BLANK.

•Mei 7, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

blog gue lagi menganggur ria. banyak yang mau diceritain, tapi kenapa susah banget ya keluar? lagi malaaaaas.

dari tanggal 4-8 mei ini ikutan journalist days yang diselenggarakan badan otonomi economica fakultas ekonomi universitas indonesia. hari pertama acaranya seminar, lumayan asik karena ngebahas citizen journalism. di sesi terakhir ada pak wimar witoelar sebagai pembicara. inti yang paling bisa gue share di sini dari pembicaraan beliau adalah citizen journalism hadir sebagai ruang kita buat mengekspresikan diri. ekspresi diri, itu intinya.

hari kedua sampai keempat, training pembuatan script berita, pengenalan teknik kamera, dan video editing. ini ada kaitannya sama jurnalisme siaran. hari kedua, dikasih materi. hari ketiga, praktik cari berita sama kelompok yang udah ditentuin panitia. hari keempat, presentasi dan dievaluasi. di hari training ini yang gak ada matinya. dapet temen-temen baru dan berlelah ria. karena gue mau ngeliput anak-anak kecil yang jualan di lingkungan ui, gue jadi temenan sama seorang bocah namanya coko. pinter ngatain, pinter ngeles, ya ngasih gue impresi yang baik tapi juga ngeselin kalau dia mulai ngetes-ngetes kepintaran gue. hahaha. yang gue salut, ternyata anak-anak ui suka ngajarin mereka. ada yang diajarin bilang makasih pakai bahasa asing, ada macem-macem lah. bahkan si coko aja menurut gue terlihat pintar untuk ukuran anak yang berkeliaran begitu (aduh, bingung bilangnya gimana).

hari ini presentasi karya dan dari kemarin kelompok gue kerjanya cuma berdua. pada kuliah di ui. sedangkan gue stand by dari pagi sampai sore dan mengedit biar jadi liputan berita. sumpah, gak maksimal banget. kurang shot, ngerjainnya gak total, payah. pas dievaluasi, gue udah cukup tahu lah apa yang akan dikomentari, karena gue pun cengar-cengir aja pas itu liputannya ditayangin. gak maksimal banget. but, surprisingly, liputan kami terbaik ketiga. hahahaha.

besok mau company visit. sounds great kayaknya.

ikutan journalist days, gue gak kuliah juga selama seminggu. entah kenapa, gue lagi ngerasa perlu ngejauh dari lingkungan kampus dulu. lagi jenuh, kayaknya. seminggu gak kuliah, big decision banget. tapi gue kayak udah mantep banget. bukan cuma karena acara journalist days-nya, tapi gue lagi pengen ‘ngejauh’ aja dari kampus, dari temen-temen kampus. lagi pengen ‘lepas’ untuk sementara. mungkin ini yang namanya jeda, jarak, spasi, dalam kehidupan kampus gue. hehehe.

tapi gue ngerasa keputusan gue gak salah. ke feui, ketemu temen-temen lama, ketemu temen-temen baru, ketemu orang yang enchanted banget, ketemu abang jualan takoyaki yang menarik hati, ketemu trainer sctv yang juga menawan (udah punya istri belum, sih? :p), ketemu coko si bengal tapi baik, ketemu temennya temen gue lewat temen gue yang baru aja kenal, yaa nyicipin seminggu jadi anak ui lah ya. sekalian bantu memopulerkan kampus gue yang di antara peserta journalist days, cuma satu yang tau! cool.

damn-nya lagi hari ini. gue ngerasa mengenali salah satu sosok panitia. setelah gue tilik-tilik, beneran. dia temen sd gue. gue sapa dong, “faad, ya? dulunya anak angkasa 9?”. dia ngangguk-ngangguk dan bilang lupa nama gue. pas gue bilang nama gue adalah sekar, mukanya langsung terperangah dan kata-kata yang keluar dari mulut dia adalah, “sekar? kok sekarang lo kayak gini?”. terus dia pakai komunikasi non-verbal berusaha menggambarkan betapa bedanya gue. gue tanya, “kayak gini gimana? kerudung?”. dengan tangannya yang ia posisikan sejajar di depan dada, lalu ia rentangkan, which is maksud dia, gue bertambah lebar. gue cuma ketawa ngakak, sial.

banyak hal deh yang gue dapet di journalist days ini. it’s fun, it’s fine, but tiring. need some rest, sebelum gue mengejar ketinggalan-ketinggalan gue di kampus mulai senin esok. ahh, gue makin yakin jarak itu perlu. kalau nggak, mungkin gue gak sekangen ini sama temen-temen kampus gue :p

(fyi, tulisan ini terinspirasi salah satu pilihan soal ujian tengah semester mata kuliah bahasa indonesia. di mana perintahnya, harus diubah dengan format yang mengikuti bahasa indonesia yang baik dan benar. masih untung ini gue kasih tanda baca. hahaha.)

 

ps. judulnya blank tapi nulisnya panjang juga ya. yesss!

Makin Aneh Aja

•April 8, 2009 • & Komentar

Ngerasa gak sih dunia makin aneh aja? Ralat. INDONESIA makin aneh aja. Dengan fenomena politik yang lagi marak-maraknya terjadi saat ini, yakni kampanye terbuka partai-partai politik, makin tampak jelas keanehan-keanehan yang luar biasa aneh.

Dari caleg yang bejibun banyaknya tanpa ada kejelasan. Sampai cara mereka berkampanye yang bikin geleng-geleng kepala. Mau dicaci seribu juta mulut, gak ada mikir-mikirnya tetep aja maju terus pantang mundur, duit ludes tinggal daftar jadi pasien RSJ. Ya ampun. Gue belum nemu aja, para calon terpilih yang bener-bener orientasinya ke rakyat dan ke kemajuan negeri ini. Sebagian besar yang gue liat adalah calon-calon bermodal uang yang orientasinya kemenangan dan kesempatan mencari uang biar balik modal. Udah kayak mainan.

FYI. Gue besok kayaknya gak milih. WHY? Karena gak dapet surat undangan atau apalah itu. Huff. Apa-apaan ini. Gue udah semangat bergelora karena besok adalah pertama kalinya gue milih, malah kayak begini. Ya, meski gue juga gak tau sih siapa yang akan gue pilih. Tapi, tetep dong, itu HAK gue. Huh.

Semoga, biar gue gak milih, nantinya yang kepilih, adalah orang-orang yang peduli sama negara dan rakyat, orang-orang yang jujur dan kalau bisa ya idealis. Capek banget kalau yang kepilih adalah orang-orang gak punya visi semua, asal kantong gak kosong. Semoga dalam segala keanehan, masih ada yang masuk akal.

Everybody’s CHANGING.

•April 8, 2009 • & Komentar

Say i’m a totally conservative. Why? Karena gue susah sekali menerima perubahan. Gak semua, tapi tertentu. Jelas, gue mendukung moto Obama yang CHANGE. Tapi beberapa hal penting dalam hidup gue secara pribadi, sangat gue tidak suka kalau itu berubah. Hmm, gak suka terlalu emotif. Sulit terima, lebih tepat tampaknya.

Belakangan ini, gue sering banget ngomongin perubahan. Bokap aja udah ngasih gue wejangan kalau gue harus mulai bisa nerima perubahan karena emang semua berubah (termasuk di dalamnya perihal kepergian Bunda). Otak gue mulai bisa menerima, tapi hati gue masih nggak (inti masalah hidup gue ada di pertentangan intuisi dan logika). Banyak banget hal-hal yang udah jadi bukti betapa susahnya gue menerima perubahan. Dari gue gak mau IPS angkatan gue ada dua kelas karena gue ngerasa udah turun-temurun IPS cuma satu kelas, sampai gue lebih suka si Kate Beckinsale di film Pearl Harbour ‘jadi’ sama si Ben Affleck, karena dia adalah pacar pertamanya, dibanding dia sama si Josh Harnett. Gue bahkan sebel sama si Josh karena terkesan dia ngerebut dan si Kate gak setia sama di Ben (hahaha, sok akrab).

Gue pun lagi ngerasa salah seorang yang gue sayang sedang berubah. Berubah perilaku, sikap, dan anggapan dia ke gue. Sedangkan gue, justru masih menginginkan dia yang biasanya, yang dulu. (Wait, setelah gue ingat-ingat, kok malah kayak lagunya ST12, yaa? Sh*t.) Gue pun tidak menemukan alasan mengapa dia berubah karena segala ketidakjelasan yang gue temui. Semakin gue bertanya-tanya, tampak dia semakin risih. Jadilah, gue sempat galau dan sebagainya.

Hal ini terjadi ke gue berulang kali tanpa gue bisa menyikapinya dengan bijak dan sederhana. Selalu gue buat rumit dan gue tampak bodoh dan rugi sendiri. Sesuatu yang terlalu cepat, terlalu impulsif, penyelesaiannya tidak begitu menyenangkan (lagi-lagi gue tau perihal ini, tapi tetep aja impulsif). Akhirnya gue mencoba memutuskan untuk menyayangi dia dengan ikhlas. Tanpa gue remas keras-keras, karena akhirnya dia hanya akan meronta-ronta minta lepas.

So, gue sekarang lagi sangat berjuang untuk menyikapi segala sesuatunya dengan mengikutsertakan otak gue untuk berperan. Juga berjuang agar hati gue tidak terlalu dominan. Semoga dia pun menerima ini sebagai pesan dalam sinyal-sinyal yang tak terucapkan. Gue mencoba berdiri sendiri dengan segala keyakinan bahwa, love is still about giving. Gue mencoba tidak posesif, tidak egois, dan cukup memberi.  Bahkan memberikan lo ruang, memberikan lo jarak dengan gue, yang mungkin selama ini terlalu dekat padahal membuat lo gak nyaman. Lantas gue akan mencoba untuk mengalir, seperti air yang tanpa dosa bergulir.

Tapi. Kalau ELO butuh sesuatu, meski elo tidak mengharapkan itu dari gue, percaya deh.. gue gak bakalan ninggalin lo karena lo itu muara buat gue. Mau gue kemana-mana dan menjelajahi apa, gue tetap akan berujung ke elo, dan gue bahagia akan apapun yang membuat lo bahagia. Bahkan kalau gue harus berubah layaknya Power Ranger, untuk menjadi bayangan kalau elo tidak suka gue sebagai sesuatu yang nyata. Lo cuma perlu percaya, hehehe.

 

Keane said..

You’re gone from here
Soon you will disappear
Fading into beautiful light
‘cos everybody’s changing
And I don’t feel right

…but everybody’s changing and I don’t feel the same

Easy Come, Easy Go

•Maret 20, 2009 • & Komentar

Hari ini mood gue sangat naik-turun.

Pagi-pagi, biasa aja. Siang-siang sempet girang karena mainan polisi maling sama kata-kataan. Siang banget, sempet bad mood gara-gara terlalu perasa dalam menanggapi SMS. Karena permainan polisi maling dilanjutkan, mulai gila lagi dan kadar happy mood meningkat. Terus pas lagi cerita sama seorang teman baik, tiba-tiba sendu. Di perjalanan pulang sampai malam, sempat down dan bad lagi. Eh, sekarang sudah mulai netral dan kembali sedikit senang karena ada si piggy Safa yang empuk banget buat dikata-katain :p

Lately sedang banyak pikiran perihal teman. Dari gue yang ngerasa lagi bingung sama seorang teman, lagi ngerasa berjarak sama teman gara-gara sekarang pulang-pergi kampus-rumah, sampai pertemanan orang-orang sekitar gue yang berubah. Entah gimana, gue sampai pada kesimpulan bahwa kehidupan pertemanan di kampus itu, banyak banget orang yang easy come, easy go.

Ini bikin gue lagi benci banget sama diri gue yang perasa. Gue ngerasa orang kok gak bisa ngejaga perasaan orang lain banget. Tapi mungkin gue sendiri yang harus mencoba untuk mengorbankan rasa sakit yang gue rasain karena sikap perasa gue dan mencoba memilih memahami dia yang susah dipahami karena seakan gak mau dipahami sama gue.

Huh. Kenapa ya, lo gak sadar-sadar juga. Pathetic me. Lagi kangen semua teman-teman gue. Ya, entah gue berarti atau nggak dalam hidup kalian, gue cuma pengen bilang kalian punya arti yang gak kecil dalam hidup gue. And i do really thank you all for it :) Love you, guys! (Even you don’t love me, hahahaha)

(ditulis dalam keadaan galau, kacau, dan dalam mood yang turun lagi)

Mom.

•Maret 20, 2009 • & Komentar

Kamis, 12 Februari 2009. 40 Hari setelah Mama meninggal dunia. Pagi-pagi, saya sama tante pergi ke makam, naik motor baru. Hehehe. Ternyata di pemakamaman gak ada yang jualan kembang buat nyekar. Alhamdulillah, pas lagi selesai berdoa, salah satu bapak pengurus makam ada yang bawain sekantung kembang buat kami. Jadilah kembangnya kita tabur di atas makam.

 

Makam Mama itu terletak di suatu tempat yang harus ditempuh dengan jarak lumayan dari rumah (Ya ampun, ini bahasa apaan, sih). Tapi gak ada perasaan jauh, capek, males, atau apapun buat mengunjungi makam Mama (Ya, kadang-kadang ngerasa pegel juga nyetir motor, tapi gak seberapa). Senang, lega, tapi sekaligus masih kagok, belum terbiasa mengunjungi makam untuk bertemu seseorang yang biasanya ditemui tiap hari. Tapi egois juga kalau saya masih mikir kayak gitu, ya. Kalau pikiran-pikiran aneh ini muncul, biasanya saya berdoa.

 

Hmm. What else? Ya saya ngerasain aja jadi anak sejuta umat. Anak tante-tante yang ngasih atensi lebih ke saya, anak para tetangga yang juga perhatian sama saya, sampai jadi anaknya abang-abang becak dan abang-abang ojek juga mbak Gado-gado depan rumah. Everyone kayak baik banget mau ‘ngurusin’ (dengan caranya masing-masing) dan ngebantuin saya. Awalnya kerasa kayak, “Stop it. Saya gak perlu diperhatiin segitunya juga kali.” Tapi kemudian ternyata ya saya gak mungkin bias dengan berpikir kayak gitu, karena ternyata mereka baik banget sama saya. Mungkin karena masih belum terbiasa aja kali ya. Ditambah lagi, saya jadi punya tiga tempat singgah. Satu di dorm, dua di rumah Bekasi, tiga di rumah nenek di Kota. Jadi kadang-kadang suka bolak balik Kota-Bekasi yang jaraknya tuh gak deket. Tapi masa saya mau ngeluh capek dan sebagainya?

 

Ada pula hal-hal kecil lain yang sering muncul di benak saya. Hal-hal yang sebaiknya gak perlu dipikirkan tapi suddenly pop-up in mind. Huff. Dari kamar Mama di rumah nenek yang tiap hari lampunya dibiarkan menyala, dari Papa yang masih belum bisa tidur di tempat tidur dia dan Mama (jadinya saya sama dia switch tempat tidur), rasanya tinggal berdua doang sama Papa (pagi-pagi dia yang bikin sarapan, terus kerja, terus pulang, masak lagi, terus malam tidur), betapa makin banyak yang harus jadi perhatian dan tanggung jawab saya (kunci pintu, nyalain lampu, beresin dan nyiapin baju) karena biasanya itu jadi perhatian Mama aja, bahkan Papa sendiri pun harus saya ‘jaga’ karena yang biasanya taking care of him emang Mama banget. Gak cuma ke relasi saya dan Papa, tapi juga orang-orang terdekat Mama seperti keluarga, tetangga, teman kantor, dan semuanya. Atensi dari orang-orang terdekat Mama yang bikin saya tahu dan makin yakin bahwa orang baik biasanya dikelilingi orang baik, seperti Mama :)

 

Kadang saya jadi sensitif kalau ada urusan rumah diurus tanpa melibatkan saya, terutama soal uang. Ayah kadang-kadang suka ngambil keputusan tanpa melibatkan saya yang suka membuat saya ngerasa ‘sedih’  dan bertanya, “kenapa saya gak dilibatkan?”. Karena dari dulu kami biasa hidup bertiga, jika Mama sudah ‘tidak ada’, bukankah berarti saya yang harus dilibatkan? Bukan orang lain, kan? Terkadang juga malah ada orang-orang yang berlebihan ikut campur dalam urusan saya dan Papa. Entah saya yang terlalu sensitif  karena terlalu terbiasa hidup dalam keluarga kecil, dan selama ini saya nyaman dengan ke-bertiga-an kami.

 

Satu hal yang entah penting apa nggak, tapi saya jadinya berhasil biasa saja sama si Afgan, lelaki yang satu itu! (Thanks, God!) Biarlah lagu romantis atau sendu yang saya sukai terlantun untuk Someone Who Still in Disguise, hehehe. Biarlah si Afgan tenang hidupnya tanpa gangguan saya yang over. I’m free! Kayak semacam males juga mikirin cowok jadinya (bukan berarti beralih jadi mikirin cewek), hihihi. Ya ngurangin pikiran lah satu biji :p

 

Apalagi ya? Cukup. Itu dulu rasanya. Hari ini saya makan Sop Maharasa, tempat saya sama Mama dulu suka makan setiap mau ke rumah nenek di Kota. Makan dengan sate, di mana bumbu sate bertemu dengan kuah sop lantas masuk mulut, yang saya copy paste dari cara makan Mama. Sebelum-sebelumnya, saya makan di Bakmi Kenanga, Bakmi Pada Suka, Seafood depan kompleks rumah, dan semua yang biasa saya kunjungi sama Mama (kenapa semuanya tempat makan, ya? :p) Tiba-tiba saya ngerasa di play stage atau game stage lagi, di mana saya jadi meniru semua yang Mama suka lakukan.

 

Satu hal yang saya takutkan, cuma satu. Saya takut saya lupa. Lupa akan Mama. Saya takut saya gak bisa ngerasain apa-apa lagi. Tapi saya sungguh berharap itu tak akan terjadi, karena saya tahu, cinta dan hubungan saya-Mama tidak akan putus begitu saja..

Things to be Concerned.

•Februari 13, 2009 • & Komentar

Seminggu terakhir ini, ada beberapa hal yang disampaikan oleh orang lain kepada saya. Bukan cuma tentang mengisi KRS, bukan cuma tentang liburan, tapi tentang saya. Orang lain bicara kepada saya tentang saya. Awalnya agak ‘kaget’ juga, tapi saya dengan sangat cepat (Alhamdulillah mulai bisa :p) merespon hal-hal ini sebagai bentuk atensi yang luar biasa buat saya. (Intermezzo : lagi suka font Corbel, nih :p)

1. Few people said kalau saya makin GENDUT dan BULET. Dalam seminggu, ada lima orang ngomong gitu. Eh, kemarin sehari udah nambah dua. Malah ada yang parah banget. Jadi, saya kan lagi makan di sebuah tempat makan terbuka. Dua temen saya ngeliat dari kejauhan. Yang satu bilang, “Itu Sekar ya, yang lagi makan?”. Yang satu lagi bilang, “Ah, bukan. Sekar nggak segendut itu kali.” Dan ternyata yang lagi makan itu emang SAYA. Jadi ya SAYA SEGENDUT ITU. This is one of things that must be concerned dan harus ditindaklanjuti.

Solusi : OLAHRAGA, makan teratur dan SECUKUPNYA, jalankan itu resolusi yang terkesan sekedar mimpi itu, Sekar!

2. Salah satu dosen mengingatkan saat saya menyelesaikan urusan akademik untuk persiapan semester II di kampus hari ini, “Nanti semester II Sekar jangan ngantuk-ngantuk lagi, ya.” Saya manggut-manggut. Itu penyakit saya yang paling parah kayaknya, ngantuk meskipun sudah tidur. Kopi gak mempan, yang ada malah bikin mual. Dari SMA, yang namanya tidur ini gak bisa diganggu gugat. GAWAT.

Solusi : OLAHRAGA, tidur yang cukup dan kalau bisa TERATUR, atur ulang jadwal kegiatan, manajemen waktu, prioritaskan kegiatan yang penting, jangan kebanyakan ngobrol ngalur ngidul, jangan kebanyakan main, jangan kebanyakan online kalau gak penting, LAKUKAN HAL-HAL YANG PENTING DULU.

3. Satu dosen lagi mempertanyakan kenapa jawaban saya pas UAS kurang lengkap atau kurang komperhensif, tidak seperti jawaban saya pas UTS. Dugaan beliau bahwa persiapan saya kurang, harus saya akui penuh kebenaran. UAS kemarin saya belajar tidak maksimal. Terlalu ngalah sama rasa ngantuk, lelah, waktu belajar malah dipakai tidur. Kesalahannya adalah pada sistem belajar saya yang SKS, Sistem Kebut Semalam. Payah. Ditambah ketika sedang mengerjakan, terlalu malas untuk menguraikan panjang lebar dengan benar. Intinya, KACAU.

Solusi : Bikin pola belajar yang stabil jadi gak bergantung pada SKS, manajemen waktu, re-schedule jadwal belajar, OLAHRAGA biar badan fit, perhatikan dosen saat belajar di kelas.

Kesimpulannya, SAYA HARUS OLAHRAGA. Hehehe. Ditambah mulai mengesampingkan hal-hal yang mengganggu konsentrasi (karena saya unitasking banget) dan konsisten terhadap jadwal yang dibuat. Doakan saya bisa berubah ke arah yang lebih baik, yaa! SEMANGAT!!!

Membicarakan Film Drupadi, Lagi

•Februari 2, 2009 • & Komentar

Rabu kemarin, 28 Januari 2009, Klub Kajian Film IKJ (KKFI) mengadakan pemutaran dan diskusi film Drupadi karya Riri Riza sebagai pengisi kegiatan rutinnya di bulan ini. Diskusinya menghadirkan Riri Riza, sutradara film tersebut, serta Veven Sp. Wardhana, seorang pengamat budaya massa.

Saya sendiri sudah menonton filmnya untuk pertama kali di Jakarta International Film Festival ke-10, bulan Desember lalu. Kemudian saya mencoba membuat resensi versi saya –yang sudah saya upload di blog ini-, juga membaca beberapa resensi lainnya yang ternyata banyak berlawanan dan cenderung menunjukkan ketidakpuasan terhadap film tersebut. Tidak kelewatan, saya juga sempat membaca tulisan Pak Veven sendiri di sebuah harian ternama yang bisa dibilang tanggapan beliau terhadap film ini. Semakin banyak lagi hal yang berkubang di pikiran saya mengenai film Drupadi. Tak lepas, saya membicarakan film ini pula dengan teman saya yang juga menonton film tersebut dan ia kemudian membaca kisah Mahabarata –saya tidak-, dan memperbincangkan film ini.

Setelah melihat dari beberapa sisi –memang tidak banyak-banyak banget, sih-, saya memang berkeinginan untuk memberikan kesimpulan versi saya sendiri mengenai beragam tanggapan yang benar-benar beragam itu terhadap kehadiran film Drupadi. Namun penyakit saya yang luar biasa dan terlalu mengakar (baca : unitasking sejati) membuat saya sempat melupakan keinginan saya tadi. Sampai akhirnya kemarin, kegiatan yang diselenggarakan Klub Kajian Film IKJ tersebut makin memantapkan saya untuk memberikan beberapa kesimpulan yang inipun masih merupakan hipotesa. Karena seperti yang kemarin dikatakan oleh Pak Veven pada saat diskusi, bahwa memang film ini ‘menggugah’ para penontonnya untuk mendiskusikan banyak hal, ditambah pernyataan Mas Riri bahwa ia memang suka membuat beberapa bagian filmnya terasa ‘tidak jelas’ yang kemudian tiap penonton bebas menginterpretasikannya.

Beginilah kiranya apa yang bisa saya paparkan mengenai film Drupadi, tambahan dari resensi sebelumnya, dengan kondisi saya sudah mendapat input lebih dibandingkan ketika menulis resensi yang pertama:

Kisah Mahabarata merupakan kisah yang luar biasa besar dan luar biasa kompleks. Pilihan untuk mengambil kisah Drupadi berarti juga menjatuhkan pilihan hanya sebagian kecil dari episode besar Mahabarata tersebut. Lebih menantang lagi, karena ternyata kisah tersebut dirangkum dalam sebuah film berdurasi 40 menit. Kemudian yang menjadi kendala adalah bagaimana menjelaskan suatu kisah kecil yang merupakan bagian dari kisah besar, namun kisah kecil itu -menurut saya- tidak bisa berdiri sendiri. Sehingga dalam film Drupadi, beberapa penjelasan tentang karakter dan latar belakang tokoh yang memengaruhi alur dipadatkan dalam bentuk nyanyian atau pernyataan singkat yang kemudian penjelasan itu menjadi sekedar cukup, baik bagi orang yang awam Mahabarata maupun yang paham Mahabarata, meski dengan alasan yang berbeda. Yang awam cukup paham karena memang itu merupakan hal baru dan di film ini berhasil digambarkan dengan secukupnya, yang sudah paham merasa  paham karena memang mereka sudah paham.

 

Lantas yang menimbulkan pembahasan yang mendalam lagi adalah apakah Mas Riri membuat film ini sebagai film adaptasi (cenderung mutlak adaptasi) atau sebagai film yang penuh interpretasi terhadap sebuah karya Mahabarata? Jika sebagai kisah adaptasi, yakni sebagai penceritaan ulang kisah namun via medium film, maka secara tidak langsung, Mas Riri berhasil menghasilkan sebuah film yang mengenalkan Mahabarata (meski hanya secuil bagian) kepada masyarakat awam seperti saya. Bahkan, pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa Mas Riri pun berhasil membuat teman saya menjadi membaca Mahabarata (yang kemudian bisa mendapatkan sari-sari kebijaksanaan dari kisah tersebut). Sama seperti ketika booming film Ada Apa Dengan Cinta mampu membuat orang-orang mencari tahu siapa Chairil Anwar atau siapakah Syumandjaya dan sebagainya. Ya, ini tetap nilai plus via pengalaman pribadi saya, tanpa tahu apa yang terjadi dengan penonton lainnya.

 

Namun lantas, mau tidak mau harus membandingkan dengan karya yang –bisa dibilang- sejenis dan lahir lebih dulu, yakni Opera Jawa. Apalagi jika film Drupadi mau dibilang film hasil interpretasi. Karena di film Drupadi, tidak tampak jelas bagian mana yang merupakan interpretasi jika dilihat sekilas. Segala sesuatunya mengalir begitu saja, tanpa adanya penginterpretasian lebih. Kalaupun ada pesan moral yang disampaikan, itupun karena memang kisah aslinya pun ingin menyampaikan pesan tersebut. Berbeda dengan Opera Jawa yang tampak sekali bahwa ia adaptasi sekaligus interpretasi terhadap kisah Ramayana, yang kemudian menjadikan film tersebut pun lebih mudah untuk direfleksikan dalam kehidupan masa kini. Namun lagi-lagi, saya kembali mengatakan bahwa unsur durasi turut bermain penting.

 

Berkaitan dengan durasi lagi, lantas yang banyak menarik perhatian sebagian masyarakat lagi dan ini menarik adalah penggambaran karakter Karna yang main ‘dihitamkan’ begitu saja, terkesan disamakan ‘derajat’ karakternya dengan Kurawa, padahal Karna cenderung ‘abu-abu’, yakni ada pula tuangan ‘putih’ pada dirinya dengan segala histori kehidupannya yang juga kompleks. Pada penjelasan Pak Veven di acara kemarin sore itu, Karna memang karakter yang ‘abu-abu’. Dan seringkali karakter yang ‘abu-abu’ ini disingkirkan atau mungkin dengan cara ‘dihitamkan’ agar alur cerita berjalan sampai akhirnya. Atau mungkin, kalau dari pemikiran saya pribadi yang mungkin ‘sok tahu’ sedikit, memang di konteks ruang waktu saat itu, Karna memang sedang didominasi ‘hitam’nya. Lalu yang memang memancing adanya ‘masalah’ adalah karena peng’hitam’an Karna di film ini mengesankan bahwa film ini terlalu berpihak pada Lima Pandawa dan Drupadi sebagai kubu ‘putih’. Karna memang terkesan sosok sekilas karena perannya tidak banyak, padahal sebenarnya kehadirannya justru berpengaruh besar, terutama menjelang Perang Bharatayudha yang sayangnya di film ini tidak dijelaskan lebih.

 

Saya kemudian merasa setuju dengan Pak Veven yang menurutnya judul film ini adalah “Drupadi Gugat”. Dengan judul itu menurut saya penonton bisa lebih maklum. Apalagi penggemboran via media massa bahwa film ini adalah film perempuan yang menuntut keadilan terhadap tindakan ‘pelecehan’ yang terjadi padanya, yakni mengangkat bahasan gender. Sehingga dengan tambahan “Gugat” lantas film ini menjadi lebih sesuai dan lebih mengkhususkan kepada gugatan Drupadi sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan Yudhistira di mana saat ia dipertaruhkan, Yudhistira sebenarnya bahkan sudah tidak memiliki dirinya karena sudah kalah dipertaruhkan. Lantas, bagaimana bisa Yudhistira yang sudah tak punya nama itu terpancing bujukan Sangkuni dan egonya untuk mempertaruhkan seorang wanita, yakni istrinya. Yang kemudian memperparah keadaan adalah perilaku Dursasana yang menarik Drupadi bagai seekor kuda, juga niatan para Kurawa, juga Karna untuk menelanjanginya. Siapa yang ia gugat? Tentu kelima suaminya, para Pandawa yang perkasa dan para Tetua yang hanya pada bisa diam saja. Lantas kemudian ia kembali ‘menang’ karena berhasil membasuh rambutnya dengan darah Dursasana, sebagaimana ia ingin.

 

Bahasan di atas saya rasa lebih ke masalah durasi dan pengadaptasian kisah Mahabarata dalam sebuah film. Terlepas dari itu, saya rasa film Drupadi tetap film yang menarik dan bagus secara keseluruhan. Terutama dari segi artistik dan simbolisasi yang patut dikagumi. Kemudian yang membuat jelas segala sesuatunya adalah pernyataan Mas Riri pada acara  KKFI kemarin itu bahwa inti film tersebut mengisahkan tentang seseorang yang pada awalnya punya kuasa (power) harus menjadi korban dan tak sedikit ia menanggung derita (meski akhirnya ia terselamatkan dan kembali ‘menang’). Selain itu, dijelaskan bahwa film ini adalah produk hibrida. Baik dimasukannya sendratari dalam film ini, lantunan-lantunan khas Jawa, kostum yang campur-campur budaya, bahkan tampilan karakter yang menarik. Lantas dengan begitu, saya rasa dua tujuannya ini tercapai dengan baik terlepas interpretasi para penonton masing-masing terhadap film ini. Bagaimanapun juga, saya rasa film Drupadi memiliki daya tarik tersendiri yang masih memungkinkan untuk mengalami pembahasan dan diskusi panjang mengenainya.

Di Ujung Waktu

•Februari 1, 2009 • 1 Komentar

GREAT. sekitar 15 jam menjelang UAS, gw masih mendownload lampiran bahan UAS Kewarganegaraan yang dikirim teman gw via e-mail.

Apa yang ada di otak gw? GAK ADA. Mau belajar, tapi malas luar biasa! Malah lelah tak berdaya (halaah.)

Dari kemarin bukannya belajar, malah bikin tulisan yang kayaknya ujung-ujungnya juga gak memuaskan gw dan gak akan gw publish di blog.

Jadi, enaknya nulis apa nih buat di blog? Mulai merasa gak ada menarik-menariknya nih blog gw :-( Masa cuma tulisan keluhan semacam ini?

HELP. Help me. Doakan semoga UAS gw lancar kayak kalau abis minum VEGE*A atau obat pencahar apalah. Juga, HELP. Kiranya tulisan-tulisan gw di blog masih menarik apa adanya atau perlu diapain ya?

THANKS!

Several Things

•Januari 30, 2009 • & Komentar

Lagi bingung mau ngepublish apa. Ada satu tulisan baru tentang film Drupadi lagi, tapi masih dalam proses pikir-pikir dan editing. Hahaha, sok banget deh.

Well, ada several things yang mau gw tulis aja di sini. Satu, nambah satu lagi tanggal dan hari bersejarah buat gw. Ingetin ya, tanggal 28 JANUARI 2009. Kenapa? RAHASIA. Pokoknya itu benar-benar hari yang luar biasa banget buat gw :)

Dua, lagi suka Lisa Loeb. Kalau ada yang punya CDnya, mau pinjam dong!

Tiga, lagi sakit kepala dan mengalami gejala flu, padahal Senin esok mau UAS.

Empat, senang sekali karena baru saja reuni IPS dan bertemulah dengan beberapa teman yang gak banyak berubah ternyata :-)

Lima, belajar untuk gak jadi sok tahu dengan menganggap bahwa segala sesuatu yang ada benar-benar masih jauh perjalanan sehingga masih harus terus cari-cari informasi dan belajar terus sampai mati (bukan belanja, lhoo :p)

Udah sih, itu aja. Akan menyusul tulisan tentang nyokap (lagi) atau hal-hal yang berkaitan setelah nyokap ‘pergi’. Seperti gimana rasanya jadi anak banyak orang, gimana gw harus bolak balik Kota-Pondok Gede, dan semuanya.

ARGH. beneran sakit kepala, nih. gawat.

Digampar

•Januari 19, 2009 • 1 Komentar

Digampar. Dua hari ini saya kena gampar. Bukan gampar secara fisik, tapi secara mental. Mungkin terkesan berlebihan, tapi itu yang bisa saya katakan karena meskipun udah ikut kaderisasi organisasi berulang-ulang, ini mental kayak gak bisa berubah -atau gak mau. Ya, untuk informasi anda semua, saya adalah seseorang yang bermental nir-baja (mulai ketularan bahasa dosen saya). Alias lembek, lemah, amit-amit deh. Mencoba untuk menjadikan mental ini sekuat baja, meski untuk sementara, tapi kayaknya yang namanya sifat dasar tuh mental, tetep aja nir-baja.

Ditambah lagi, terjadinya miskomunikasi yang kayaknya gak akan bisa ‘clear’. Karena lantas miskomunikasinya sudah terlalu jauh, biasa perbincangan antara orang yang berlatar belakang pendidikan dan pengetahuan berbeda, maka saya lebih memilih prinsip, “sometimes things better left unsaid”. Lebih sakitnya lagi, saya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah hampir menjalani masa UASnya, namun tetap saja masih mengalami miskomunikasi, yang menurut saya karena sifat saya yang impulsif satu itu.

Saya kesal. Saya marah. Saya BT. Yang jadinya kena imbas adalah orang-orang di sekitar saya (maaf ya, teman!). Tapi kemudian saya mencoba mencerna lagi dan mencoba menenangkan diri, “Tenang, Sekar. Tenang. Sometimes thing doesn’t go your way”. Ya, mungkin gamparan itu sebenarnya memang bertujuan baik untuk diri saya. Logika saya menerima itu. Tapi kenapa perasaan saya masih gak bisa terima, karena cuma masalah gamparan itu tidak diberikan kepada saya seperti apa yang saya harapkan.

Hmm. Lagi-lagi saya harus mengidentifikasikan diri saya dengan Wayne, tokoh di novel Olenka-nya Budi Darma. Si tokoh yang dideskripsikan sebagai korban pertentangan antara intuisi dan logika dan sudah selayaknya sering menabrak-nabrak kesulitan. Pathetic me. Hal tersebut membuat saya jadi bertanya-tanya, apa saya akan berhasil menjadi siswa Ilmu Komunikasi kalau hal ini terus-terusan teridentifikasi dengan tepat di diri saya? Bahkan di dalam alam bawah sadar saya. Fiuh. Seperti kata-kata yang saya gunakan menjadi tidak tepat karena saya menulis sesuatu hanya sesuai intuisi saja, lantas belum tentu semua orang menerima karena ‘noise’-gangguan yang terjadi, salah satunya adalah perbedaan tingkat pengetahuan.

Digampar kemarin membuat saya banyak introspeksi dan justru banyak belajar. Terima kasih, terima kasih banyak. Please, jangan salah menangkap maksud saya ini. Karena meski terkesan lebai menggunakan kata “DIGAMPAR”, tapi itu hanya berlaku untuk diri saya sendiri. Kenapa saya menulis ini di blog? Apa ya alasan objektifnya? Oh Tuhan, mohon mengerti. Kali ini lagi-lagi intuisi saya yang mendominasi. Sial. Atau untung. GAK TAU! Tapi saya benar-benar belajar, entah ini belajar yang sekedar sekedar atau akan terus berlangsung lama. Namun, saya bisa prediksi, yang digampar-gampar ini biasanya lebih ‘mengena’ dan lebih longlasting.

Intinya, apa yang mau sampaikan? Jangan pernah bias menanggapi sesuatu yang menimpamu. Karena pasti sebenarnya, bisa saja ada maksud baik yang terselubung, yang mungkin tidak bisa kita temui jika hanya merasakan ’sensasi’nya, yakni yang tampak di permukaan saja. Keburu marah, sedih, atau kesal, tanpa mendalami maksud baik itu. Maksud baik bisa ditemukan di mana saja, bahkan di cara yang belum tentu baik menurut kita. Lantas kemudian bisa jadi kita yang egois, jika kita selalu menanyakan, “Kok caranya gitu banget, sih? Gue gak bisa digituin! Emang gak ada cara yang lebih baik?”. Mungkin sudah waktunya kita yang memahami, kita yang menerima biasnya, karena dengan begitu, bisa jadi kemenangan yang berpihak di diri kita, meski cuma diri kita sendiri yang bisa mengakui kemenangan itu.

Sebagaimana saya mendapatkan pelajaran di mata kuliah Religiusitas hari ini, yang membahas tentang Teodise. Mencoba mengungkap jawaban, “Mengapa kita percaya bahwa Tuhan ada, padahal begitu banyak penderitaan dan kejahatan terjadi di muka bumi ini?”. Karena kalau saya jabarkan di sini malah jadi copy paste pelajaran slide presentasi Dosen saya, maka -mohon maaf sekali kalau jadi bias- saya cuma bisa menggarisbawahi satu hal yang cukup penting, bahwa tergantung kita memaknai ’penderitaan’ yang kita alami itu, karena penderitaan hanya sekedar ilusi, tabir semata, atau topengnya saja. Di balik topeng itu ada apa, harus kita pahami lebih dalam lagi. Begitu juga dengan gamparan tadi. Gamparan tadi hanya di permukaan saja, tapi makna gamparan tersebut sebaiknya dicari makna lebihnya, siapa tahu tersimpan maksud baik seseorang yang digunakan untuk kebaikan kita sendiri.

 

 

Biar gak bias, gimana kalau ada yang ‘gak enak’ dikasih comment aja? Thanks!