Der müde Tod / Destiny / Takdir

Malam 14 Mei 2008 membuat saya kembali mengunjungi Gedung Kesenian Jakarta setelah sekian lama acara-acara yang saya hadiri disajikan di tempat lain. Saya sampai lupa, kapan terakhir kali saya menempatkan diri saya duduk di bangku gedung tersebut untuk menikmati pertunjukkan. Kalau tidak salah, ketika saya menyaksikkan pertunjukkan duet N. Riantiarno dan Ratna Riantiarno dalam lakon Tanda Cinta. Tapi, bukan sekedar 14 Mei yang membawa saya kesana, tetapi apa yang akan saya saksikan.

 

Der müde Tod dalam bahasa Jerman. Destiny dalam bahasa Inggris. Takdir dalam bahasa Indonesia. Ketiga susunan kata yang berbeda tapi bermakna sama ini merupakan judul film karya Fritz Lang, sutradara kelahiran Wina yang telah menghasilkan film-film bisu Jerman. Dan film Takdir ini pun merupakan film bisu yang diproduksi di tahun 1921. Malam 14 Mei 2008 ini tidak hanya menyuguhkan film bisu, tetapi juga menghadirkan Hanoi Philharmonic Orchestra, dengan dirigen dan komposer Pierre Oser dari Jerman yang turut menjadi pengiring musik dalam film ini. Sehingga penyelenggara menyebut acara ini sebagai konser film bisu. Gabungan musik secara live dan film yang bisu. Menarik.

 

Ketika acara dibuka dengan sedikit paparan mengenai acara pada malam 14 Mei 2008, sudah memberikan kesan tersendiri untuk saya, karena selain beberapa orang yang saya kenal dan satu lelaki tampan ada di sana, juga karena pembawa acara malam itu menyampaikan pembukaan dengan tiga bahasa. Sehingga, sesi pembukaan yang sebenarnya singkat, menjadi sedikit lebih panjang. Tapi tak berhenti membuat saya tersenyum (karena pagi tadi, saya baru saja ujian sekolah mata pelajaran bahasa Jerman).

 

 

The Film

 

Satu frase untuk filmnya adalah LUAR BIASA! Kenapa? Terlepas dari kekaguman saya bahwa di tahun 1921 sudah tercipta film yang seperti itu, film ini memang memiliki kualitas cerita dan penyampaian yang menarik.

 

Bercerita tentang seorang wanita yang tidak rela kekasihnya dijemput sang Maut, yang di film ini ditampilkan dengan sosok manusia. Ia pun memohon pada Maut untuk mengembalikan kekasihnya, karena ia tidak mampu hidup tanpa kekasihnya itu. Maut pun memberikannya kesempatan untuk mendapatkan kembali kekasihnya dalam keadaan hidup karena wanita itu menantang kekuatan sang Maut dengan cinta mereka berdua.

 

Film ini menarik dari rangkaian simbol-simbol yang mengagumkan, tatanan dekorasi dan setting yang menarik dan sangat sesuai dengan cerita, serta alur yang dikemas begitu luar biasa sehingga saya pribadi ingin terus menyaksikan film ini sampai akhir. Ditambah lagi beberapa dialog dan adegan yang bercitarasa romantisme untuk memperkuat alur dan puitis. Bukan sekedar film yang menggambarkan perjuangan cinta antara dua insan manusia, tapi juga mengenai kehidupan. Karakter tokoh yang ditampilkan tidak setengah-setengah, melainkan menyeluruh, dari fisik, gerak tubuh, sampai watak. Teknik pengambilan gambar, terutama dalam komposisi, juga sangat ciamik!

 

Interpretasi pembuat film mengenai kematian dan cinta cukup tergambarkan di film ini. Pesan-pesan yang disampaikan dapat digolongkan pesan-pesan yang religius. Ada pula bumbu-bumbu komedi yang disisipkan dalam film ini. Karena jujur saja, pemilihan alur dan penciptaan latar, dekorasi, serta kostum yang mendukung alur tersebut sudah bisa memancing tawa. Dan di film ini juga ada beberapa adegan yang menyangkut perihal budaya, sehingga makin menarik! Sekilas, film ini mengingatkan saya pada salah satu film Ingmar Bergman, sutradara Swedia yang berjudul The Seventh Seals. Juga sedikit sosok Charlie Chaplin dan potongan Romeo and Juliet.

 

The Music

 

Mungkin saya sudah tertidur jika Hanoi Philharmonic Orchestra dan bung Pierre Oser tidak mengiringi film bisu tersebut. Karena jujur saja, telah beberapa kali saya menguap, meski film itu teramat bagus untuk disaksikan. Sekali film bisu, tetaplah film bisu. Dan music orchestra adalah susunan harmoni yang mampu melelapkan seorang pendengar, terutama seperti saya.

 

Saya salut. Karena Hanoi Philharmonic Orchestra plus Pierre Oser bisa mengiringi film tersebut dari awal hingga tulisan The End muncul. Dan ditambah lagi perlunya kesesuaian musik dengan tiap adegan dan mereka berhasil melakukannya dengan baik. HEBAT!!

 

Not much to tell about the music, but it’s nice. Terkadang saya tidak menyadari bahwa musik yang mengiringi filmnya adalah LIVE. Mungkin karena volumenya yang cukup besar dan permainan yang begitu halus dan tepat sesuai adegan, sehingga mata dan telinga saya sangat puas mendapatkan sesuatu yang indah dan baik dalam menjalankan fungsinya.

 

Overall, this is an amazing show, and you should come to the event!! WAJIB! For info, you can call 021-23550208, extension 100. Tanggal 15 Mei 2008 adalah hari terakhir acara ini berlangsung di Gedung Kesenian Jakarta. Selain di Jakarta, acara ini juga diadakan di Taman Budaya Bandung pada tanggal 17 Mei 2008 pukul 20.00 dan Taman Budaya Yogyakarta, Gedung Sociteit pada tanggal 21 Mei 2008 di jam yang sama.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s