Mbah Surip: an artist, for sure.

Sebenarnya saya tidak mau menambah-nambahi opini mengenai kematian Mbah Surip, yang media (media bentuk jamak dari medium) sebut-sebut sebagai sosok fenomenal itu. Tapi saya merasa ada makna dibalik kematian beliau. Entah saya sok tahu, tapi ini yang ada di otak saya, Anda boleh menimpalinya.

Saya tahu Mbah Surip sekitar empat tahun lalu, saat saya masih satu SMA. Melihat aksi, kreasi, dan keluarbiasaannya di acara Kenduri Cinta bersama seorang tokoh yang saya kagumi juga, Emha Ainun Najib. “Tak Gendong”, “Menyetem Gitar”, dan lagu-lagu ‘gila’ lainnya saya saksikan di sana. Sebelum saya melihat aksi langsungnya itu pun, saya sempat mengenal beliau via medium televisi lewat kisah hidupnya dan lagunya yang luar biasa ‘nyeni’, “Bangun Tidur”.

Bagi saya, ia tampak nyentrik dan menarik bukan sekedar dari penampilannya. Tapi apa yang ia ciptakan, tapi apa yang ia lontarkan, tapi apa yang ia bawakan, itulah yang berkesan sangat pada saya. Apa adanya, sederhana, kreatif, dan tidak munafik. Dia menjadi bintang tamu langganan di acara Kenduri Cinta itu. Sudah lama saya tidak menghadiri acara rutin itu sehingga jarang pula saya melihat Mbah Surip tampil. Sampai belakangan ini saya tahu bahwa dia ‘menyerahkan diri’ ke publik lewat lagunya yang sudah saya dengar dari empat tahun lalu itu, “Tak Gendong”.

Lantas tiba-tiba, saya mendapat pesan singkat dari seorang teman, “kar, masa mbah surip-“mu” meninggal dunia..” SMS itu hadir di saat semua orang sudah tidak asing lagi dengan dirinya, yang kata orang-orang bilang, ia sedang di puncak karirnya. Apa yang saya rasakan? Mungkin kata umumnya: sedih. Tante saya sibuk berkomentar, “Padahal uang 4,5 Milyarnya belum diambil, tuh..” Semua media massa tidak ada yang tidak mengangkat beritanya, bahkan di iklan yang dibintanginya pun diutarakan belasungkawa.

Tetapi saya merasa ada makna lain. Saya mencoba mengklaim bahwa Tuhan itu adil. Mengapa Mbah Surip ‘dipanggil’-Nya saat ia sedang ‘makmur’? Saya mencoba membuat jawaban saya, jawaban seorang manusia yang sok menalar suatu yang transendental. Mungkin, jika Mbah Surip ‘dipanggil’ saat ia tidak tenar, yang menyadari kehadirannya yang luar biasa itu dan menginspirasi itu hanya sebagian kecil orang. Tapi saat ia terkenal, semua orang harusnya menyadari keberadaannya dan mengutip ‘kutipan-kutipan’ hidupnya yang apa adanya, yang bijaksana, yang filosofis sangat, terutama untuk para serakahwan-serakahwan yang beredar di luar sana..

Dia seorang seniman asli, tulen. Hidup yang ia jalani pun buat saya sangat ‘nyeni’. Tuhan, bahagiakanlah ia, sebagaimana Engkau membawa kebahagiaan buat kami lewat dirinya. Amin..

Iklan

2 comments

  1. bestari · Agustus 16, 2009

    bener, gw juga sempet mikir gitu kar, kenapa ya dia dipanggil pas orang2 lagi sadar betul siapa dia
    salah satu pelajaran yang gw ambil juga, selain yang lo sebutkan, adalah belajar dari pola hidupnya, bahwa ga bagus kalo melakukan sesuatu yang berlebihan, jatohnya ga seimbang, yaitu kebiasaan minum kopi :)
    yang gw denger di TV dia sampe 20 gelas perhari.. wew, jelas sangat berlebihan, jantungnya jadi ga kuat
    hmm
    anyway, kapan lo ga sibuk? nonton bareng di kineforum yu
    hehe, kangen deh :D
    oia, dan gw baru saja bikin blog pertama gw, masih norak,
    jadi feel free to visit ya kar, hehe

  2. bestari · Agustus 17, 2009

    anw, i’ve just created my own very 1st blog
    don’t hesitate to come and drop some words at http://bestariberlari.blogspot.com/
    semoga bisa jago nulis kayak sekar, ahik ahik

    dan gw minta ijin taro link blog lo di sana ya :)
    update terus ya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s