Move On, I Wish

Halo, Bodoh. Belum selesai sehari, aku sudah menulis lagi buat kamu. Jika Fanton Drummond* punya semacam surat masturbasi, maka aku punya ini. Serangkaian surat-surat muntahan pikiran dan perasaanku, yang tidak mungkin kusampaikan padamu. Biar ini kusimpan sendiri, untuk menjadi suatu tanda masa bahwa aku pernah sekacau ini, pernah dalam kondisi ini. Sekaligus sarana agar beban di kepalaku berkurang, agar ruang di otakku tidak sesak, agar hati ini tetap bisa bernafas.

Bodoh,

Mengapa Tuhan mengizinkan kita berada dalam pertemuan? Mengapa Tuhan mengizinkan aku memilihmu dan kamu sempat memilihku? Mengapa Tuhan mengizinkan kita membangun suatu hubungan yang di dalamnya terjadi perjanjian-perjanjian, yang pada akhirnya tidak bisa diwujudkan? Lantas kemudian masing-masing menagih janji yang telah diucapkan. Mengapa Tuhan mengizinkan kita melakukan hal bersama, menciptakan momen yang selamanya terekam dalam memori? Yang untuk menghapusnya tidak bisa sekedar memencet tombol Ctrl+Alt+Del? Mengapa Tuhan mengizinkan kamu untuk memengaruhiku sebegitunya? Ya, sebegitunya. Mengapa?

Aku menunggu jawaban untuk semua pertanyaan itu.

Sambil menunggu, aku menyadari sesuatu. Aku tidak bisa begini selalu. Aku terlalu, terlalu memikirkan perasaanku, Aku hanya, hanya memikirkan apa yang kurasa. Aku berpikir bahwa aku lumpuh, padahal aku yang terlalu tidak mau menggerakkan tangan kakiku untuk melangkah. Aku berpikir bahwa aku sekarat, padahal aku yang terlalu tidak mau diriku disembuhkan. Aku berpikir bahwa aku tenggelam, padahal aku yang tidak mau mencoba naik ke permukaan.

Keterlaluan.

Baiklah, sudah kuputuskan. I’ll move on. For you. Aku akan meneruskan perjalanan, aku akan membuat tulisan-tulisan dalam catatan harianku meski itu bukan lagi selalu tentangmu, aku akan mengusir nikotin-nikotin ini segera keluar dari tubuhku, aku akan mencari tempat yang masih menyisakan oksigen untukku bernafas, aku akan terus menjaga jantung kehidupanku terus berdetak.

Percayalah, semua akan kulakukan karenamu dan untukmu.

Namun, biarlah sesekali aku kacau. Biarlah sesekali aku sendu. Karena aku tetap tidak bisa berpura-pura bahwa aku tidak kenapa-kenapa. Aku hanya mentransformasikannya dalam bentuk yang lain. Biarkan tulisan-tulisan depresiku tetap muncul, karena itu satu-satunya cara untuk aku tetap bisa melanjutkan langkah-langkah hidupku.

I will try. To move on.


130510 – 21:20

setelah menghembuskan satu tarikan nafas panjang sambil mendengarkan She and Him – In The Sun.

Iklan

One comment

  1. dewe · Mei 15, 2010

    Kak sekar. aku copas ini boleh gaaaa?

    boleh aja ;) buat di mana emang? kalau mau dipublish lagi, kasih tau aku link-nya ya? makasihhhhh :D

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s