Talking About Death

Ketika saya masih menjadi siswi Taman Kanak-kanak, ayah dari ayah saya meninggal. Meninggal di rumah saya. Saat beliau sudah dikafani, saya disuruh menciumnya. Tapi saya tidak mau, saya takut. Ketika di pemakaman, saya malah berlari-larian kemana-mana, dan cuma mengincar untuk ikutan menabur bunga tanpa tahu maknanya. Lantas? Ya sudah, begitu saja.

Ketika saya duduk di kelas 1 SD, ayah dari ibu saya meninggal. Karena ayah ibu saya berasal dari kultur yang berbeda, maka proses setelah meninggal antara kakek saya yang satu dengan yang lain pun berbeda. Ketika kakek saya yang ini meninggal, sebelum dibakar, melewati ‘proses’ Rumah Duka terlebih dulu. Yang jadi hal menarik buat saya justru malah makan bubur sedap di Rumah Duka dan menginap di sana. Tapi saya bisa menangis, meski hanya karena melihat tante-tante saya menangis.

Waktu awal SMP, guru SD saya meninggal. Terpleset di kamar mandi saat ia pulang kampung ke tengah Jawa sana. Kami baru kenal dan dekat di akhir-akhir saya berada di SD. Namun, saya masih suka main-main ke SD saya itu. Waktu tahu beliau meninggal, perasaan saya hanya aneh. Dalam hati saya bergolak sebuah perasaan yang cuma saya dan Tuhan yang paham. Kemudia, entah ini suatu hal yang penting atau tidak, guru SD saya memberitahu, “Sebelum ini, dia sempet nanyain kamu lho, Mel..”.

Di masa-masa akhir SMP kemudian ada guru Matematika, yang digolongkan ‘killer’ dan menyebalkan, yang juga ibu dari salah satu siswa, meninggal. Apa yang terjadi? Semua teman-teman saya menyatakan penyesalannya, menyimpan rasa bersalah yang mungkin akan terus bertengger di hati mereka. Hampir semua melayat. Tapi saya tidak datang, karena saya tidak bisa dan karena mungkin saya tidak pernah diajar beliau (kalau saya boleh membuat pendalihan). Saya benar-benar tidak bisa membayangkan situasi perasaan orang-orang. Bagaimana rasanya, sosok yang setiap hari ada di sekitar anda, yang biasanya anda maki-maki karena pribadinya yang mengesalkan, tiba-tiba tidak ada. Bukan tidak ada yang sekedar berpindah tempat, bukan tidak ada yang sementara. Tapi tidak ada yang permanen, yang lenyap, yang hilang. Penjelasan yang sepadan hanya dapat anda capai lewat kata-kata, di sisi-Nya.

Di kelas X, yakni saat saya sudah pakai putih abu-abu, kurang lebih guru Biologi saya pernah bertanya, “Apa proses yang belum atau mungkin tak pernah bisa dijelaskan tentang manusia dalam Biologi?”. Saya mikir, atau mungkin sok-sok mikir. Kelahiran, ada penjelasannya. Pertumbuhan, ada penjelasannya. Tiba-tiba teman saya menjawab, “Kematian, Pak.” Ya. Guru saya mengiyakan. Dia bicara, sekelas diam.

Kelas XI, saya ngekost di dekat sekolah. Pulang ke rumah cuma akhir minggu. Terus ternyata ibu saya sakit, memilih berangkat kerja dari Kota, rumah nenek dan tante-tante saya. Akhirnya, saya lebih sering pulang ke Kota. Kemudian, ibu agak semakin lemah dan ‘parah’, sehingga ayah saya juga ikut hijrah ke Kota. Lama kelamaan, saya berhenti ngekost dan ikutan tinggal di Kota. Jadilah, kami bertiga sudah lama tidak menempati rumah kami yang sebenarnya ada di Bekasi. Karena rumah saya yang di Bekasi merupakan kompleks perumahan dan dekat dengan lapangan bermain, jadi saya punya teman sepermainan, meski secara kelas, saya paling tua. Tapi semakin umur kami bertambah, kami berpencar dan semakin jarang bertemu, apalagi bermain. Nah, tiba-tiba, waktu saya kelas XI, saya dapat berita bahwa salah satu teman bermain saya waktu kecil, terkena Leukimia, kalau saya tidak salah ingat. Pokoknya, dia mengidap penyakit yang ‘berat’. Pas idul fitri di tahun itu, saya sempat bertemu setelah sekian lamanya dan ia dalam keadaan terlihat sehat. Bisa tertawa dan sedikit berbincang-bincang. Kemudian berpisah lagi, sampai saya dapat kabar bahwa ia meninggal.

Mungkin otak saya berhenti bekerja. Atau mungkin peredaran darah saya tiba-tiba melambat. Atau mungkin waktu saja yang terasa berhenti mendadak. Saya tidak tahu. Lagi-lagi saya mengalami perasaan aneh dan tidak jelas itu. Saya mau tidak percaya, tapi kenyataannya membuat saya harus percaya. Saya mau membayangkan, tapi rasanya tidak sanggup membayangkan. Terlalu samar-samar. Terlalu di awang-awang. Tapi faktanya, ia benar-benar tidak ada. Dipanggil Tuhan, katanya.

Di jenjang perkuliahan, saya menemukan pemikiran yang mempertanyakan, bagaimana orang-orang Atheis merasionalkan atau menjelaskan proses kematian.

Hampir delapan belas tahun saya hidup, kata mati mengalami pemaknaan yang berbeda di otak saya. Ia berubah. Ia berkembang. Ia meluas. Atau mungkin justru menyempit. Bagaimana saya menghadapi kematian seseorang, menjadi berbeda di setiap jenjangnya. Kemudian, hal tersebut mempengaruhi bagaimana saya memandang hidup dan menjalani hidup saya. Di tambah lagi hal-hal belakangan ini yang terjadi, turut bermain peran.

Bukan hanya karena saya terlarut dalam cerpen Budi Darma yang berjudul Ny. Elberhart. Di mana, ketika beliau meninggal, namanya hanya sekedar tampil di Surat Kabar yang bahkan tidak semua orang lihat. Bagaimana rasanya, “ada lo gak ada lo, sama aja”. Tapi, lagi-lagi, kondisi ibu dan nenek saya yang sakit yang membuat saya belakangan ini seringkali memikirkan tentang ‘kehilangan’.

Apalagi kondisi ibu saya, khususnya, yang seakan sudah tidak bisa membedakan mana yang nyata dan mana yang di angannya. Mana yang sudah berlalu, mana yang masih berjalan. Teman saya bilang, “tawakal” saja. Sabar dan hadapi dengan kasih sayang. Tapi kemudian itu menjadi hal yang ‘annoying’. Saya suka lupa kalau saya harus sabar dan saya jadi sedih sendiri. Kalau sudah sedih sendiri, jadi suka memikirkan yang aneh-aneh.

Ibu saya pun seperti menjalani proses detachment sendiri. Dari penolakannya terhadap tawaran para keluarga kami agar dia berobat lagi. Kalau lagi emosi, bisa marah sendiri. Saya mensejajarkannya dengan situasi Soekarno dan Hitler ketika menjelang masa kejatuhannya. Merasa orang-orang sudah tidak ada yang mendukung lagi, merasa orang-orang sudah jalan sendiri-sendiri, merasa orang-orang sudah tidak menghargai keputusannya lagi.

Saya sedih. Saya takut. Saya bingung. Saya gundah. Saya gelisah. Saya resah.

Apa yang seharusnya seorang anak rasakan ketika melihat ibunya, yang dulu ceria, bersemangat, dan selalu mendampinginya, menjadi sosok yang lemah, kurus kering, selalu menempel di ranjang, hanya bisa guling kanan guling kiri, dan suka bicara ‘ngawur’?

Ya Allah, hilangkan segala rasa sakitnya, jagalah ia selalu dalam lindungan-Mu. Amin.

Iklan

9 comments

  1. jemarihaqi · Desember 29, 2008

    amin :)
    gue ikut mendoakan

    • amaliasekarjati · Januari 2, 2009

      thanks, sob!

  2. zy · Januari 1, 2009

    blog walkin :D

  3. zy · Januari 1, 2009

    eh, rasanya aku kenal kamu..kita pernah kenalan kann, sekaar! temannya negi..

    • amaliasekarjati · Januari 2, 2009

      iyaaa, ini temannya Negi.
      dan lo adalah si gadis yang suka buku Cantik Itu Luka, kan? :-)

      apa kaabaaaaar? thanks for visited this blog.
      hahaha, maybe you can give some comments about the writes :-)

  4. Nandaa kawaii · Januari 5, 2009

    Sekar sabar yaaa, aku ikut berduka cita

    • amaliasekarjati · Januari 9, 2009

      makasih, nandaaa :-)

  5. dunianatasha · Januari 7, 2009

    yang tabah ya Kar..
    btw,, loe blm update yang sheridan baca yaaa?

    mav gw gak sms loe, dan bicara sama loe bahwa turut berduka citaa
    cuz gua takut ga bisa ngontrol mimik wajah guaa..

    jadi gua ucapkan di blog aja yaa Kar..

    yang tabah ya…

    • amaliasekarjati · Januari 10, 2009

      makasih ya, tashaaa :-)
      iya, ini aku baru mau upload. kemarin mau upload di kampus, tapi lambreta mamiri kupasang.
      tasha, doain biar aku kuat yaa..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s