Obsesif Kompulsif

Kamis, 13 Mei 2010. Saya curhat sama teman curhat saya yang tiada duanya. Namanya Gita Adinda. Kami tidak saling bergantung, tetapi saya selalu tahu bahwa saya bisa bercerita kepadanya dan dia bisa memberikan saya ‘nasehat-nasehat’ terbaiknya yang apa adanya. Dia? Sepertinya tidak butuh apa-apa dari saya! Salah satu ‘nasehat’nya yang pernah saya quote: “kar, kar. kalo lo gak bisa tergantung sama Tuhan, setidaknya tergantunglah sama diri lo sendiri.” Saya bikin tulisan itu di Photoshop dan saya jadikan wallpaper laptop saya.

Curhatan di Kamis, 13 Mei 2010 itu kira-kira begini,

Saya (S): kasih tau gue cara buat ngelupain orang yg kita sayang, atau buat mengurangi kadar sayang kita, atau biar kita bisa biasa aja, bisa napas normal, bisa jalan..

Gita (G): Aku gak tau, kenapa kamu masih nanyain hal ini setelah semalam kamu jelas2 melihat 3 wanita yang aku yakin bgt mengalami kehilangan(lebih dahsyat dan) hebat (daripada yg kamu alami) dalam hidupnya. Contoh aja mereka, apa mereka pernah ngelupain org yg mereka (yg sangat aku yakin cintanya lebih dlm daripada yg kamu punya)? Apa mereka mengurangi kadarnya?

S: but they got loved back.

G: Memang, karena apa coba? Karena mereka gak tenggelam dalam kesedihan mereka. Karena mereka tegar menjalaninya. Mereka gak mengeluh! Kalaupun mungkin mereka merasa kesedihan, mereka gak terlalu memperlihatkannya. Ketegaran mereka yg membuat mereka dicintai.

S: Oh, God bless you, Gita Adinda. Tampar gue terus ya tiap gue ngeluh, kacau, goblok kayak gini. Makasih ya, Git. Makasih. Jangan bosen ya gue datengin terus

G: Hahaha, udah dua aja ngomong godbless ke gw (lo dan glo), oh ahmad albar please bless us! Sipsip

S: oh, agama lo udah baru ya. agamanya ahmad albar -_- gue terlalu mikirin perasaan gue ya git padahal gue bs ngelakuin byk hal..

G: YAP THAT’S WHAT I MEAN DUDE. Nooo, ahmad albar kan pentolan godbless, nyehehehhe

S: iya gue tau. ah gak asik nih gak nyambung -_- well olraight! it’s okay! i keep it to myself, in the sun! ayo semangat karrrr kalo lo gak bs ngelupain dia, gak bs gak sayang dia, tp jg gak bs sama dia, lakukan hal-hal positif yg lo persembahkan buat dia! buat nyokap jg karrr semangaaaaaattt!

G: Sip kar. Gw sangat yakin, kalo dia gak pernah mau lo kayak gini (frustasi, depresi), dia pasti terganggu dengan sikap obsesif kompulsif kamu yg kayak gini. Gw juga pernah di obsesif-in sama seorang teman waktu sma. Dan sumpah kar, itu mengganggu gw bgt. Semangat kar. lo pasti bisa melewati fase ini.

No hard feeling dear, anggep aja kata2 aku adalah wake up call bwat kamu!

S: ketemu! ketemu jawabannya! gue OBSESIF KOMPULSIF! sumpah. lo udh bkn jd wake up call gue doang, lo nemuin masalah gue, git! parahhhh. gue emg gitu, gue br sadar kyk gt. gue sering bgt kyk gini ke beberapa org sblm ke org yg ini. well, then. you have no idea betapa leganya gue, git. i need to be cured.

Saya tidak marah. Saya tidak bingung. Saya merasa ia benar. Ya, ia menemukan kegelisahan saya yang selama ini tidak terungkap. Saya obsesif kompulsif. Saya memiliki keinginan yang luar biasa kuat sehingga menjadi nafsu untuk MEMILIKI. Saya posesif, saya cemburuan, terhadap orang tertentu.

Tiba-tiba saya merasa bersalah kepada siapapun yang pernah merasa saya ikat terlalu erat. Maaf sekali karena saya mencoba mengerti ketidaknyamanan itu. Setelah berpikir beberapa saat, entah kenapa saya merasa perlu menemui psikolog. Saya merasa saya perlu tahu apa penyebab obsesif kompulsif saya ini dan bagaimana cara mengelolanya. Saya lelah kehilangan, saya tidak ingin makin banyak yang meninggalkan saya, dan saya tidak ingin membuat lebih banyak orang merasa tidak nyaman karena sifat saya ini. Daripada saya merasa semua baik-baik saja dan bisa ditolerir, padahal ini sudah terjadi berulang kali, hanya saja dengan orang yang berbeda.

Hari ini, 18 Mei 2010. Saya ke Ciputat. Menemui seorang psikolog yang sehari sebelumnya saya atur waktu bertemunya. Ya, bertemu psikolog harus mengatur janji karena sifatnya yang berupa konsultasi, jadi tidak bisa seperti cek ke dokter umum biasa.

30 menit saya memakai jasanya. Ternyata masalah saya tidak sebegitu beratnya sampai-sampai saya harus ke Psikolog. Hanya masalah di diri saya sendiri, di mana beliau hanya berusaha memberikan saran, dan mungkin sebenarnya saya sudah cukup tau jawaban-jawabannya.

Kesimpulan dari 30 menit itu adalah bahwa saya sedang berada di fase peralihan ke tahap ‘dewasa’, bagaimana saya harus bisa menangani mood saya yang masih suka berubah-ubah, dan betapa saya mengalami banyak hal dalam satu tahun (khususnya di 2009 lalu).

Yang paling saya suka dari psikolog ini, meskipun ia memakai jilbab, tapi ia tidak menyinggung-nyinggung soal Tuhan dan agama sama sekali. Ia tidak berusaha menggurui saya bahwa saya harus makin mendekatkan diri pada Tuhan dan sebagainya (ya karena memang dia psikolog, bukan guru agama). Namun, hal tersebut justru membuat saya ingin mulai mencoba mencari jalan saya kembali kepadaNya.

Well, Sekar. Since today, let’s try to be more positive, more productive, more creative! Distract your negative mind with positive activities! Yes, I want to be happy without pretending, and I want to smile and laugh like I mean it! Respect yourself! You can’t really own person you love. Try to balance. Dan IKHLAS serta BERSYUKUR lah :)

*didedikasikan untuk Gitsy, yang selalu cemerlang saat dibutuhkan, meski kopong setiap saat kecuali saat dibutuhkan! hahaha, thanks, Git :)

Iklan

2 comments

  1. yogi · Mei 18, 2010

    sabar ya mba sekar T.T

  2. gitsy · Mei 18, 2010

    :)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s