Facing Death

Jika sebelumnya saya mencoba “Talking About Death”, maka tulisan ini adalah hasil melimpah ruahnya pikiran di otak saya tentang “Facing Death” yang baru saja saya alami.

Ya, jadi Ibunda saya yang luar biasa saya sayangi dipanggil Tuhan, pemilik sejatinya, hari Sabtu, tanggal 3 Januari 2009 jam 06.10 pagi. Dengan didampingi Ayahanda saya dalam suapan terakhir makan pagi terakhirnya dan mengucapkan selamat tinggal saya hanya via mimpi.

Segala pembicaraan dan pikiran saya tentang kematian, baik ketakutan maupun kegelisahan tentangnya, tiba-tiba menjadi sesuatu yang nyata senyata-nyatanya, sampai saya benar-benar tidak tahu harus berpikir apa. Begitu cepat dan tidak terasa, datang tidak terduga dan terjadi begitu saja.

Berada dalam mobil jenazah, di samping jenazah ibu saya sendiri membuat pikiran tidak menentu. Selalu terbayang wajah ibu terbujur kaku. Mulut terus mencoba mengucapkan doa –meski agak terganggu dengan SMS dan telepon-, mata terus menitikkan air yang berhasil di produksinya terus menerus. Ingin berhenti menangis, ingin menenangkan hati, tapi kembali teringat bahwa yang pergi, yang telah tiada, adalah Ibunda sendiri.

Apa yang membuat saya tampak begitu sedih kehilangan? Tidak ada bayangan, bagaimana Ibunda akan diperlakukan. Tidak ada kesempatan, untuk bersama di ujung perpisahan. Bahkan di perpisahan yang benar-benar berpisah, dari sosok yang ada menjadi benar-benar tidak ada, dan saya tidak tahu di mana. Mungkin jasadnya terkubur di tanah sana, tapi ruhnya? Lalu, di saat saya benar-benar sedang dalam usaha untuk menjadi sosok yang merawatnya karena sakitnya, saya seakan kehilangan kesempatan itu dan justru dibuat menyesal. Juga, karena saya tidak dalam kondisi yang terbaik saya ketika beliau pergi.

Setelah sampaii di rumah, kemudian semua orang sudah banyak hadir. Semua menyalami dan memeluk, meminta saya tabah dan kuat. Handphone juga sibuk berdatangan SMS yang mengucapkan belasungkawa. Mencoba tampak tegar, tapi air mata tak mau kompromi. Cuma bisa menangis seadanya. Tidak percaya, kali ini harus saya yang mengalami. Biasanya saya yang berkunjung ke rumah orang, tapi kali ini saya yang dikunjungi. Saya subjeknya.

Bersyukur, saya bisa memandikan beliau. Bersyukur, saya bisa mensholati beliau. Bersyukur, saya bisa melihat ia dikubur. Bersyukur, saya bisa mendoakan beliau. Bersyukur, banyak orang yang membantu beliau. Bersyukur, atas semua doa untuk beliau dan dukungan untuk saya dan ayah.

Di saat seperti inilah saya merasa mengapa kita perlu bersikap baik terhadap semua orang. Ya, karena kita tidak pernah tahu kapan kita membutuhkan orang lain. Saya juga merasa, betapa orang baik selalu diberikan kemudahan dalam setiap halnya. Lalu, ketika semua yang menjadi milikNya telah kembali kepadaNya, segala sesuatu yang materialis di muka bumi jadi terasa tiada berarti. Dalam arti kata, tidak perlu dijunjung begitu lebihnya. Juga, jika ingin berubah untuk kebaikan, jangan pernah ditunda, at least kita berusaha. Karena mungkin kita lupa, betapa besarnya Tuhan punya kuasa.

Kemudian di rumah ada sesuatu yang hilang. Ada sesuatu yang tiada. Setiap saya berusaha mengingat beliau, yang terbayang adalah dirinya yang tadinya hidup kemudian dengan cepat berganti dengan wajahnya yang telah terbungkus kafan. Tidak tahu apa yang bisa saya rasakan. Semua begitu abstrak, absurd, dan masih tidak bisa diterima akal.

Kepergian Bunda memang sudah saya antisipasi. Tapi tidak menyangka bahwa segala sesuatunya secepat ini. Apa yang saya coba antisipasi, pengetahuan-pengetahuan dan teori-teori bahwa saya harus begitu dan begini, tidak semudah pelaksanaannya di hari ini.

Mencoba lari dengan mengalihkan perhatian kesana kesini. Pergi kuliah, mencoba menjalani hidup normal sehari-hari. Tapi tentu saja selalu kembali lagi. Hingga kemudian saya mendapatkan wejangan dari sana-sini yang luar biasa memberi arti.

Sedikit-sedikit mulai bisa memahami. Mencoba menjalani kembali, dengan penuh doa selalu dalam hati, untuk Ibunda tercinta yang tak pernah ‘mati’ di hati.

Sayangilah orang tuamu sepenuh hati. Mungkin kata-kata ini semua tidak berarti. Tapi jangan sampai menyesal ketika kau alami sendiri. Karena bagiku sendiri, rasanya menjadi tidak sama seperti apa yang dibayangkan selama ini. Apa yang saya tulis di “Talking About Death” menjadi suatu hal yang memberikan rasa beda sama sekali.

Namun, saya masih meyakini satu hal. Pandangan saya tentang kematian, kemudian mempengaruhi pandangan saya tentang kehidupan. Lantas kemudian, segala sesuatunya membuat saya lebih sadar akan satu hal dan lainnya. Banyak, banyak hal yang kita pelajari dari kematian, terutama jika kita termasuk orang-orang yang yakin tentang Tuhan dan agama.

Ya Allah, terimalah amal ibadah Ibuku, ampunilah dosa-dosanya, maafkanlah kesalahannya, lapangkanlah kuburnya, dan tempatkanlah ia di tempat yang terbaik, yakni di SurgaMu yang mulia. Amin.

Iklan

11 comments

  1. jemarihaqi · Januari 20, 2009

    Sekar pasti bisa kuat :)
    Dan Bunda disana pasti sedang tersenyum.

    • amaliasekarjati · Januari 21, 2009

      makasih ya, Bai :-)
      gw masih di masa-masa butuh support.
      thanks a lot :p

  2. arimbi · Januari 20, 2009

    WHEW. really, dont know what to say

    • amaliasekarjati · Januari 21, 2009

      ini cuma luapan otak gw aja kok, mbi.
      biasa lah, gw kan impulsif, suka nulis apapun yang ada di otak gw meski itu cuma sekelebatan aja.
      tapi sekarang sudah mulai bisa mencerna dan menerima.
      begitu lah.

      thanks ya, mbi. thank for everything :-)

  3. bestari · Januari 21, 2009

    ini pertama kalinya saya baca blog punya seorang sekar.
    dan, wah, saya harus sangat bersyukur sama Allah yang ngasih kesempatan untuk bisa baca tulisan2 ini.

    saya selalu aga kesulitan buat ngomong (kamu tau lah, kan kita pernah kader PK bareng :D) inget ga, pas kita nelpon buat ngabarin klo ga sempet ngejar ke pemakaman?(buat itu, maaf banget ya kar) telponnya digilir ke setiap anak di mobil, pas giliran saya, kata2 saya belibet trus kamu bilang ‘apaa bees?’ dengan nada ngegodain (duh, diksinya..) maaf, saya memang bukan wanita penghibur yang baik

    ini pemikiran yang muncul di pikiran saya abis baca tulisan diatas:
    di mata saya, sekar itu sosok yang undefeated (ini bisa sangat salah, karna mungkin saya blom kenal seorang sekar dengan benar), tapi itulah yang saya lihat selama 3 tahun, sampai sabtu pagi itu, saya bingung harus apa

    saya bersyukur karena dari rahim & tangan Ibu seperti beliaulah, seorang Sekar, yang pada akhirnya jadi salah satu teman saya yang luar biasa, lahir dan dibesarkan dengan cara2 yang membentuk dirinya seperti sekarang.
    saya juga bersyukur, karna dia diberi kesempatan untuk mengenal Ibunya selama 17 tahun, yah mungkin memang terdengar singkat dan tidak adil
    tapi bayangkan, dia bisa lebih beruntung dari Rasulullah yang bahkan tidak pernah sempat mencium tangan Ibunya di dunia

    kematian emang rahasia Tuhan, semuanya udah ditentuin jauh sebelum bumi ada
    gw juga pasti sedih banget klo di posisi lo, Nabi pun begitu pas ditinggal sama orang2 terdekatnya, wajar, kita manusia
    tapi mudah2an ini semua ga bikin lo menunduk terus
    gw tau lo bisa ngadepin ini semua dengan baik, semoga syukur dan doa lo sebagai anak sholehnya Ibu selalu mengalir pada Nya

    anw, jangan sok malu2 kucing buat bilang ke gw klo lo butuh sesuatu yang mungkin gw bisa bantu, kan gw juga menawarkan jasa (emangnya lo aja, weee)

    keep praying, keep smiling. YOU”LL NEVER WALK ALONE

    • amaliasekarjati · Januari 29, 2009

      besta, thanks a lot ya. maaf baru bales commentnya sekarang. lagi detachment terhadap dunia maya nih :-)
      thanks banget, bes. you know what, gw menitikkan air mata nih pas baca comment lo.
      huhuuhuhuuu.

      makasih banget ya, Bes. doain gw bisa tegar dan bisa bikin nyokap gw bangga :-)
      gw juga gak bisa ngomong apa-apa lagi, cuma bisa bilang makasih :-)

  4. Rinta · Januari 31, 2009

    Kak Sekar aku baru baca. Yang sabar ya. Aku pernah ngalamin hal seperti ini, 4 tahun lalu Papa aku meninggal.
    Rasanya aneh. Aneh. Dia sepertinya pergi dinas dan gak pernah kembali lagi.
    Sejak itu aku jadi sedikit paranoid akan keselamatan dan kesehatan mamaku.
    Aku cuma bisa bilang : Amal yang tidak pernah putus adalah doa anak soleh kepada orang tuanya.
    Semoga ibunya kak Sekar diterima di sisiNya. :]

    • amaliasekarjati · Februari 1, 2009

      ooh. turut berduka cita, Rin (telat banget ya?). hm, boleh tau meninggalnya kenapa? whew, you must be a very tough girl, ya :-)

      ya, gw sudah mulai mencoba menerima segala sesuatunya. cuma kadang-kadang suka ‘lupa’ dan kebawa sedih dan sebagainya. i know you know. hehehe. oh ya, thanks ya, Rinta. satu hal itu juga penting dan kadang suka gw lupa karena lebih mikirin hal-hal kecil dan physically..

  5. rinta · Februari 1, 2009

    Hehehe.telat juga gapapa kok kak. Serangan jantung yang sangat mendadak.:(
    Iya aku jg meskipun udah 4 tahun lewat masih suka2 keinget dan ‘lupa’.
    Btw kak.Kakak seniorku di program pertukaran pelajarku pernah bilang : Kalau tiba tiba kita inget sama seseorang yang kita sayang dan sudah meninggal.esp orang tua.berarti mereka lagi kangen sama kita dan butuh doa dari kita :D

    • amaliasekarjati · Februari 2, 2009

      wow. that’s a very great advice, and just like what my friend said. kalau kita kangen, inget, mungkin cara terbaik yang bisa kita lakukan adalah berdoa, apalagi kita percaya Tuhan. thanks ya, Rinta. seneng banget gw ada elo yang mau berkunjung ke blog gw dan memberi komentar yang juga memberi gw banyak input. thanks a lotsss :p

  6. Rinta · Februari 3, 2009

    your welcome!! hehe aku seneng kalo komenku berguna :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s