Lokakarya Festival Film Pendek Konfiden 2008

Festival Film Pendek Konfiden kembali lagi. Dengan 18 film di dalamnya yang menimbulkan pertanyaan besar, dengan kesederhanaannya kali ini, dan dengan lokakaryanya. Saya pun akan menulis sesuatu yang cenderung menyimpulkan hasil dari lokakarya yang berlangsung selama empat hari, dari tanggal 10 November 2008 sampai kemarin, 13 November 2008. Ditutup dengan pemberian penghargaan untuk Edwin dengan Hulahoop Soundings dan Ariani Darmawan untuk Sugiharti Halim (further info : konfiden.or.id).

Dalam empat hari lokakarya, ada hal khusus yang dibahas setiap harinya. Teknis Proyeksionis, Akustik Ruangan, Manajemen Pemutaran Film, dan Tentang Penonton. Dari ke semua tema itu, memang lebih banyak sharing mengenai pemutaran di tempat masing-masing peserta. Ada yang dari JKFB (Banyumas), CLC (Purbalingga), F2PB (Bandung), kineforum (Jakarta), in-docs (Jakarta), Boemboe (Jakarta). Dari sharing-sharing ini, lebih banyak lagi ngebahas tentang permasalahan yang pernah ditemui. Terlepas dari permasalahan dan teknis yang dibicarakan, kesimpulan saya justru mengarah kepada pertanyaan, di mana posisi ekshibisi film pendek di tengah masyarakat kini?

Dari perbincangan teman-teman dari komunitas lain tampak sekali bahwa masih ada (cenderung banyak) yang merendahkan ekshibisi film-film pendek Indonesia. Entah itu masyarakatnya, pemerintah terutama pemerintah daerah, bahkan pembuat film sendiri. Seperti kisah teman-teman dari CLC yang kena urusan di sana sini ketika mereka menyelenggarakan Purbalingga Film Festival 2008. Atau kineforum yang mungkin penontonnya cenderung yang itu-itu aja dan sebagainya. Padahal ekshibisi ini merupakan hal yang tidak kalah penting dibanding proses produksi.

Kenapa ini menjadi penting? Jelas, agar sebuah film bisa diapresiasi, -at least- ditonton. Kemudian, pembuat film bisa mendapatkan feedback dari para penontonnya. Para penonton bisa mendapatkan sesuatu, entah itu hiburan, bahan pemikiran dan perbincangan, dan sebagainya. Atau justru momen bertemunya komunitas-komunitas film yang (semoga boleh saya sebut) independen. Kemudian yang menurut saya menjadi masalah adalah ketika para ekshibitor ini tidak memiliki suatu standar yang disepakati bersama tentang kondisi ideal sebuah pemutaran, terutama pemutaran film-film (yang lagi-lagi jika saya boleh sebut) independen atau non-mainstream atau alternatif atau apapun kata yang bisa mewakilinya.

Saya pun merasa bahwa hal tersebut yang menjadi tujuan yang hendak dicapai lokakarya ini. Waktu untuk mengajak siapapun yang terlibat dalam ‘industri film pendek’ ini untuk duduk bareng merumuskan kesepakatan bersama dan tentunya meningkatkan kerjasama. Karena menurut saya pribadi, ‘industri’ ini akan sangan rentan bahkan riskan untuk tiba-tiba hilang dari peredaran. Sehingga, dengan adanya kerjasama tersebut, bersama meminimalisir kerentanan tersebut dan memperkokoh keberadaan film pendek di Indonesia.

 

Murni pendapat dan analisa pribadi, mohon diperbaiki atau dikabari kalau ada kesalahan. Terima kasih :D

Iklan

2 comments

  1. dunianatasha · November 17, 2008

    jadi pengen nonton di kineforuum
    huuh…
    dari serpong naek apa jeeeuungg??

    heheheheuuuuu……

  2. ahsan andrian · November 17, 2008

    sesuai dengan tema konfiden taun ini, filmmu = film kita, maka sudah selayaknya sebagai penyelenggara pemutaraan film memperlakukan film-film yang diputarnya seperti memutar filmnya sendiri. berusaha meraih pencapaian tertinggi!.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s