Sengaja Tuli

 

Gw ga tau, berapa banyak anak sekolah di Jakarta ini yang punya mp3 atau mp4 atau ipod atau HP yang bisa buat dengerin lagu atau radio. Gw ga tau, berapa banyak anak sekolah di Jakarta ini yang berangkat dan pulang sekolah, ataupun kalau pergi keluar rumah, masih naik angkutan umum. Dan gw ga tau, berapa banyak anak sekolah di Jakarta ini yang punya alat untuk mendengarkan lagu atau radio sebesar genggaman tangan, dan dia masih menggunakan jasa angkutan umum untuk berpergian. Gw sendiri adalah salah satu dari kategori yang ketiga. Yap, gw adalah penikmat angkutan umum yang punya mp3 untuk mendengarkan lagu-lagu.

 

Tadinya gw ga kepengen punya MP3 atau apapun yang bisa membuat gw mendengarkan lagu di tengah jalan. Kalo ga salah, alasannya adalah mendengarkan musik bisa di rumah dan ngedownload lagu kan ga sebentar, perlu internet yang speednya cepet, dsb. Intinya, ribet, dehh! Lagian, kalau punya MP3, CD-CD yang selama ini udah gw beli, jadi sia-sia karena akan jarang diputer. Tapi semua temen di sekitar gw pada punya ipod atau HP yang bisa dengerin musik. Terus, gw suka minjemin punya mereka. Kan ga enak minjem mulu, akhirnya, karena waktu itu lagi ada duit, beli deh MP3 yang 300ribuan. Alhamdulillah.

 

Setelah gw punya MP3 itu, gw baru sadar kalau gw lupa bahwa gw adalah pengguna angkutan umum untuk bepergian, tidak seperti teman-teman gw yang menggunakan kendaraan pribadi. Masalahnya bukan pada punya ga punya mobil pribadi. Tapi gini, gw mikir, kalau gw dengerin MP3 di bus umum atau di kendaraan umum lainnya, gw jadi tidak mendengarkan pengamen-pengamen yang menjual suaranya plus ocehan-ocehannya untuk membuat gw merogoh 5ratusan dari kantong gw dan memasukannya ke amplop yang telah mereka sediakan. Kasarnya, gw sengaja membuat tuli telinga gw terhadap suara-suara merdu kehidupan yang nyata. Bukan cuma jadi sengaja tuli, gw juga jadi memanjakan keegoisan diri gw, karena gw sibuk dengan diri gw dan lagu yang gw dengar, jadi berhenti memperhatikan sekitar. Padahal, kendaraan umum merupakan salah satu ruang pertemuan masyarakat, dan memperhatikan sekitar itu kan sesuatu yang menyenangkan, bukan?

 

Sebenernya emang ini bukan masalah besar, sih. Tapi kalau emang bisa jadi saksi atas hal-hal nyata yang terjadi sehari-hari di sekitar kita, kenapa harus dilewatkan hanya untuk mendengarkan lagu yang bisa kita dengar di lain waktu? It makes me think, kayaknya teknologi emang bikin manusia maunya melampaui yang jauh-jauh, sehingga yang deket-deket jadi kayak udah ga ada artinya. Teknologi bikin kita makin sibuk sama diri kita sendiri, sehingga orang lain di sekitar kita jadi urusan nanti deh..

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s