Ema..

Tulisanku ini bukan ingin menyama-nyamakan dengan judul karya Daoed Joesof yang berjudul Emak. Ini kuberi judul Ema, sebuah kata yang biasa kupakai untuk memanggil nenekku, mamanya mamaku.

 

Setelah aku pernah bercerita tentang bagaimana keikhlasan tante-tanteku untuk menjaga nenekku, kali ini aku akan bercerita lagi tentang hal tersebut. Mungkin lebih mendalam, mungkin sama saja. Tapi ini tentang keikhlasan, tentang cinta yang Filia. Bukan hanya dari orang tua ke anak, namun dari anak ke orang tua. Tentang perasaan-perasaan takut ditinggalkan, di keadaan yang seakan mengkondisikan ujung kehidupan.

 

Kondisi Ema semakin ke sini semakin tidak bisa dijelaskan. Jika dulu masih bisa melakukan segalanya sendiri, masih bisa diajak ngobrol dan bercerita, masih bisa bersenda gurau denganku, cucunya, maka ia sempat berada di kondisi hanya bisa diam dan tidur. Tidak bisa ke kamar mandi lagi, bahkan dengan menggunakan kursi roda. Jadi, pipislah ia di pampersnya, sambil terus berbaring di tempat tidur. Wajahnya tampak lelah dan kesulitan untuk berbicara. Sehingga suasana rumah sempat penuh dengan kebisuan.

 

Saat ini, Ema masih bisa meledekku dengan julukan “si Anak Nakal”. Tapi ingatannya mulai memudar. Setiap aku menemuinya, aku harus menanyakan pertanyaan yang cukup membuat hatiku miris karena aku tak percaya bahwa aku harus menanyakan pertanyaan ini, “Aku siapa, Ma?”. Tidak terlalu mengiris jika Ema menjawab, “Sekar”. Tapi mendorong sel-sel sensoriku untuk melakukan perilaku kolektif berteriak kepada otakku untuk meneteskan air mata, ketika ia menggeleng tanda ia tidak mengenaliku. Pernah juga dia lupa, aku ini kuliah tingkat berapa. Atau ketika aku mau pamit untuk kembali ke Dormitory di hari Minggu, dia akan sedikit bingung aku mau pergi kemana.

 

Di satu kondisi ia bisa tertawa, bercanda atas apa yang aku katakan. Saat itu aku merasa senang sesenang-senangnya seorang cucu, seperti ketika kecil aku senang menyaksikan abang gulali memutarkan batang kayu mengikuti rangkaian gulali. Senang, karena segala kekhawatiran dan segala ketakutan akan hal-hal yang rentan untuk dibayangkan, menghilang untuk sementara. Senang, karena kami masih bisa berbicara apa adanya, bercerita dengan bersahaja, dan sebagainya.

 

Di kondisi yang lain, ia membuatku tak sanggup untuk berada di dekatnya karena aku bisa menangis terus-menerus. Ia seakan tak bisa lepas dari tanteku, yakni anak-anaknya (karena mamaku sakit, jadi yang ngurus Ema, lebih banyak tante-tanteku). Tante-tanteku mesti 24 jam stand by di sebelahnya. Tangannya tak bisa tak digenggam. Kakinya tak bisa tak diusap-usap. Kalau ia ditinggal semenit saja, ia bisa merasa sedih. Ya, sedih. Sedih yang kemudian menimbulkan rasa marah. Ema bisa marah pada tanteku, “Udah, gak usah ngurusin aku. Biarin aja. Aku gak usah diurusin.” Kalau kemudian tanteku mencoba meraih tangannya, dia akan berbalik, kemudian mengambil tissue yang ada di dekatnya lalu mengusapkan tissue tersebut di area matanya. Ia menangis.

 

Ia takut ditinggal. Ia takut sendirian.

Atau ketika ditanya, “Kenapa, Ma? Mau apa?”. Dia bisa dengan cepat dan jelas menjawab, “Mau mati.”. Kalau dia udah bicara begitu, semua bagian tubuhku seperti gak nyaman dengan posisinya. Seperti mata mau berpindah ke bawah dan perut mau berpindah ke atas.

 

Ema, aku sayang sama Ema. Hanya bisa sesederhana itu aku mengucapkannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s