Doa Baswara dan Pradnya

Ya Allah, Pemilik Hati dan Hidupku. Izinkan aku meminta, izinkan aku memohon, izinkan aku memiliki doa untukMu. Ya Allah, izinkan aku dan Pradnya Lila Dara merintis jalan kasih kami karena kami tahu Engkau menciptakan cinta untuk kami. Ya Allah, izinkan aku dan Pradnya Lila Dara tetap bertahan dalam perbedaan karena kami sama-sama meyakiniMu, Ya Allah, Ya Tuhan. Ya Allah, izinkan tawaku dan tawa Pradnya Lila Dara bersatu dalam kebahagiaan karena kami sadar itu semua ada dan dapat diwujudkan. Sungguh aku bersimpuh dan berserah diri karena kebesaranMu, Ya Allah. Amin.

(Doa Baswara Raspati di setiap saat ia mampu berdoa)

***

Ya Bapa, hamba kembali datang kehadiratMu untuk menaikkan doa agar hamba bisa selalu bersama dengan orang yang hamba kasihi, Baswara Raspati, setiap detik, setiap waktu, setiap saat yang Kau izinkan. Hamba pun terus percaya, Engkau yang mampu melihat kesungguhan hati hamba, berapa dalam cinta hamba padaMu. Hamba terus percaya, rencana Engkau pasti yang terindah dan terbaik. Hamba pun terus percaya, tak akan ada kasih antara hamba dan Baswara Raspati tanpa kuasa dan kehendakMu. Kiranya, Kau mengabulkan doaku. Dalam namaMu aku berdoa. Amin.

(Doa Pradnya Lila Dara setiap ia ragu akan apa yang terjadi di masa depan)

***

24 Desember 2000

Matahari terlalu terik. Seorang gadis sedang menyeruput teh berkemasan sambil duduk di bangku-bangku. Ia tampak menunggu dengan tenang dan sabar dan bangunan masjid besar menjadi latar belakang yang indah.

Lima menit kemudian sekian puluh laki-laki keluar dari mesjid itu. Sebagian masih memakai sarung, sebagian dengan bangga masih mengenakan peci, sebagian hanya mengandalkan rambut yang basah-basah bekas air wudhu. Salah satu laki-laki dari kriteria ketiga adalah Baswara Respati yang berjalan perlahan dengan pasti ke arah si gadis yang menunggu tadi, Pradnya Lila Dara.

“Sholatnya khusyuk gak?” tanya Anya, nama panggilan si gadis, dengan sedikit nada canda.
“Nggak, mikirin kamu. Takut kamu kepanasan nungguin aku sholat.” jawab Baswara menimpali.
“Sialan. Doa apa kamu tadi?” tanya Anya lagi sambil menggandeng tangan Baswara lalu berdua berjalan ke tempat parkir motor.
“Doa apa, ya? Ya, doa apa lagi? Yang itu-itu aja. Abisnya yang doa biasanya aja belum dikabulkan, bingung mau doa apa lagi.” jawab Baswara dengan intonasi yang membingungkan, antara pasrah, serius, dan mencoba santai.
Lantas keduanya diam. Semakin mendekat ke parkir motor, bunyi langkah-langkah mereka makin mendominasi kehampaan yang tercipta. Baswara merasa salah bicara, Anya bingung harus menanggapi bagaimana.

“Makan, yuk. Abis itu kita hias pohon Natal di rumah kamu.” ujar Baswara memecah keheningan antara mereka sambil mengeratkan genggamannya ke tangan Anya, seakan tak ingin melepas. Anya mengangguk pelan dan menatap Baswara dalam dengan senyuman.

***

Beberapa orang tampak sibuk kesana-kemari. Orang-orang berkerumun dengan beragam wajah dan ekspresi: bingung, kaget, panik, heran, sedih, kacau, ragu. Satu ragam wajah yang tidak ada: bahagia. Malam makin sendu dan kelabu dihias asap-asap tak menentu. Malam yang seharusnya penuh syukur dan tenang menghangatkan, berubah menjadi ruang sauna luas tanpa batas yang membuat kelenjar keringat tubuh setiap orang memproduksi lebih dari biasanya. Kepingan dan reruntuhan bangunan menyebar di jalanan. Padat. Riuh. Duka. Tidak akan ada yang lebih terluka. Tidak akan ada yang bisa lupa.

Ya, ledakkan di malam Natal itu mengguncang semua orang di belahan Indonesia mana pun. Bahkan mungkin sampai ke ujung-ujung dunia. Semua mengutuk aksi yang dengan lantang disebut sebagai aksi terorisme. Semua marah dengan pengeboman di gereja-gereja itu. Terutama dua insan yang sedang duduk bersama menatap muramnya malam dalam diam di sebuah ayunan pekarangan rumah.

Baswara melirik jam tangannya. 00.15. Ia diam. Anya diam. Ia ingin bicara. Anya juga. Tapi tak ada satu kata pun terucap dari mulut mereka. Baswara melirik jam tangannya lagi. 00.18. Tiga menit berlalu dan mereka masih terdiam. Keduanya sama-sama menghindari mata satu sama lain. Keduanya sama-sama tak berani untuk mengetahui isi mata satu sama lain. Keduanya takut menemukan hal-hal yang menyiratkan kepedihan di mata satu sama lain. Keduanya tahu bahwa mata tak akan bisa menyuarakan kebohongan.

Baswara merasa harus mewujudkan apa yang ada di pikirannya.

“Selamat Natal, Anya.” ujar Baswara setenang mungkin. Akhirnya keduanya bertatapan. Baswara tersenyum. Mata Anya berkaca-kaca. Senyuman Baswara pudar lebih cepat dari warna pada baju yang sudah terlalu sering dicuci.

“Aku gak yakin Papa Mama bakal ngizinin kita ketemu lagi, Bas. Apalagi setelah pengeboman ini. Gereja hancur. Saudara-saudara seagamaku banyak yang jadi korban, Bas. Meskipun bukan kamu yang ngelakuin itu, tapi kamu bagian dari mereka juga, kamu Islam.” kata Anya dengan nada lemah dan sedikit menahan adukan emosi dirinya.

“Kenapa kamu jadi pesimis gitu? Kenapa tiba-tiba pikiran kamu jadi gitu? Kita kan udah sepakat, gak akan ada yang bisa ngehalangin kita kecuali Tuhan menghendakinya, bahkan agama sekalipun.” ujar Baswara dengan sedikit menggebu.

“Kalau ternyata ini pertanda dari Tuhan gimana?” tanya Anya. Baswara terdiam. Lalu menatap mata sayu berkaca-kaca yang sedang menatapnya juga dengan penuh harapan dan meminta perlindungan. ‘I won’t let you down,’ ujar Baswara dalam hati.

“Anya. Kamu Kristen yang taat, aku muslim yang taat, bukan teroris. Sekarang saatnya kamu harus percaya dan yakin,” Baswara mengambil tangan Anya dan meletakkannya di dadanya, “sekarang kita bersama karena ada cinta yang diciptakan Tuhan. Kita jalanin ini berdua, tanpa ketakutan, tanpa pikiran-pikiran yang meragukan. In the end, everything is gonna be okay. If it’s not okay, then it’s not the end.” ujar Baswara lagi menatap dalam menembus sekat-sekat korne dan selaput apapun yang ada di mata Anya.

“Aku bisa ngerti, Bas. Tapi Papa Mama?” tanya Anya lagi sambil melepaskan tangannya dari dada Baswara.

“Anya, kamu tuh emang udah gak mau sama aku lagi apa gimana, sih? Kamu terlalu mencari-cari alasan. Aku pikir kamu percaya sama aku, aku pikir kamu percaya sama kita, sama kita!” ujar Baswara sedikit marah sambil bangkit dari duduknya. Anya terdiam dan malah menunduk. ‘You don’t understand, Boy. It’s not easy to be me.’ ucap Anya dalam hatinya.

“Oh, bahkan kamu gak percaya sama diri kamu sendiri.” seru Baswara dengan nada sedikit sinis. “Well, kalau emang aku udah gak bisa lagi terlibat di kehidupan kamu, aku pergi. Gak usah ketemu-ketemu lagi. Makasih ya, Anya yang cuma bisa manjain ketakutannya. Bahkan gak mau menghadapi kenyataan bersama seorang Baswara. Thanks!” ujar Baswara sambil berjalan menjauh. Bicaranya menjadi melantur saking kesalnya. Bukan hanya pada Anya, bahkan pada dirinya sendiri, bahkan pada agamanya, bahkan pada Tuhan.

Anya sesengukan sendirian di ayunan. Meratapi kisah cintanya yang sedang diayun-ayun Tuhan. Ia tidak sanggup melihat kepergian Baswara yang tampak begitu kesal dengan dirinya yang meragu. Baswara, andai kamu Kristen, andai tidak ada pengeboman, andai aku Islam.. Baswara, andai aku Islam..

***

“Anya, maafin sikap aku kemarin, ya. Aku kesel banget.” kata Baswara lemah lembut sambil mengaduk-aduk kopi hangat dalam cangkir di hadapannya.

“Iya, gak apa-apa. Aku ngerti, kok. Maafin aku juga ya, Bas.” balas Anya dengan lebih lembut. Namun tampak ada kegelisahan di masing-masing pihak pada pertemuan kembali setelah dua minggu mereka tidak berhubungan.

“Anya, kalau emang ternyata kamu masih ragu, kalau emang ternyata kamu masih takut ngejalanin kebersamaan kita yang terhalan perbedaan ini,” ujar Baswara perlahan dan memancing Anya untuk membantah namun ditahan kembali oleh Baswara, “dengerin aku dulu,” kata Baswara. Anya pun menunda niatnya untuk menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan pada Baswara. Ia sudah yakin, ia sudah percaya, karena ia sudah menentukan sikap. Ia cuma tahu bahwa muara cintanya hanya kepada Baswara.

“Anya, kalau emang ternyata kita terbentrok pada perbedaan agama, aku siap pindah agama, ke agama kamu, Kristen.” ujar Baswara pasti sambil menatap mata Anya dalam, menunjukkan kesungguhan sekaligus ketakutan kalau ia tidak mengatakannya segera, kepastiannya itu akan berubah lagi.

“Bas!” seru Anya sambil terbelalak. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. “Bas! Bagaimana bisa kamu baca pikiran aku! Aku hari ini ketemu kamu juga ingin bilang kalau aku sudah menentukan sikap, aku juga siap pindah ke agama kamu, Islam.” seru Anya dengan sedikit berapi-api.

Tidak ada tanggapan. Diam kembali tercipta. Baswara masih tersentak kaget, bingung, heran, tidak percaya. Anya hanya bisa tersenyum heran juga tidak percaya, bagaimana mungkin mereka sama-sama siap untuk mengikuti agama orang yang dikasihinya. Keduanya lantas tertawa terbahak-bahak dan suasana pun menjadi cair. Keduanya masih tidak percaya apa yang terjadi barusan dengan begitu cepatnya hanya dalam hitungan detik. Keduanya akhirnya merasa lega dan bebas dari cengkeraman ketakutan akan perpisahan.

“Well, gak ada yang perlu pindah agama. Bagiku ini jadi kekonyolan semata. Karena sebenarnya kita yakin sama agama kita masing-masing, kita masih percaya sama Tuhan. Aku udah bilang kan, kamu Kristen yang taat, aku Islam yang taat. Di antara perbedaan itu, ada cinta kita yang teramat kuat. Terima kasih Pradnya Lila Dara atas cinta kamu buat aku, terima kasih Tuhan atas cinta luar biasa-Mu untuk kami berdua.” ujar Baswara perlahan tapi pasti. Lagi-lagi, matanya menatap Anya sangat dalam, melebihi dalamnya palung terdalam di dunia sekalipun. Ia terlanjur yakin bahwa Anya adalah satu dari sekian milyar manusia ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk berbagi kisah hidup dengannya.

Anya tak bisa tidak melepaskan keinginannya untuk memeluk Baswara. Baswara tidak bisa tidak mendekap Anya dengan segenap perasaan sayang, cinta, apalah namanya. Anya tak bisa tidak mengalirkan air mata campuran perasaan sedih, takut, kesal, dan marah. Baswara tidak bisa tidak mengeratkan dekapannya dan mengusap kepala orang yang sangat disayanginya, yang menangis melimpahkan air mata di depannya. Tanpa bicara, tanpa kata, mereka akhirnya mengerti. Bahasa peluk menjelaskan semuanya. Bahasa peluk membeberkan semuanya. Bahasa peluk mengisahkan semuanya. Ketakutan akan masa depan, kepasrahan akan kenyataan, keresahan akan perbedaan, kegelisahan akan ketidakmungkinan, semua lenyap dalam pelukan.

***

Selesai: 28 Oktober 2009
Dalam rangka tugas mata kuliah Creative Writing. Diselesaikan H-2 jam deadline dikumpulkan. Hehehe, jadi maaf-maaf aja kalau agak kacau.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s