Take Care, Dear

Hai, Bodoh. Ini udah hari kesekian sejak kita sama-sama memutuskan untuk berpisah, tapi aku masih belum bisa terima kenyataan itu.

Kamu tahu gak, Bodoh, kadang aku berharap:

ada orang mabok yang nekat mengendarai mobil lalu nabrak aku yang lagi jalan tanpa tujuan,

ada api yang membakar sebuah gedung pas aku lagi di dalam salah satu bilik WCnya, yang sedang menangisi kebodohanku sendiri dan tak bisa keluar,

ada sebuah lubang besar di jalan ketika aku sedang mengendarai motor dengan pikiran kosong sehingga aku tidak menyadari keberadaan si lubang, dan BRAK,

atau ada penculik yang menyekapku di ruangan tanpa udara karena itu nggak ada bedanya dengan situasi setelah kamu pergi, sama-sama membuatku sesak, nggak bisa napas.

Kalau bisa memilih, aku lebih suka berada dalam kondisi itu semua yang memungkinkan aku untuk nggak mikirin kepergian kamu, untuk nggak terus-terusan nyalahin diri aku, untuk nggak selalu menyesali kebodohan aku, dan berhenti berharap bahwa kamu akan kembali lagi buat aku.

Kalau bisa memilih, aku lebih suka berada dalam kondisi itu semua daripada aku sering berjalan luntang lantung, daripada harus membasahi bantalku setiap malam, daripada mengutuk pekerjaanku yang nggak pernah selesai, daripada selalu ditegur dan ditanya orang, “kenapa, lo?”

Bodoh,

baru aja aku merasa aku memiliki sesuatu yang berharga dalam hidup aku: kamu. Lantas, dengan segera aku harus kehilangan kamu yang pernah kuklaim sebagai energiku, sebagai kebahagiaanku, dan segala gombalan yang entah kenapa aku merasa itu kebenaran. Bukan karena ada orang lain yang lebih baik, bukan karena kamu yang sudah bosan denganku, tetapi karena aku. Karena kebodohanku, Membiarkan hal yang paling berharga dalam hidupku pergi karena justru aku tidak bisa melepaskan. Ya, aku terlalu mengikatmu erat. Ya, aku terlalu menyempitkan ruang gerakmu. Ya, aku terlalu mencengkeram bahumu keras.

Maafin aku ya, Bodoh.

Terkadang, aku masih berharap kamu bisa kembali, kembali menjalankan detik-detikmu dan membaginya bersamaku, seperti dulu. Seringkali aku mempertanyakan, mengapa dulu bisa begitu dan sekarang tidak? Seiring berjalannya waktu, kita masing-masing menyadari bahwa kita terlalu berbeda.

Kamu tidur larut malam, aku tidur jam sembilan. Aku bangun pagi, kamu biasa tidur sepuluh jam. Aku terlalu gombal dan tidak rasional, kamu terlalu peka terhadap kenyataan. Aku terlalu sendu dan perasa, kamu lebih suka memaafkan dan lanjutkan perjalanan. Aku terlalu mudah untuk bilang semuanya, kamu lebih suka membuatku penasaran. Aku butuh pernyataan, kamu memilih untuk membuktikan lewat perbuatan.

Akhirnya kita sama-sama menyadari bahwa dengan segala perbedaan itu, kita memang tidak bisa bersama. Keyakinan kita bahwa ada satu persamaan: sama-sama ingin menjalani hubungan ini, telah luntur dan pudar sudah. Perbedaan terlalu agresif menunjukkan keberadaannya dan menghancurkan keyakinan itu sampai akarnya.

Tapi, Bodoh, aku tahu banget bahwa aku nggak bisa sama kamu, tapi.. aku lebih tahu lagi bahwa aku lebih nggak bisa apa-apa tanpa kamu.

Sudah hampir tiga kali, kamu ingin pergi, lalu kembali. Entah karena kamu ingin, atau karena kamu merasa tidak tega meninggalkanku karena kamu tahu bahwa aku akan sekacau dan serusak ini. Apapun alasannya, aku tahu keduanya adalah hal luar biasa yang telah kamu lakukan untukku, sungguh. Aku saja yang terlalu buta dan tidak menyadari segala upaya dan usahamu. Sekali lagi, maafkan. Namun, dari tiga kali itu, kita tidak pernah bisa menemukan penyelesaiannya, tapi jangan kamu pikir aku tidak berusaha untuk mengurangi kadar kecemburuanku.

Lalu, pilihannya tinggal dua: kembali bersama atau tidak bersama sama sekali. Pilihan pertama rasanya sudah tidak mungkin dijalani, maka yang ada tinggal pilihan kedua, bukan? Aku tidak bisa lagi menahanmu. Pada akhirnya kamu akan pergi meninggalkanku, karena kesalahanku sendiri. Sekarang atau nanti, kamu tetap akan pergi. Maka, bukankah sebaiknya sekarang daripada nanti? Toh, lukanya tetap sama. Perihnya tetap sama. Justru jika berpisah sekarang, maka tidak perlu lelah lagi menanggapi kecemburuanku, tidak perlu buang-buang energi dan emosi untuk kesalahpahaman yang sama. Iya, kan?

Aku tidak ingin kamu meninggalkanku dengan merasa terbebani oleh moral bahwa aku dulu pernah bersikap baik. Jangan. Pergilah karena kamu ingin pergi, bebaskan dirimu dan rayakan terlepasnya kamu dari ikatanku. Sungguh, sekarang aku lebih memilih untuk melihatmu bahagia dengan siapapun yang bukan aku, daripada kamu bersamaku tetapi selalu tertekan dan meronta ingin lepas dari ikatan.

Akhirnya, aku hanya bisa meminta maaf atas perlakuanku yang telah membuatmu sedih, marah, kecewa, bersalah, dan terbeban. Terima kasih atas semua pengorbanan, kesabaran, dan kebaikan kamu :) Jika hidup diibaratkan catatan harian, maka aku sudah sangat senang dan bahagia biarpun aku cuma titik atau bahkan coretan tinta yang tidak sengaja dalam catatan harian kamu, Bodoh. Namun, jangan paksa aku untuk tidak bisa sayang sama kamu lagi, karena catatan harian aku saat ini hanya dipenuhi tentang kamu. Ibaratnya kamu nikotin, maka saat ini tubuhku sudah dipenuhi nikotin, dan untuk tidak merokok lagi, aku harus menunggu sampai semua nikotin itu benar-benar keluar dari tubuh aku, pelan-pelan..

Last but not least, take care ya, Bodoh ;) Aku cuma bisa doain kamu dari jauh, tapi aku tetep ada kalau kamu masih butuh aku. Izinin aku untuk tetap jadi orang yang manggil kamu Bodoh, ya? :)

090510 – 12:30

sambil mendengarkan Ipang menyanyi Sekali Lagi

Rangkaian karakter, huruf, kata, kalimat, dan paragraf di atas diniatkan menjadi suatu cerita pendek. Sebuah fiksi yang ditulis oleh seorang saya, yang seringkali kesulitan membedakan fiksi dengan non-fiksi. Enjoy!

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s