida, dan gw.]

Diterbitkan di:  on Juli 20, 2008 at 4:10 pm Komentar (1)

Gala Premiere KARMA [150708]

 

Ini kedua kalinya gw datang ke Premiere sebuah film Indonesia. Berkat kebaikan hati seorang teman, yakni Achmad Baihaqi, sampailah saya di XXI Plaza Indonesia EX, sekitar pukul 8 malam. Di depan pintu XXI, tampak papan banner film Karma sedang di’permak’ oleh beberapa laki-laki, dipasangi lampu, agar papan tersebut bisa dipakai sebagai latar belakang untuk wawancara dan foto-foto. Di lobby XXI, belum terlalu ramai. Tapi kata Haqi, yang sampai di situ duluan, Dominique, si pemeran utama, telah hadir.

 

Gw ga akan cerita banyak-banyak, karena yang namanya Premiere, kayaknya gitu-gitu aja, kan? Para pemain, undangan (yang sebagian besar artis), panitia penyelenggara premiere, serta wartawan, pastinya memadati lobby XXI. Tapi yang bikin aneh adalah bahwa di acara premiere itu, yang paling banyak dikerubungi wartawan untuk diwawancara adalah Tyas Mirasih, which is dia bahkan ngga main filmnya. Terus, dia diwawancaranya di depan papan banner Karma itu. Ga cuma lima menit, tapi cukup lama! Sedangkan, para pemain filmnya, yakni Dominique, Jenny Chang, Jonathan Mulya, malah diwawancara segelintir orang dan bukan di depan papan banner film Karma, melainkan di spot tertentu yang latar belakangnya cuma crowd aja. Mungkin gw terlalu membesar-besarkan masalah ini, tapi menurut gw ini aneh banget!!

 

Setelah keanehan itu berlalu, karena para undangan udah dipersilahkan masuk ke dalam studio, gw malah jadi mikir tentang satu hal. Gw mikir tentang.. apa sih artis itu sebenarnya? Kenapa gw bisa ngefans sama artis? Kenapa gw bisa ngefans sama Poppy Sovia dan Titi Sjuman? Kenapa orang-orang seneng kalau bisa ketemu dan foto sama Jonathan Mulya? Kenapa kalau foto sama artis bisa dibanggain? Kenapa?

 

Ngeliat begitu banyak artis di premiere, gw malah mikir kalau mereka not supposed to be a celebrity. Mereka manusia, rakyat, bagian dari masyarakat dan realita. Orang biasa aja, kayak lo, kayak gw, kayak kita. Klise sih, tapi gw kayak baru dapet pencerahan sekarang! Mereka ketawa sama teman-teman mereka, ngobrol biasa, jalan, cengar-cengir, foto-foto, mesen popcorn, beli minum, ya gitu. What is so special about them?

 

Mereka dikenal banyak orang, kah? Karena kalau masalah talenta atau pekerjaan, gw ngerasa tiap orang punya talentanya sendiri. Gw ngefans sama Titi Sjuman, salah satunya karena dia drummer cewek, tapi temen gw juga ada yang cewek tapi drummer. Dan setelah gw ketemu dia dan Poppy di premiere kemarin, seneng sih bisa ngeliat dia dan bisa pamer. Nah, kenapa gw seneng bisa ngeliat artis itu dari deket? Padahal pas minta foto, ya udah. Minta foto, nanya, “boleh minta foto, ga?”, dia bilang iya, foto, fotonya udahan, bilang terima kasih, senyum, ya udah. Itu sebuah komunikasi yang bisa terjadi dengan siapa aja kan? Tapi kenapa ada perasaan bangga kalau bisa berkomunikasi seperti itu dengan artis? Kenapa ada rasa seneng kalau bisa berjarak dekat, bahkan dalam waktu singkat, dengan artis? Kenapa? Padahal mereka belum tentu kenal kita, dan kita pun sebenernya belum tentu kenal mereka. Kenapa kita lebih sering memuja mereka daripada memuji atau bahkan say thanks ke orang yang tiap hari dekat dengan kita? Apa karena saking udah biasanya, jadi ga perlu ada pujian?

Pikiran ini muncul dari semalem, setelah melihat Yama Carlos memesan makanan minuman di sebelah gw TEPAT dan melihatnya menyapa serta ketawa dengan teman-temannya. Gw pikirin hal ini terus masih sampai.. saat ini.

 

So, please, share your opinion!! I do really need some answers! DANKE!!

Diterbitkan di:  on Juli 16, 2008 at 2:26 pm Komentar (1)

The Dream Catcher

 

aku lagi suka banget sama a DREAM CATCHER.

THE DREAM CATCHER

As the legend goes, the Dream Catcher was used by Native Americans and was hung in the lodge. It’s used to catch all dreams, good or bad. The bad dreams would get caught up in the webbing and be held there till first morning light, then get burned off. Now, the good dream were caught too, but knowing their way to the hole in the center, would filter down into the feathers and be held there, only to return to be dreamed on another night.
that’s why i love this thing :-) ada satu hal lagi sih yang aku suka dari benda ini, tapi R A H A S I A. hehehe. aku suka banget, deh!! kalo ada yang mau ngasih dream catcher lagi, aku terima dengan senang hati! biar mimpi indah terus :-) hehehehe.

Diterbitkan di:  on Juli 4, 2008 at 3:29 pm Tinggalkan sebuah Komentar

KANGEN!

ajegile! udah lama ga nulisssss. otaknya lagi buntu, nihhhhh! malah udah lama ga nonton film. kungfu panda aja belum nonton. pathetic me :(

ada beberapa yang mau diceritain, tapi masih harus dipending. di antaranya :

1. kedatangan sepupuku dari amrik, his name is Jojo :)

2. kedatangan beberapa teman yang exchange : nia, elsa, diba, dila, audi, al, dsb..

3. persiapan kuliah yang exciting! padahal baru masuk bulan september :p

4. penyesalan di akhir masa SMA dan sebuah kejadian yang memperbaiki itu semua :) including : wisuda!

5. kisah temenku yang kehilangan ayahnya..

6. dokter nenek dan mamaku!

apa lagi ya? yang jelas, aku sedang dalam usaha ngurusin badan dan hidup sehat! mengurangi konsumsi gula, terigu, nasi (nasehat dari si dokter hebatnya nenek dan mama)  :p

doain biar badanku bisa kayak F A H R A N I. walaupun ga bisa se-sexy dia, yang penting bisa langsing dikit, deh :p btw, yang tanggal 3 juli mau nonton phantom of the traditional opera di GBB, kabarin aku ya! aku juga mau nonton, tapi belum beli tiket. hehehe. semoga masih ada tiketnya. amin. buat yang mau tau itu acara apa, buka aja websitenya Taman Ismail Marzuki :p

Diterbitkan di:  on Juli 1, 2008 at 1:02 pm Komentar (1)