The Answer: Detachment

Pernahkah kamu begitu takut, takut akan kehilangan seseorang yang tanpa ia minta telah kamu pilih untuk dijadikan sebagian hidup kamu? Saya sedang. Ia berusaha meyakinkan tidak akan meninggalkan. Saya mencoba percaya dan tenang. Namun perasaan takut ini tidak bisa ditolerir. Ini gila-gilaan. Bikin saya melakukan tindakan-tindakan yang membuat saya makin pantas ditinggalkan.

Am i having such a disorder? Haruskah saya ke psikolog? Tidak tahu. Saya hanya korban lagu Coldplay yang berjudul Shiver. Saya gemetaran. Saya ketakutan.

Can you measure the accuracy of my intuition?

This is how i hate reality. Ia sangat jauh dari apa yang muncul di benak saya. Di mimpi saya. Jadi jangan biarkan saya bermimpi. Biarkan saya hidup secara nyata, biarkan saya sakit sesakit-sakitnya kenyataan, biarkan saya pelihara keperihan ini tanpa tersisa, biarkan saya menangis tanpa air mata, biarkan saya sendiri bersama nestapa.

Bukannya kadar cinta saya berkurang. Bukan, sungguh bukan. Saya justru takut ini terlalu meluap-luap sehingga saya lupa saya ini siapa dan kamu siapa. Ini karena kita tidak sendiri di dunia ini. Tidakkah kamu merasa ini sangat salah di mata dunia? Kita hanya akan kalah. Saya akan hanya kalah. Saya yang akhirnya selalu kalah.. dan salah.

Sam, si bocah di film Love Actually memberikan sedikit kelegaan:

“But you know, the thing about romance is… people only get together right at the very end.”

Apa yang terjadi sekarang adalah sebuah proses detachment. Agar saya sanggup, agar saya kuat, agar saya mampu, jika suatu saat kamu pergi meninggalkan saya, meski kamu tidak ingin. Intuisi saya berkata suatu saat nanti kamu akan pergi dengan kebahagiaanmu dan itu tidak dengan saya. Namun itu tidak akan mengurangi kadar sayang saya yang selalu bertambah sepersekiandetiknya terhadap kamu.

Sampai saat itu datang, kita masih bisa menciptakan momen, tawa, bahagia, tangis, dan apapun yang nantinya terkekang dalam memori. Sampai saat itu datang, perasaan saya akan terus bertambah terhadap kamu. Sampai saat itu datang, mari kita berdangdut dan terlarut..

Tere – Tak Ingin Usai

Karena sesungguhnya diriku pun tak ingin usai
Tak ingin akhiri semua ini
Meski mungkin sulit, diriku
Tetap tak ingin usai
Tak ingin akhiri semua ini
Maka hiruplah sejenak dapatkah coba kuberi
Agar aku terus bersamamu
Jangan lagi ada amarah
Tidakkah kau mengerti?
Bahwa ku tak ingin, tak ingin usai, o o o oohh..

 

 

Pondok Gede, 28 Desember 2009. 09:55, sambil mendengarkan Tere, Tak Ingin Usai berulang kali. Sebuah karya fiksi kecil-kecilan yang sedikit dilumuri bumbu kenyataan.

Iklan

2 comments

  1. alia · Desember 28, 2009

    sekaar
    sayang sekali kamu tidak pnya shoutbox
    aku pengen bilang template barunya baguus !
    lebih berwarna ! hehe (yg sblmnya kan cuma hitam :P)

    maaf memberi komen yang tidak sesuai dengan isi postingan, hehe

  2. bestari · Desember 29, 2009

    kar, ini sangat familiar :) isn’t it?
    hahahahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s