Digampar

Digampar. Dua hari ini saya kena gampar. Bukan gampar secara fisik, tapi secara mental. Mungkin terkesan berlebihan, tapi itu yang bisa saya katakan karena meskipun udah ikut kaderisasi organisasi berulang-ulang, ini mental kayak gak bisa berubah -atau gak mau. Ya, untuk informasi anda semua, saya adalah seseorang yang bermental nir-baja (mulai ketularan bahasa dosen saya). Alias lembek, lemah, amit-amit deh. Mencoba untuk menjadikan mental ini sekuat baja, meski untuk sementara, tapi kayaknya yang namanya sifat dasar tuh mental, tetep aja nir-baja.

Ditambah lagi, terjadinya miskomunikasi yang kayaknya gak akan bisa ‘clear’. Karena lantas miskomunikasinya sudah terlalu jauh, biasa perbincangan antara orang yang berlatar belakang pendidikan dan pengetahuan berbeda, maka saya lebih memilih prinsip, “sometimes things better left unsaid”. Lebih sakitnya lagi, saya adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Komunikasi yang sudah hampir menjalani masa UASnya, namun tetap saja masih mengalami miskomunikasi, yang menurut saya karena sifat saya yang impulsif satu itu.

Saya kesal. Saya marah. Saya BT. Yang jadinya kena imbas adalah orang-orang di sekitar saya (maaf ya, teman!). Tapi kemudian saya mencoba mencerna lagi dan mencoba menenangkan diri, “Tenang, Sekar. Tenang. Sometimes thing doesn’t go your way”. Ya, mungkin gamparan itu sebenarnya memang bertujuan baik untuk diri saya. Logika saya menerima itu. Tapi kenapa perasaan saya masih gak bisa terima, karena cuma masalah gamparan itu tidak diberikan kepada saya seperti apa yang saya harapkan.

Hmm. Lagi-lagi saya harus mengidentifikasikan diri saya dengan Wayne, tokoh di novel Olenka-nya Budi Darma. Si tokoh yang dideskripsikan sebagai korban pertentangan antara intuisi dan logika dan sudah selayaknya sering menabrak-nabrak kesulitan. Pathetic me. Hal tersebut membuat saya jadi bertanya-tanya, apa saya akan berhasil menjadi siswa Ilmu Komunikasi kalau hal ini terus-terusan teridentifikasi dengan tepat di diri saya? Bahkan di dalam alam bawah sadar saya. Fiuh. Seperti kata-kata yang saya gunakan menjadi tidak tepat karena saya menulis sesuatu hanya sesuai intuisi saja, lantas belum tentu semua orang menerima karena ‘noise’-gangguan yang terjadi, salah satunya adalah perbedaan tingkat pengetahuan.

Digampar kemarin membuat saya banyak introspeksi dan justru banyak belajar. Terima kasih, terima kasih banyak. Please, jangan salah menangkap maksud saya ini. Karena meski terkesan lebai menggunakan kata “DIGAMPAR”, tapi itu hanya berlaku untuk diri saya sendiri. Kenapa saya menulis ini di blog? Apa ya alasan objektifnya? Oh Tuhan, mohon mengerti. Kali ini lagi-lagi intuisi saya yang mendominasi. Sial. Atau untung. GAK TAU! Tapi saya benar-benar belajar, entah ini belajar yang sekedar sekedar atau akan terus berlangsung lama. Namun, saya bisa prediksi, yang digampar-gampar ini biasanya lebih ‘mengena’ dan lebih longlasting.

Intinya, apa yang mau sampaikan? Jangan pernah bias menanggapi sesuatu yang menimpamu. Karena pasti sebenarnya, bisa saja ada maksud baik yang terselubung, yang mungkin tidak bisa kita temui jika hanya merasakan ‘sensasi’nya, yakni yang tampak di permukaan saja. Keburu marah, sedih, atau kesal, tanpa mendalami maksud baik itu. Maksud baik bisa ditemukan di mana saja, bahkan di cara yang belum tentu baik menurut kita. Lantas kemudian bisa jadi kita yang egois, jika kita selalu menanyakan, “Kok caranya gitu banget, sih? Gue gak bisa digituin! Emang gak ada cara yang lebih baik?”. Mungkin sudah waktunya kita yang memahami, kita yang menerima biasnya, karena dengan begitu, bisa jadi kemenangan yang berpihak di diri kita, meski cuma diri kita sendiri yang bisa mengakui kemenangan itu.

Sebagaimana saya mendapatkan pelajaran di mata kuliah Religiusitas hari ini, yang membahas tentang Teodise. Mencoba mengungkap jawaban, “Mengapa kita percaya bahwa Tuhan ada, padahal begitu banyak penderitaan dan kejahatan terjadi di muka bumi ini?”. Karena kalau saya jabarkan di sini malah jadi copy paste pelajaran slide presentasi Dosen saya, maka -mohon maaf sekali kalau jadi bias- saya cuma bisa menggarisbawahi satu hal yang cukup penting, bahwa tergantung kita memaknai ‘penderitaan’ yang kita alami itu, karena penderitaan hanya sekedar ilusi, tabir semata, atau topengnya saja. Di balik topeng itu ada apa, harus kita pahami lebih dalam lagi. Begitu juga dengan gamparan tadi. Gamparan tadi hanya di permukaan saja, tapi makna gamparan tersebut sebaiknya dicari makna lebihnya, siapa tahu tersimpan maksud baik seseorang yang digunakan untuk kebaikan kita sendiri.

 

 

Biar gak bias, gimana kalau ada yang ‘gak enak’ dikasih comment aja? Thanks!

Iklan

One comment

  1. dunianatasha · Januari 23, 2009

    bersyukurlah karena kau telah digampar Kar…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s