I Quit

11 Mei 2010. Selasa. Merupakan hari yang saya klaim sebagai hari terakhir saya merokok dan meminum minuman keras. Niatnya mau saya deskripsikan lebih, entah kenapa saya tidak punya deskripsi yang tepat. Rokok dan alkohol. Dua sahabat dilematis saya yang selalu menemani saya dan menghilangkan beban pikiran berlebihan di otak saya, sekaligus membakar tenggorokan saya, mengotori paru-paru saya, dan membuat kepala saya pusing setengah mati.

Kenapa berhenti? Bukan cuma setelah obrolan saya dengan Ayah teman saya di suatu tempat makan, di suatu kebetulan. Entah, ingin berhenti saja. Atau mungkin justru karena seseorang (dia lagi, dia lagi), saya ingin berhenti. Bukan dengan harapan dia akan kembali setelah saya begini, tetapi justru sebagai pembuktian rasa sayang saya, bahwa keberadaan dan kehadiran dia, dulu, lalu kepergiannya, kini, tidak akan membuat saya ‘merusak’ diri saya.

Semoga ini bisa menghapus rasa bersalahmu, ya! (Tapi kayaknya dia malah gak enak deh kalau gue berubah gara-gara dia -______-)

Well, bagi saya, pilihan untuk merokok dan minum atau justru untuk berhenti, hampir sama seperti pilihan untuk mempercayai Tuhan, Agama, dan tetek bengeknya. Itu adalah pilihan yang sangat, amat, teramat, personal.

Tuhan sesaat tampak tidak bisa dinalar logika begitu saja, tetapi iman, atau rasa percaya akan keberadaanNya, saya rasa tergantung pengalaman pribadi tiap-tiap orang mengenaiNya. Tergantung pengalaman spiritual, pengalaman religiusitas masing-masing yang tentunya antara orang yang satu dengan yang lain tidaklah sama.

Begitupula dengan merokok, khususnya. Sudah sangat jelas bahwa zat-zat yang dikandung sebuah rokok tidak baik bagi tubuh, tetapi orang tetap merokok karena mungkin pengalaman tiap orang akan rokok itu beda-beda. Ayah teman saya akhirnya berhenti merokok karena melihat ada penduduk yang harus bekerja demi mendapatkan lima ratus perak untuk makan, sedangkan dia menghabiskan sekian ribu untuk rokok. Atau mungkin Bimbim Slank, yang akhirnya memutuskan untuk berhenti rokok karena ada suatu hal yang dia alami, secara personal, privat, yang membuat dia memilih untuk berhenti.

Saya? Apa pengalaman saya hingga memutuskan berhenti merokok begitu tiba-tiba? Tidak tahu. Mungkin.. karena ada yang tidak mau mendengar jika saya laporan merokok karena tidak mau membebani pikirannya dengan terlalu mengkhawatirkan saya.

Thanks to you, wherever you are :)

Iklan

One comment

  1. SEFT · Mei 14, 2010

    coba pelajari tehnik SEFT… hanya dengan dua jari bisa berhenti merokok …. salam kenal dari buku SEFT

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s