Pengakuan

Hai, Bodoh. Ini aku lagi. Pasti kamu bosen. Atau justru kamu tidak peduli. Aku tidak tahu, entah kamu membaca ini atau membenci ini. Bukan aku tidak peduli, tapi aku tidak bisa memungkiri. Aku merasa harus membuat ini. Sudah hampir seminggu sejak kamu menyatakan pergi. Lantas aku memutuskan untuk menghitung hari, berapa lama aku sanggup melepaskanmu dari takhta pikiranku.

Bodoh. Aku rindu. Sekarang mungkin aku yang bodoh. Lebih bodoh dari kamu, si Bodoh. Aku tiba-tiba seringkali merasa tidak bernyali untuk berpapasan denganmu. Aku merasa kehilangan daya untuk menampakkan diri di hadapmu. Entah kenapa. Dengan semua memori yang tersisa, tetapi kenyataan mengatakan bahwa aku tidak mampu merengkuhmu membuat tubuhku bereaksi tidak tentu. Terserah, percaya atau tidak.

Bodoh. Temanku pernah bertanya melalui twitternya. “Lebih baik berpisah baik-baik atau justru ngga baik-baik? Katanya kalau ngga baik-baik lebih enak karena lebih gampang ngelepasnya.” (Itu 140 karakter gak, sih? Pokoknya gitu, deh, hehe.) Aku jawab, “Buat gue, gak ada rumusan buat bisa ngelepas diri dari seseorang. Tiap orang punya masanya masing-masing buat bisa melepaskan orang yang dia sayang. Jadi, gue prefer pisah baik-baik.”

Sekarang aku nyesel bilang gitu. Perpisahan kita yang terlalu baik-baik bikin aku gak bisa banget ngelepasin kamu, Bodoh. Aku berharap dengan segala kebodohan aku sekarang bisa bikin kamu sebel, benci, marah sama aku, biar lebih gampang buat aku ngelupain kamu dan sebaliknya. Tapi kamu justru malah nge-iya-in, nge-he eh-in, nge-santai-in semua yang aku keluhkan ke kamu. Ya ampun. Jangan malah makin tampak sempurna, dong. Jangan malah bikin aku gak rela ngelepas kamu. Jangan malah bikin aku makin sayang sama kamu.

I’m so clueless here, dear.

Bodoh. Aku masih sering banget nyoba bangun tiap pagi, buat ngeSMS kamu biar bangun, biar gak telat kuliah. Aku masih sering banget pengen ngeSMS kamu, “lagi di mana?” kalau kita lagi gak bisa di satu ruang dan waktu yang sama. Aku masih sering banget pengen ngeSMS kamu, “aku udah di rumah. SMS aku kalau udah nyampe rumah, ya.” Aku masih sering banget pengen ngeSMS kamu, “BODOH JELEK KAYAK BEBEK.” Aku masih sering banget pengen ngeSMS kamu, “jangan lupa makan nasi!” atau “jangan tidur pagi-pagi!” atau “jangan gigit jari!”. Aku masih sering banget pengen ngeSMS kamu apapun karena satu-satunya SMS yang rutin masuk ke inbox aku cuma SMS kamu.

And what hurt the most is.. I just can’t do it, anymore.

Bodoh. Aku masih banget kebangun tiap jam, pagi buta, menanti-nanti ada tulisan: 1 message received. Bukan tagihan untuk bayar utang pulsa, bukan jartel (yang sangat telat!) buat dateng UKM, tetapi pesan dari kamu kalau kamu baru aja mau tidur. Ya, aku sering banget ngecek HP aku tiap saat, menunggu tulisan keramat itu mampir sebagai penanda kalau kamu udah di rumah. Ya, aku sering banget nengok HP aku, berharap ada SMS dari kamu yang nanyain aku lagi di mana. Ya, aku sering banget ngarep kalau HP aku bunyi, itu karena ada SMS kamu yang bilang kalau kamu baru bangun tidur.

Tapi yang aku lihat cuma gambar dua kartun babi bodoh yang nyengir, mungkin ngetawain betapa bodohnya aku menunggu hal yang gak mungkin. Tapi yang aku lihat cuma angka-angka penunjuk jam berapa sekarang. Tapi yang aku dapet cuma SMS dari temen-temenku biar aku nggak galau keterlaluan.

Seandainya, ada instansi yang memang mengambil memori manusia tentang sesuatu seperti di film Eternal Sunshine of the Spotless Mind, aku pasti ikutan. Tapi kamu tahu nggak, maksud film itu apa? Biarpun memori kamu tentang seseorang yang kamu sayang dihapus, ujung-ujungnya kamu tetep falling untuk orang yang itu-itu juga. Lucky them!

Mereka bisa tetep bersama pada akhirnya.

Bodoh. Bukan aku gak berusaha untuk mencoba, “ya udahlah.” Tapi aku selalu gak bisa. Apalagi kamu justru seakan tidak ingin aku kacau, galau, balau, dan risau, makin membuatku tidak bisa melepaskan kamu sepenuhnya.

Bodoh. Aku berharap lirik band U2 itu benar apa adanya: I’m just stuck in the moment, this time will pass. Tapi kapan? Lama banget. Aku butuh secepatnya. Aku mau sehat. Aku gak mau sekarat. Tapi gimana bisa? Sekarang aja aku nangis nulis ini.

Bodoh. Seandainya kata rindu bisa mendeskripsikan dirinya dengan tepat, apa adanya, tidak berlebihan, tidak kekurangan..

120510 – 00:30

Sambil mendengarkan Adele – Make You Feel My Love, dan mengecek HP.

SIALAN. Dua kartun babi itu masih nyengir.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s