Several Things

Lagi bingung mau ngepublish apa. Ada satu tulisan baru tentang film Drupadi lagi, tapi masih dalam proses pikir-pikir dan editing. Hahaha, sok banget deh.

Well, ada several things yang mau gw tulis aja di sini. Satu, nambah satu lagi tanggal dan hari bersejarah buat gw. Ingetin ya, tanggal 28 JANUARI 2009. Kenapa? RAHASIA. Pokoknya itu benar-benar hari yang luar biasa banget buat gw :)

Dua, lagi suka Lisa Loeb. Kalau ada yang punya CDnya, mau pinjam dong!

Tiga, lagi sakit kepala dan mengalami gejala flu, padahal Senin esok mau UAS.

Empat, senang sekali karena baru saja reuni IPS dan bertemulah dengan beberapa teman yang gak banyak berubah ternyata :-)

Lima, belajar untuk gak jadi sok tahu dengan menganggap bahwa segala sesuatu yang ada benar-benar masih jauh perjalanan sehingga masih harus terus cari-cari informasi dan belajar terus sampai mati (bukan belanja, lhoo :p)

Udah sih, itu aja. Akan menyusul tulisan tentang nyokap (lagi) atau hal-hal yang berkaitan setelah nyokap ‘pergi’. Seperti gimana rasanya jadi anak banyak orang, gimana gw harus bolak balik Kota-Pondok Gede, dan semuanya.

ARGH. beneran sakit kepala, nih. gawat.

Diterbitkan di:  on Januari 30, 2009 at 10:57 am Komentar (5)

Digampar

Digampar. Dua hari ini saya kena gampar. Bukan gampar secara fisik, tapi secara mental. Mungkin terkesan berlebihan, tapi itu yang bisa saya katakan karena meskipun udah ikut kaderisasi organisasi berulang-ulang, ini mental kayak gak bisa berubah -atau gak mau. Ya, untuk informasi anda semua, saya adalah seseorang yang bermental nir-baja (mulai ketularan bahasa dosen saya). Alias lembek, lemah, amit-amit deh. Mencoba untuk menjadikan mental ini sekuat baja, meski untuk sementara, tapi kayaknya yang namanya sifat dasar tuh mental, tetep aja nir-baja.

Ditambah lagi, terjadinya miskomunikasi yang kayaknya gak akan bisa ‘clear’. Karena lantas miskomunikasinya sudah terlalu jauh, biasa perbincangan antara orang yang berlatar belakang pendidikan dan pengetahuan berbeda, maka saya lebih memilih prinsip, “sometimes things better left unsaid”. Lebih sakitnya lagi, saya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah hampir menjalani masa UASnya, namun tetap saja masih mengalami miskomunikasi, yang menurut saya karena sifat saya yang impulsif satu itu.

Saya kesal. Saya marah. Saya BT. Yang jadinya kena imbas adalah orang-orang di sekitar saya (maaf ya, teman!). Tapi kemudian saya mencoba mencerna lagi dan mencoba menenangkan diri, “Tenang, Sekar. Tenang. Sometimes thing doesn’t go your way”. Ya, mungkin gamparan itu sebenarnya memang bertujuan baik untuk diri saya. Logika saya menerima itu. Tapi kenapa perasaan saya masih gak bisa terima, karena cuma masalah gamparan itu tidak diberikan kepada saya seperti apa yang saya harapkan.

Hmm. Lagi-lagi saya harus mengidentifikasikan diri saya dengan Wayne, tokoh di novel Olenka-nya Budi Darma. Si tokoh yang dideskripsikan sebagai korban pertentangan antara intuisi dan logika dan sudah selayaknya sering menabrak-nabrak kesulitan. Pathetic me. Hal tersebut membuat saya jadi bertanya-tanya, apa saya akan berhasil menjadi siswa Ilmu Komunikasi kalau hal ini terus-terusan teridentifikasi dengan tepat di diri saya? Bahkan di dalam alam bawah sadar saya. Fiuh. Seperti kata-kata yang saya gunakan menjadi tidak tepat karena saya menulis sesuatu hanya sesuai intuisi saja, lantas belum tentu semua orang menerima karena ‘noise’-gangguan yang terjadi, salah satunya adalah perbedaan tingkat pengetahuan.

Digampar kemarin membuat saya banyak introspeksi dan justru banyak belajar. Terima kasih, terima kasih banyak. Please, jangan salah menangkap maksud saya ini. Karena meski terkesan lebai menggunakan kata “DIGAMPAR”, tapi itu hanya berlaku untuk diri saya sendiri. Kenapa saya menulis ini di blog? Apa ya alasan objektifnya? Oh Tuhan, mohon mengerti. Kali ini lagi-lagi intuisi saya yang mendominasi. Sial. Atau untung. GAK TAU! Tapi saya benar-benar belajar, entah ini belajar yang sekedar sekedar atau akan terus berlangsung lama. Namun, saya bisa prediksi, yang digampar-gampar ini biasanya lebih ‘mengena’ dan lebih longlasting.

Intinya, apa yang mau sampaikan? Jangan pernah bias menanggapi sesuatu yang menimpamu. Karena pasti sebenarnya, bisa saja ada maksud baik yang terselubung, yang mungkin tidak bisa kita temui jika hanya merasakan ’sensasi’nya, yakni yang tampak di permukaan saja. Keburu marah, sedih, atau kesal, tanpa mendalami maksud baik itu. Maksud baik bisa ditemukan di mana saja, bahkan di cara yang belum tentu baik menurut kita. Lantas kemudian bisa jadi kita yang egois, jika kita selalu menanyakan, “Kok caranya gitu banget, sih? Gue gak bisa digituin! Emang gak ada cara yang lebih baik?”. Mungkin sudah waktunya kita yang memahami, kita yang menerima biasnya, karena dengan begitu, bisa jadi kemenangan yang berpihak di diri kita, meski cuma diri kita sendiri yang bisa mengakui kemenangan itu.

Sebagaimana saya mendapatkan pelajaran di mata kuliah Religiusitas hari ini, yang membahas tentang Teodise. Mencoba mengungkap jawaban, “Mengapa kita percaya bahwa Tuhan ada, padahal begitu banyak penderitaan dan kejahatan terjadi di muka bumi ini?”. Karena kalau saya jabarkan di sini malah jadi copy paste pelajaran slide presentasi Dosen saya, maka -mohon maaf sekali kalau jadi bias- saya cuma bisa menggarisbawahi satu hal yang cukup penting, bahwa tergantung kita memaknai ’penderitaan’ yang kita alami itu, karena penderitaan hanya sekedar ilusi, tabir semata, atau topengnya saja. Di balik topeng itu ada apa, harus kita pahami lebih dalam lagi. Begitu juga dengan gamparan tadi. Gamparan tadi hanya di permukaan saja, tapi makna gamparan tersebut sebaiknya dicari makna lebihnya, siapa tahu tersimpan maksud baik seseorang yang digunakan untuk kebaikan kita sendiri.

 

 

Biar gak bias, gimana kalau ada yang ‘gak enak’ dikasih comment aja? Thanks!

Diterbitkan di:  on Januari 19, 2009 at 3:09 pm Komentar (1)

Facing Death

Jika sebelumnya saya mencoba “Talking About Death”, maka tulisan ini adalah hasil melimpah ruahnya pikiran di otak saya tentang “Facing Death” yang baru saja saya alami.

Ya, jadi Ibunda saya yang luar biasa saya sayangi dipanggil Tuhan, pemilik sejatinya, hari Sabtu, tanggal 3 Januari 2009 jam 06.10 pagi. Dengan didampingi Ayahanda saya dalam suapan terakhir makan pagi terakhirnya dan mengucapkan selamat tinggal saya hanya via mimpi.

Segala pembicaraan dan pikiran saya tentang kematian, baik ketakutan maupun kegelisahan tentangnya, tiba-tiba menjadi sesuatu yang nyata senyata-nyatanya, sampai saya benar-benar tidak tahu harus berpikir apa. Begitu cepat dan tidak terasa, datang tidak terduga dan terjadi begitu saja.

Berada dalam mobil jenazah, di samping jenazah ibu saya sendiri membuat pikiran tidak menentu. Selalu terbayang wajah ibu terbujur kaku. Mulut terus mencoba mengucapkan doa –meski agak terganggu dengan SMS dan telepon-, mata terus menitikkan air yang berhasil di produksinya terus menerus. Ingin berhenti menangis, ingin menenangkan hati, tapi kembali teringat bahwa yang pergi, yang telah tiada, adalah Ibunda sendiri.

Apa yang membuat saya tampak begitu sedih kehilangan? Tidak ada bayangan, bagaimana Ibunda akan diperlakukan. Tidak ada kesempatan, untuk bersama di ujung perpisahan. Bahkan di perpisahan yang benar-benar berpisah, dari sosok yang ada menjadi benar-benar tidak ada, dan saya tidak tahu di mana. Mungkin jasadnya terkubur di tanah sana, tapi ruhnya? Lalu, di saat saya benar-benar sedang dalam usaha untuk menjadi sosok yang merawatnya karena sakitnya, saya seakan kehilangan kesempatan itu dan justru dibuat menyesal. Juga, karena saya tidak dalam kondisi yang terbaik saya ketika beliau pergi.

Setelah sampaii di rumah, kemudian semua orang sudah banyak hadir. Semua menyalami dan memeluk, meminta saya tabah dan kuat. Handphone juga sibuk berdatangan SMS yang mengucapkan belasungkawa. Mencoba tampak tegar, tapi air mata tak mau kompromi. Cuma bisa menangis seadanya. Tidak percaya, kali ini harus saya yang mengalami. Biasanya saya yang berkunjung ke rumah orang, tapi kali ini saya yang dikunjungi. Saya subjeknya.

Bersyukur, saya bisa memandikan beliau. Bersyukur, saya bisa mensholati beliau. Bersyukur, saya bisa melihat ia dikubur. Bersyukur, saya bisa mendoakan beliau. Bersyukur, banyak orang yang membantu beliau. Bersyukur, atas semua doa untuk beliau dan dukungan untuk saya dan ayah.

Di saat seperti inilah saya merasa mengapa kita perlu bersikap baik terhadap semua orang. Ya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita membutuhkan orang lain. Saya juga merasa, betapa orang baik selalu diberikan kemudahan dalam setiap halnya. Lalu, ketika semua yang menjadi milikNya telah kembali kepadaNya, segala sesuatu yang materialis di muka bumi jadi terasa tiada berarti. Dalam arti kata, tidak perlu dijunjung begitu lebihnya. Juga, jika ingin berubah untuk kebaikan, jangan pernah ditunda, at least kita berusaha. Karena mungkin kita lupa, betapa besarnya Tuhan punya kuasa.

Kemudian di rumah ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang tiada. Setiap saya berusaha mengingat beliau, yang terbayang adalah dirinya yang tadinya hidup kemudian dengan cepat berganti dengan wajahnya yang telah terbungkus kafan. Tidak tahu apa yang bisa saya rasakan. Semua begitu abstrak, absurd, dan masih tidak bisa diterima akal.

Kepergian Bunda memang sudah saya antisipasi. Tapi tidak menyangka bahwa segala sesuatunya secepat ini. Apa yang saya coba antisipasi, pengetahuan-pengetahuan dan teori-teori bahwa saya harus begitu dan begini, tidak semudah pelaksanaannya di hari ini.

Mencoba lari dengan mengalihkan perhatian kesana kesini. Pergi kuliah, mencoba menjalani hidup normal sehari-hari. Tapi tentu saja selalu kembali lagi. Hingga kemudian saya mendapatkan wejangan dari sana-sini yang luar biasa memberi arti.

Sedikit-sedikit mulai bisa memahami. Mencoba menjalani kembali, dengan penuh doa selalu dalam hati, untuk Ibunda tercinta yang tak pernah ‘mati’ di hati.

Sayangilah orang tuamu sepenuh hati. Mungkin kata-kata ini semua tidak berarti. Tapi jangan sampai menyesal ketika kau alami sendiri. Karena bagiku sendiri, rasanya menjadi tidak sama seperti apa yang dibayangkan selama ini. Apa yang saya tulis di “Talking About Death” menjadi suatu hal yang memberikan rasa beda sama sekali.

Namun, saya masih meyakini satu hal. Pandangan saya tentang kematian, kemudian mempengaruhi pandangan saya tentang kehidupan. Lantas kemudian, segala sesuatunya membuat saya lebih sadar akan satu hal dan lainnya. Banyak, banyak hal yang kita pelajari dari kematian, terutama jika kita termasuk orang-orang yang yakin tentang Tuhan dan agama.

Ya Allah, terimalah amal ibadah Ibuku, ampunilah dosa-dosanya, maafkanlah kesalahannya, lapangkanlah kuburnya, dan tempatkanlah ia di tempat yang terbaik, yakni di SurgaMu yang mulia. Amin.

Diterbitkan di:  on at 3:07 pm Komentar (11)
Tags: