Semakin Tua, Tak Takut Kata Mati

 

actually, it’s written on April 14th.

 

Hari Minggu kemarin, gw ga bikin janji ama siapa-siapa, karena Nenek gw berencana mau menjenguk saudara gw yang lagi sakit, yang seumuran sama nenek gw. Tapi, berhubung di rumah ga ada yang jagain nyokap, jadinya gw lebih milih nungguin nyokap daripada ikut pergi. Tapi, kemudian gw tau, bahwa kedua tante gw ga jadi ikut, sehingga jadilah gw yang pergi sama Nenek gw beserta tante gw yang satu lagi dan suaminya.

 

Saudara yang mau gw jenguk ini, gw manggilnya Opo. Kalau secara silsilah, mungkin beliau ini adik atau sepupunya Nenek gw. Gw juga ga tau, males nanya pula. Waktu gw kecil, dan waktu beliau masih bugar dan lebih muda, beliau selalu sumringah dan gemes banget sama gw. Seinget gw, beliau ga bosen dan ga henti-hentinya nyiumin gw. Tapi begitu kemarin gw masuk ke rumahnya dan menemuinya yang sedang duduk di bangku ruang tamu, gw cuma pengen nangis..

 

Untung gw bisa nahan air mata gw dan ga jadi nangis. Beliau bener-bener kurus kering dengan kulit-kulitnya yang sudah mengeriput dan pandangannya yang memelas tapi masih mencoba menyambut kami dengan apa yang bisa ia lakukan untuk bersikap sopan kepada tamu. Sepertinya beliau menahan sakit dan kakinya tidak bisa digerakkan. Suaminya, yang tentunya juga sudah setua beliau, masih bisa berjalan dan menyodorkan bangku buat gw duduk. Tapi dia nggak.

 

Pas gw dateng, beliau sedang makan. Melihat gw datang, kesumringahan yang dulu seringkali beliau persembahkan ke gw, udah luntur dengan anggukan-anggukan biasa. Ga ada ciuman-ciuman sayang ke kepala gw atau ke pipi gw. Beliau cuma bisa mengangguk, tanda bahwa beliau senang dengan kehadiran kami. Di ketidakmampuan beliau untuk bergerak ke sana ke mari, beliau masih memikirkan untuk menuangkan air minum di gelas untuk kami. Ga henti-hentinya beliau tampak merasa tidak enak karena tidak bisa menyuguhkan apapun. Suami beliau, yang indra pendengarannya sudah tidak tajam, begitu pula indra penglihatannya, tidak terlalu memperhatikan apa yang ia maksudkan. Tapi kami memang tidak ingin apa-apa untuk disuguhkan.

 

Ketika suami beliau bercerita bahwa pendengarannya sudah tidak tajam, beliau sempat berkata, “Kalau udah tua, kita mah udah ga takut mati, deh. Kalau pulang mah pulang aja. Udah ga takut mati, yang kita takutin cuma deritanya aja (maksudnya kalau ada rasa sakit yang harus dirasakan)”. Gw cuma bisa diem. Gw teringat dengan dialog yang dilontarkan nenek-nenek pemilik villa yang di film My Girl and I, salah satu drama Korea. Nenek-nenek itu bilang hal yang secara makna sama persis dengan yang saudara gw bilang itu, bahwa kalau udah tua, emang mendingan mati, karena fungsi-fungsi organ kita udah berkurang.

 

Is it true? Bahwa semakin kita tua, kita emang udah siap banget buat dipanggil sewaktu-waktu? Gw sendiri ga tau ya, tapi gw salut sama orang-orang tua dan tentunya orang tua kita. Gw percaya, orang tua itu luar biasa. Menjadi orang tua itu luar biasa. Dan menjadi tua itu sebuah masa yang akan setiap manusia alami dan tahap menuju kehidupan yang abadi. Mengingat itu semua, membuat gw berpikir bahwa sebagai manusia yang sekarang masih diberi kesempatan bernapas, gw harus bisa memuliakan kehidupan..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s