Pameran Sejarah Bioskop Indonesia

Galeri Cipta III TIM, 14-31 Maret 2008

 

Mulai tanggal 14 Maret kemarin, meja kineforum yang biasanya nampang di depan pintu bioskop TIM 21, sekarang udah bergeser ke depan Galeri Cipta III yang jaraknya emang ga jauh-jauh banget. Kenapa?

Soalnya, di tanggal itu, acara tambahan kineforum dalam Bulan Film Nasional 2008 yaitu Pameran Sejarah Bioskop Indonesia, dimulai. Di pameran ini, kita bakal disediain sofa yang sangat sangat empuk –tapi cuma muat 2-3 orang-, buat ngeliat slide show foto-foto yang berbau bioskop. Ada foto-foto gambar bioskop jaman dulu (fotonya masih item-putih), foto-foto iklan atau publikasi pertunjukkan bioskop tahun kapan tau, yang bahasa persuasifnya lucu karena so old style, ada juga foto-foto bioskop-bioskop alternatif seperti kinoki di Jogja, Cinema Lovers Community di Purbalingga, kineforum, sama JIFFest (dari tahun ’99-’06).

p1210162.jpg

Dari foto-foto ini, kita bisa tahu perkembangan bioskop di Indonesia serta fakta-fakta yang bikin kita ngerasa surprised. Apalagi kalau lo melihat fotonya dengan cukup cermat dan berulang-ulang, karena kita secara ga sengaja bakal ngeliat papan harga bioskop tahun ’91. Terus kita jadi comparing, bahwa meski harga tiketnya lebih murah dari harga sekarang, tapi untuk masa itu, tiket segitu tuh ga tergolong murah. Kalau gw sendiri, waktu ngeliat slide show yang ada tulisan NoMat, gw tiba-tiba jadi mengingat-ngingat kapan pertama kali ada NoMat, ya? Karena menurut gw, NoMat itu pernah jadi fenomena sendiri di dunia tonton-menonton dan fenomena ini termasuk faktor yang bikin orang-orang jadi demen nonton film sekarang ini.

Eits, jangan dipikir pamerannya cuma acara slide show doang, karena lo akan makin dibuat terkejut bahkan berpikir bahwa elo tak habis pikir kalau sebuah tempat yang dinamakan bioskop punya sejarah dan kejadian-kejadian menarik selama ia mengalami proses menjadi sejarah itu sendiri, lewat tulisan-tulisan yang dipajang di dinding dan disorot lampu.

p1210212.jpg 

Dimulai dari pengantar “Setelah 100 Tahun..” yang menceritakan perjalanan bioskop secara umum. Kemudian pengertian bioskop dari Kamus Besar Bahasa Indonesia. Setelah itu dilanjutkan dengan penggambaran bioskop dari waktu ke waktu lewat penjelasan kondisi masyarakat di masing-masing masa sebagai yang empunya cerita. Penggambaran itu terwujud dari kutipan-kutipan di buku, artikel surat kabar dan majalah, juga dari blog maupun website. Kita jadi tahu, bahwa bioskop di tahun 1900an, punya kelas-kelas penonton, bahkan ada sebutan kelas kambing. Juga dapat kita ketahui, kenapa pertunjukkan film saat itu pada umumnya dimulai pukul 7 malam. Selain itu, perbedaan kehidupan masyarakat Indonesia ketika masih di bawah tangan Belanda dan di bawah tangan Jepang turut mempengaruhi ‘sistem’ perbioskopan, terutama tentang pemilik dan penonton bioskop. Jika saat penjajahan Belanda gap antara penjajah dan pribumi begitu dijaga agar terus ada dan orang-orang Cina justru mendominasi usaha bioskop, maka saat penjajahan Jepang, kursi yang disediakan untuk golongan pribumi sekitar 50% dan sama sekali tidak ada orang Cina yang menjadi pemilik Bioskop. Banyak lagi cerita-cerita seru tentang bioskop di Indonesia, juga masalah-masalah terutama kontroversi kebijakan-kebijakan pemerintah untuk film yang ternyata dari dulu sampai sekarang masih menjadi bahan pembicaraan untuk dicari solusinya.

Setelah berkeliling, membaca, menyaksikan slide show, sambil diiringi lagu-lagu andalan film Badai Pasti Berlalu, Berbagi Suami, dan Get Married (ketiga film tersebut diputar di kineforum dalam Bulan Film Nasional 2008 ini), kita juga dikasih kesempatan untuk menuangkan pengertian bioskop versi kita sendiri di sebuah bentangan kertas yang ditempel di dinding, yang mungkin akan menjadi sebuah bukti sejarah di masa depan tentang makna bioskop bagi masyarakat di masa ini. Setelah itu, kita bisa ikutan nonton di kineforum atau pulang sambil asyik berdecak kagum bahwa perjalanan bioskop di Indonesia bisa sampai segitunya..

p1210120.jpgp1210125.jpg

Iklan

2 comments

  1. zulfa · Juni 9, 2008

    Saya ingin bioskop hidup kembali diseluruh tanah air. Karena ia akan membangkitkan ekonomi nasional sangat dahsyat.

  2. laudya · Mei 17, 2009

    Satu hal yg saya ingin tanyakan. Kenapa ya di dalam gedung bioskop di negeri kita Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris dr pada bahasa Indonesia itu sendiri padahal mayoritas penontonnya orang Indonesia? Sebagai contoh; tulisan pada tiket bioskop menggunakan bhs. Inggris tanpa ada bhs. Indonesia sama sekali, tulisan2 peringatan yg terpampang di depan pintu masuk seperti “No food&drinks” “No smoking” atau tulisan di dalam gedungnya “Exit”. Sebenarnya bagaimana sejarah terbentuknya bioskop di Indonesia itu sendiri?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s