Membicarakan Film Drupadi, Lagi

Rabu kemarin, 28 Januari 2009, Klub Kajian Film IKJ (KKFI) mengadakan pemutaran dan diskusi film Drupadi karya Riri Riza sebagai pengisi kegiatan rutinnya di bulan ini. Diskusinya menghadirkan Riri Riza, sutradara film tersebut, serta Veven Sp. Wardhana, seorang pengamat budaya massa.

Saya sendiri sudah menonton filmnya untuk pertama kali di Jakarta International Film Festival ke-10, bulan Desember lalu. Kemudian saya mencoba membuat resensi versi saya –yang sudah saya upload di blog ini-, juga membaca beberapa resensi lainnya yang ternyata banyak berlawanan dan cenderung menunjukkan ketidakpuasan terhadap film tersebut. Tidak kelewatan, saya juga sempat membaca tulisan Pak Veven sendiri di sebuah harian ternama yang bisa dibilang tanggapan beliau terhadap film ini. Semakin banyak lagi hal yang berkubang di pikiran saya mengenai film Drupadi. Tak lepas, saya membicarakan film ini pula dengan teman saya yang juga menonton film tersebut dan ia kemudian membaca kisah Mahabarata –saya tidak-, dan memperbincangkan film ini.

Setelah melihat dari beberapa sisi –memang tidak banyak-banyak banget, sih-, saya memang berkeinginan untuk memberikan kesimpulan versi saya sendiri mengenai beragam tanggapan yang benar-benar beragam itu terhadap kehadiran film Drupadi. Namun penyakit saya yang luar biasa dan terlalu mengakar (baca : unitasking sejati) membuat saya sempat melupakan keinginan saya tadi. Sampai akhirnya kemarin, kegiatan yang diselenggarakan Klub Kajian Film IKJ tersebut makin memantapkan saya untuk memberikan beberapa kesimpulan yang inipun masih merupakan hipotesa. Karena seperti yang kemarin dikatakan oleh Pak Veven pada saat diskusi, bahwa memang film ini ‘menggugah’ para penontonnya untuk mendiskusikan banyak hal, ditambah pernyataan Mas Riri bahwa ia memang suka membuat beberapa bagian filmnya terasa ‘tidak jelas’ yang kemudian tiap penonton bebas menginterpretasikannya.

Beginilah kiranya apa yang bisa saya paparkan mengenai film Drupadi, tambahan dari resensi sebelumnya, dengan kondisi saya sudah mendapat input lebih dibandingkan ketika menulis resensi yang pertama:

Kisah Mahabarata merupakan kisah yang luar biasa besar dan luar biasa kompleks. Pilihan untuk mengambil kisah Drupadi berarti juga menjatuhkan pilihan hanya sebagian kecil dari episode besar Mahabarata tersebut. Lebih menantang lagi, karena ternyata kisah tersebut dirangkum dalam sebuah film berdurasi 40 menit. Kemudian yang menjadi kendala adalah bagaimana menjelaskan suatu kisah kecil yang merupakan bagian dari kisah besar, namun kisah kecil itu -menurut saya- tidak bisa berdiri sendiri. Sehingga dalam film Drupadi, beberapa penjelasan tentang karakter dan latar belakang tokoh yang memengaruhi alur dipadatkan dalam bentuk nyanyian atau pernyataan singkat yang kemudian penjelasan itu menjadi sekedar cukup, baik bagi orang yang awam Mahabarata maupun yang paham Mahabarata, meski dengan alasan yang berbeda. Yang awam cukup paham karena memang itu merupakan hal baru dan di film ini berhasil digambarkan dengan secukupnya, yang sudah paham merasa  paham karena memang mereka sudah paham.

 

Lantas yang menimbulkan pembahasan yang mendalam lagi adalah apakah Mas Riri membuat film ini sebagai film adaptasi (cenderung mutlak adaptasi) atau sebagai film yang penuh interpretasi terhadap sebuah karya Mahabarata? Jika sebagai kisah adaptasi, yakni sebagai penceritaan ulang kisah namun via medium film, maka secara tidak langsung, Mas Riri berhasil menghasilkan sebuah film yang mengenalkan Mahabarata (meski hanya secuil bagian) kepada masyarakat awam seperti saya. Bahkan, pengalaman pribadi saya menunjukkan bahwa Mas Riri pun berhasil membuat teman saya menjadi membaca Mahabarata (yang kemudian bisa mendapatkan sari-sari kebijaksanaan dari kisah tersebut). Sama seperti ketika booming film Ada Apa Dengan Cinta mampu membuat orang-orang mencari tahu siapa Chairil Anwar atau siapakah Syumandjaya dan sebagainya. Ya, ini tetap nilai plus via pengalaman pribadi saya, tanpa tahu apa yang terjadi dengan penonton lainnya.

 

Namun lantas, mau tidak mau harus membandingkan dengan karya yang –bisa dibilang- sejenis dan lahir lebih dulu, yakni Opera Jawa. Apalagi jika film Drupadi mau dibilang film hasil interpretasi. Karena di film Drupadi, tidak tampak jelas bagian mana yang merupakan interpretasi jika dilihat sekilas. Segala sesuatunya mengalir begitu saja, tanpa adanya penginterpretasian lebih. Kalaupun ada pesan moral yang disampaikan, itupun karena memang kisah aslinya pun ingin menyampaikan pesan tersebut. Berbeda dengan Opera Jawa yang tampak sekali bahwa ia adaptasi sekaligus interpretasi terhadap kisah Ramayana, yang kemudian menjadikan film tersebut pun lebih mudah untuk direfleksikan dalam kehidupan masa kini. Namun lagi-lagi, saya kembali mengatakan bahwa unsur durasi turut bermain penting.

 

Berkaitan dengan durasi lagi, lantas yang banyak menarik perhatian sebagian masyarakat lagi dan ini menarik adalah penggambaran karakter Karna yang main ‘dihitamkan’ begitu saja, terkesan disamakan ‘derajat’ karakternya dengan Kurawa, padahal Karna cenderung ‘abu-abu’, yakni ada pula tuangan ‘putih’ pada dirinya dengan segala histori kehidupannya yang juga kompleks. Pada penjelasan Pak Veven di acara kemarin sore itu, Karna memang karakter yang ‘abu-abu’. Dan seringkali karakter yang ‘abu-abu’ ini disingkirkan atau mungkin dengan cara ‘dihitamkan’ agar alur cerita berjalan sampai akhirnya. Atau mungkin, kalau dari pemikiran saya pribadi yang mungkin ‘sok tahu’ sedikit, memang di konteks ruang waktu saat itu, Karna memang sedang didominasi ‘hitam’nya. Lalu yang memang memancing adanya ‘masalah’ adalah karena peng’hitam’an Karna di film ini mengesankan bahwa film ini terlalu berpihak pada Lima Pandawa dan Drupadi sebagai kubu ‘putih’. Karna memang terkesan sosok sekilas karena perannya tidak banyak, padahal sebenarnya kehadirannya justru berpengaruh besar, terutama menjelang Perang Bharatayudha yang sayangnya di film ini tidak dijelaskan lebih.

 

Saya kemudian merasa setuju dengan Pak Veven yang menurutnya judul film ini adalah “Drupadi Gugat”. Dengan judul itu menurut saya penonton bisa lebih maklum. Apalagi penggemboran via media massa bahwa film ini adalah film perempuan yang menuntut keadilan terhadap tindakan ‘pelecehan’ yang terjadi padanya, yakni mengangkat bahasan gender. Sehingga dengan tambahan “Gugat” lantas film ini menjadi lebih sesuai dan lebih mengkhususkan kepada gugatan Drupadi sebagai seorang wanita yang dipertaruhkan Yudhistira di mana saat ia dipertaruhkan, Yudhistira sebenarnya bahkan sudah tidak memiliki dirinya karena sudah kalah dipertaruhkan. Lantas, bagaimana bisa Yudhistira yang sudah tak punya nama itu terpancing bujukan Sangkuni dan egonya untuk mempertaruhkan seorang wanita, yakni istrinya. Yang kemudian memperparah keadaan adalah perilaku Dursasana yang menarik Drupadi bagai seekor kuda, juga niatan para Kurawa, juga Karna untuk menelanjanginya. Siapa yang ia gugat? Tentu kelima suaminya, para Pandawa yang perkasa dan para Tetua yang hanya pada bisa diam saja. Lantas kemudian ia kembali ‘menang’ karena berhasil membasuh rambutnya dengan darah Dursasana, sebagaimana ia ingin.

 

Bahasan di atas saya rasa lebih ke masalah durasi dan pengadaptasian kisah Mahabarata dalam sebuah film. Terlepas dari itu, saya rasa film Drupadi tetap film yang menarik dan bagus secara keseluruhan. Terutama dari segi artistik dan simbolisasi yang patut dikagumi. Kemudian yang membuat jelas segala sesuatunya adalah pernyataan Mas Riri pada acara  KKFI kemarin itu bahwa inti film tersebut mengisahkan tentang seseorang yang pada awalnya punya kuasa (power) harus menjadi korban dan tak sedikit ia menanggung derita (meski akhirnya ia terselamatkan dan kembali ‘menang’). Selain itu, dijelaskan bahwa film ini adalah produk hibrida. Baik dimasukannya sendratari dalam film ini, lantunan-lantunan khas Jawa, kostum yang campur-campur budaya, bahkan tampilan karakter yang menarik. Lantas dengan begitu, saya rasa dua tujuannya ini tercapai dengan baik terlepas interpretasi para penonton masing-masing terhadap film ini. Bagaimanapun juga, saya rasa film Drupadi memiliki daya tarik tersendiri yang masih memungkinkan untuk mengalami pembahasan dan diskusi panjang mengenainya.

Iklan

2 comments

  1. rinta · Februari 4, 2009

    Aku suka baca Mahabharata loh kak.Komiknya.Udah lama banget gitu komiknya tapi masih layak baca.Komik Bharatayudha nya sih udah parah banget.Robek robek.
    Anyway.AKu pengen liat banget Mahabharata di filmkan di Indonesia dengan aktris2 modern Indonesia.

  2. miftahrahman · Mei 15, 2009

    kalau riri reza aku masih percaya akan kualitas yang dimiliknya dalam arti dilihat dari segi ide cerita dan pen-ceritaan-nya. pada film yang satu ini, sudah beredar belum ya…?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s