The Water Horse

Kemarin baru aja nonton Water Horse di Blitz Grand Indonesia bersama Fida. Sekalian bikin BlitzCard, langsung dipake, pas lagi ada diskon, jadinya yang seharusnya Rp60.000,00, cuma bayar Rp50.000,00. Hehehe. Tertarik nonton ini karena comment di poster film ini yang bilang kalau film ini bagus di jenisnya, setelah E.T. Bikin penasaran, kan? Dan studionya juga yang bikin Narnia. Jadi yaa…

Ini film bercerita tentang seorang anak kecil bernama Angus MacMarrow yang tinggal bersama Ibu dan Kakak perempuannya. Ayahnya adalah seorang angkatan laut yang kapalnya tenggelam, karena cerita ini berlatar di masa Perang Dunia II. Angus memiliki kesan dan kenangan yang kuat bersama ayahnya ketika ia masih kecil. Dan harapan besar bahwa ayahnya akan kembali kelak, membuatnya masih tidak percaya bahwa ayahnya telah tenggelam bersama kapalnya dan tidak mungkin pulang menemuinya.

Kepergian sang ayah telah menghilangkan keceriaan Angus. Namun, ketika ia diajak ibunya ke tepi danau sebagai usaha menyenangkannya, tanpa sengaja ia menemukan sebuah benda yang bulat sedikit lonjong yang permukaannya telah tertutup lumut dan kerang. Ia pun membawanya pulang, ke ruang kerja ayahnya yang telah menjadi ‘basecamp’nya. Dan tanpa ia perkirakan, benda unik tersebut membawanya kepada sebuah kejadian-kejadian seru, haru, dan memberikan berbagai macam makna baru dalam kehidupannya dengan sebuah makhluk..

Satu hal yang luar biasa adalah setting pemandangan yang mampu ditangkap kamera dengan angle ciamik! Kalau dari ceritanya sih, itu di Skotlandia. WOW! Emang film luar negeri tuh bikin sirik, ga perlu punya alur cerita menarik, gambar pemandangannya aja udah bikin decakan kagum. And i love the accent! Kentel banget aksen Inggrisnya. Hehehe..

Alur ceritanya bagus. Karena di awal-awal, gw sempet terbawa dengan suasana hororistik gitu. Menegangkan pada mulanya, makin ke belakang makin dramatis. Tergolong biasa sih, karena udah cukup banyak film kayak gini, tapi film ini berhasil menawarkan alur dan cara bercerita yang sedikit berbeda, meski gw sedikit-sedikit bisa menebak. Yang gw salut adalah suatu hal seperti makhluk Water Horse ini bisa dikaitkan dan menghasilkan masalah dengan Perang Dunia II. Hal ini terdapat di adegan ketika si Crusoe, accidentaly, ditembakkan dengan senjata canggih para tentara itu untuk menghadapi kapal selam Jerman. Gw mikirnya, si Crusoe bakal bermasalah dengan warga sekitar atau apa, tapi ini masalahnya justru sama tentara-tentara.

Yang menarik lagi, pas awal-awal cerita, kan film ini gaya penceritaannya flashback gitu, pas si cowok merasa bahwa foto monsternya palsu, terus si bapak tua yang ternyata Angus itu bilang, bahwa dibalik foto itu banyak cerita. Dan ternyata emang bener bahwa foto monsternya palsu, tapi si monster beneran ada. Itu lucu aja buat gw dan ga ketebak, bukan alur yang seperti biasanya.

Sayangnya, walaupun ini film drama, cuma unsur dramatisnya agak kurang aja. Mungkin karena wajah si aktor utamanya yang emang kurang maksimal ekspresi ketika dia harus berpisah, harus kehilangan, dan waktu si Crusoe jadi liar gara-gara ditembakin bom. Aktingnya lumayan sih, tapi kurang aja. Gw ga nangis terharu, seperti gw nangis gila-gilaan waktu nonton E.T. Ending film ini ngingetin gw sama Free Willy dan adegan perpisahan waktu pertama kali si Crusoe dilepas ke danau, ngingetin gw sama Air Bud.

Seru juga, sih. Apalagi adegan ketika menyembunyikan si Crusoe namun berhasil ketauan si kakak sama si tukang tapi harus diumpetin dari ibunya, dan waktu si Crusoe dikejar-kejar sama si Churchill, anjing beleguk. Banyak juga adegan lucunya, meski a little bit non-sense. Kayak waktu si Crusoe pura-pura jadi patung buat menghindar dari kejaran si anjing. Terus, waktu si Angus naik ke badannya Crusoe, masa dia bisa ada di dalem air segitu lamanya. Ga mungkin. Alur film ini juga banyak ‘missunderstanding’nya. Dan ke’missunderstanding’an juga menjadi hal yang mempengaruhi alur cukup besar.

Overall, film ini lebih berhasil dalam menciptakan suasana tegang dibandingkan dramatis. Adegan yang gw suka adalah ketika si Ibu mulai emosi dan marah. Alurnya oke deh. Bumbu-bumbu filmnya juga mantap, dengan bumbu wajib tentunya, yaitu bumbu-bumbu cinta. Pada akhirnya, gw menangkap bahwa film ini sebenernya mengangkat perasaan ‘kehilangan’ dan rasa ketika kita menemukan sesuatu untuk mengusir rasa ‘kehilangan’ itu. Bahwa ‘kehilangan’ itu muncul ketika kita begitu kuat memiliki kenangan dengan seseorang yang ‘hilang’ dan kita terlalu egois untuk mengekangnya begitu kuat di dalam kepala kita.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s