Liburan, Warna, dan Mati Rasa

Liburan akhir tahun diputuskan oleh pihak kampus saya berlangsung dari 21 Desember 2009 sampai 3 Januari 2009. Dua minggu yang terkesan cukup lama untuk liburan, meski ternyata berlangsung dengan sangat singkat. Saya sendiri menghabiskannya bersama keluarga, secuil teman kampus, sekelompok teman SMA, dan diri sendiri.

Di minggu pertama banyak saya habiskan untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum tuntas. Sisanya sempat saya habiskan bersama teman-teman kampus melihat pameran foto jurnalistik, berdiskusi dengan (sok) idealis sehingga menghasilkan keinginan untuk melahirkan karya bersama yang juga (sok) idealis secara kecil-kecilan. Namun yang paling berkesan dari minggu pertama adalah apa yang saya alami pada hari Jumat, 25 Desember 2009.

Ya, tanggal 25 Desember 2009, Natal. Saya tidak merayakannya, tetapi sebagian besar teman kampus saya iya. Senior saya yang sangat baik mengundang saya untuk berkunjung ke rumahnya karena orangtuanya tentu masak khusus untuk hari yang spesial itu. Kebetulan ia seorang keturunan Manado dan ibunya membuat kue Klappertaart, kue khas Manado. Kebetulan yang luar biasa lagi, saya sangat suka kue itu!

Maka, sekitar pukul satu siang di hari Natal itu, saya pun berangkat ke rumahnya di Asem Baris, Tebet, Jakarta Selatan. Sesampainya saya, suasana hangat dan kegembiraan Natal dapat saya rasakan sekujur tubuh. Ditambah kehangatan penyambutan saya sebagai tamu –yang tidak merayakan Natal- dari keluarga senior saya itu. Setelah bersalaman, saya langsung disuguhi makan siang karena memang saya datang saat jam makan siang.

Dua makanan khas Manado sudah dihidangkan di atas meja: nasi yang dibungkus daun nasi (saya lupa namanya apa!) dan ikan yang dibumbui sambal ala Manado. Lainnya disajikan pula bakso ikan berkuah bening, mie goreng, siomay, dan otak-otak. Saya diharuskan makan dengan banyak karena makanan yang dimasak tidak boleh ada yang terbuang sia-sia.

“Dulu biasanya kita masak banyak, banyak macam. Sekarang masaknya segini aja karena takut banyak yang dibuang kalau gak habis. Kita kan juga perlu ingat banyak saudara-saudara kita belum tentu bisa makan seperti kita.” ujar Mami L, panggilan untuk tante dari senior saya itu.

Usai makan makanan utama, saya disuguhi puding dan salad buah sebelum akhirnya saya bisa menikmati kue yang saya tunggu-tunggu: Klappertaart! Senior saya tidak memotongnya dalam ukuran kecil tetapi dalam porsi yang cukup besar. Perut saya sudah hampir penuh, tetapi demi Klappertaart yang ternyata memang nikmat sekali, maka ruang itu tetap saya jaga dan saya sisakan untuk kue lezat satu ini.

Usai makan, saya lebih banyak mengobrol dengan senior saya dari perihal sepele, mengomentari tayangan televisi, memperbincangkan kehidupan kampus, dan hobi. Setelah puas berbincang, saya pun pamit karena hari mulai menjelang malam. Saya sangat senang karena bisa diterima dengan begitu ramah dan terbuka meski kami berbeda. Bahkan saya tidak bisa lupa apa yang senior saya katakan terhadap kedatangan saya hari itu, “Terima kasih telah mewarnai Natalku, ya!”

Di minggu kedua, hari-hari liburan saya juga cenderung berlalu begitu saja. Bertemu teman SMA, semacam reuni kecil yang memberikan saya banyak kejutan karena teman-teman saya tidak sedikit yang mengalami perubahan. Di hari itu juga saya mendapat kejutan dari berita meninggalnya tokoh besar Indonesia, K. H. Abdurahman Wahid yang akrab disapa Gus Dur. Saya kagum dengan Almarhum karena keberhasilan beliau menyebarkan pluralisme dan keterbukaan terhadap keberagaman di Indonesia ini. Meskipun sebenarnya saya agak mati rasa karena saya merasa media terlalu banyak bicara tetapi ya begitu-begitu saja. Bahkan kematian tokoh menjadi sesuatu yang dipolitisasi. Bagaimanapun juga, kepergian beliau dilepas secara indah, yakni lewat doa lintas agama yang berlangsung beberapa hari kemudian. Selamat jalan, Gus Dur..

Kematian Gus Dur dan euforia menjelang pergantian tahun membuat saya semakin mati rasa. Kebosanan, kepenatan, dan kejenuhan saya melihat tayangan di televisi yang begitu heboh menggemborkan ‘kebaruan’ yang tanpa substansi serta ramalan-ramalan yang terdengar seperti omong kosong, maraknya tulisan Sale di mal-mal besar Jakarta, dan bunyi-bunyi terompet yang terasa hampa melengkapi perasaan saya di pergantian tahun. Detik pergantian dari 23.59 ke angka 00.00 pun saya lewati begitu saja tanpa ada perasaan apa-apa. Mati rasa.

Mati rasa ini berlanjut sampai di hari akhir liburan. Tugas-tugas liburan terbengkalai, belum ada yang dikerjakan satu pun. Minggu, 3 Januari 2009, saya memperingati satu tahun kepergian Ibunda saya dengan mengunjungi makamnya bersama Ayah. Usai berkunjung ke makam, saya malah ingin memiliki tanah berhektar-hektar lalu kemudian ingin saya jadikan makam. Saat para pengusaha berlomba membeli tanah untuk dijadikan rumah di bumi ini, saya ingin membeli tanah untuk dijadikan tempat peristirahatan manusia yang ‘terakhir’ dan ‘kekal’. Semoga keinginan saya ini bisa terwujud. Mungkin itu akan menjadi resolusi saya di tahun baru ini: menabung untuk membeli tanah.

PS: untuk tugas liburan. perlu di-upload gak sih, sebenernya?

Iklan

One comment

  1. kat · Januari 9, 2010

    mau juga natalan di rumah kashir! hehe

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s