Laskar Pelangi

 

Pentingkah mengenyam pendidikan dalam sebuah institusi yang kita sebut sekolah? Apakah sekolah itu? Yang menuntut kita untuk memakai seragam dan memakai kalkulator, kah? Atau tempat kita belajar bagaimana menjalani hidup dalam kesederhanaan namun mulia?

Sebagian besar masyarakat tentu sudah tahu bahwa film ini diadaptasi dari sebuah buku bestseller dengan judul yang sama, karangan Andrea Hirata. Bercerita tentang perjuangan menggapai cita-cita. Perjuangan anak-anak Belitong yang tidak punya biaya untuk sekolah di PN Timah, untuk tetap bisa mendapatkan ilmu di SD Muhammadiyah, di mana sekolah tersebut seringkali hendak ditutup. Perjuangan Pak Herfan agar SD Muhammadiyah tetap terus ada dan memberi sebanyak-banyaknya pada anak-anak yang sekolah di sana. Perjuangan Bu Muslimah untuk menjadi seorang guru dan bisa melihat anak-anak muridnya menjadi manusia yang berguna. Juga perjuangan beberapa anak tertentu dalam menghadapi sekian problematika, dari yang sederhana sampai yang kompleks.

Sayangnya, film Laskar Pelangi tidak sedahsyat bukunya, meski tetap sedikit inspiratif. Penggambaran dan penceritaan beberapa scene seakan terlalu cepat, sehingga terasa kurang mantap. Meskipun berhasil membuat beberapa orang menitikkan air mata, namun hanya pada adegan-adegan yang menyedihkan, seperti kematian beberapa peran penting di film ini. Kecemasan menunggu satu orang lagi agar sekolah bisa berjalan, kurang melarutkan emosi penonton. Kehadiran Harun sebagai anak luar biasa yang menjadi ‘penyelamat’ terasa terlalu cepat, sehingga belum puas merasakan keluarbiasaan akan hadirnya Harun, sudah dipindah ke adegan lain. Perjuangan Lintang yang harus menempuh jarak jauh, digambarkan sekedar begitu saja.

Alurnya biasa saja, berjalan mulus dan lancar tanpa mempermainkan emosi naik turun secara dalam. Tapi di beberapa adegan menjadi menarik karena gaya bercerita yang menarik pula. Seperti ketika Ikal jatuh cinta pada gadis pemberi kapur, adegan Mahar bernyanyi Bunga Seroja yang seakan menyisipkan video klip singkat, juga beberapa dialog yang memancing tawa lainnya.

Salut untuk akting semua pemain. Terutama Cut Mini yang tampil ciamik dengan logat Belitong yang kental dan sebagai seorang guru yang gigih, namun bisa rapuh juga. Aktor yang lainnya menyeimbangi aktingnya, sehingga tercipta suasana bahwa mereka memang orang-orang Belitong. Kedua belas anak Laskar Pelangi sendiri bermain baik, meski kadang masih terasa mereka sedang berakting. Slamet Rahardjo masih bermain prima dan khas. Yang sedikit mengecewakan adalah Tora Sudiro, karena dari logat saja dia kelihatan tidak menguasai, dibanding aktor yang lainnya.

Sinematografi film ini menarik. Penonton dimanjakan dengan gambar-gambar indah nan menawan, dari angle yang menarik pula. Apalagi saat menggambarkan keindahan kota Belitong yang bisa membuat penonton terkagum-kagum akan keluarbiasaan pemandangan di kota tersebut.

Film ini layak untuk ditonton karena bisa digunakan sebagai motivasi buat para generasi muda yang saat ini semakin enggan untuk belajar atau datang ke sekolah. Selain itu, bercerita pula tentang daerah Indonesia yang kaya namun hasilnya malah dieksploitasi pihak luar.

Iklan

One comment

  1. cupu2writer · September 28, 2008

    gw udah nonton tu pilem,,malah pas tgl 25 sept,,
    hehehe
    eh btw anak ilkom ga ada yang ngasih tau ttg buka bareng pas hari kamis itu yah???

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s