Donor

20 Mei 2010. Saya melakukan hal yang tak pernah saya bayangkan akan mampu saya lakukan. Bukan, bukan nembak gebetan, bukan nyolong kertas ujian, apalagi guling-guling di belakang kampus yang udah kayak gurun sahara. Bukan. Saya ikutan kegiatan donor darah di kampus saya. Sebuah inisiatif mulia yang diselenggarakan oleh anak-anak Ilmu Komunikasi angkatan 2009, UKM Rencang (yang bergerak di bidang sosial), dan PMI tentunya.

Kenapa saya merasa saya tidak mampu melakukan donor darah? Satu, karena saya suka berlebihan kalau ngerasa sakit. Dicubit sedikit, kesakitan. Dipukul sedikit, kesakitan. Gak bisa ngerasa sakit sedikit, pun. Sensitif banget deh sama yang bikin sakit (termasuk pria-pria yang bikin sakit hati! hehehe.) Dua, otak saya gak kuat ngebayangin jarum masuk ke lengan saya dan nyedot darah saya satu kantong. Sumpah, sampai setelah donor pun saya masih gak kebayang gimana bisa. Darah buat saya horor banget, bisa bikin merinding sendiri.

Kedua alasan tersebut yang bikin otak saya penuh ketakutan-ketakutan yang mengakibatkan saya gak pernah sanggup buat mengikuti donor darah ini. Namun, apa yang akhirnya bisa bikin saya dengan bangga menuliskan cerita saya tentang donor darah ini?

September 2008. Saya baru masuk dunia perkuliahan, (alm.) ibu saya malah masuk Rumah Sakit. Kurang lebih seminggu dirawat di RS. Pelni, ibu saya kekurangan darah. Dokter menyarankan agar ayah dan saya mendonorkan darah untuk ibu karena ibu membutuhkan dua kantong darah untuk ditransfusikan. Kebetulan, kami bertiga sama-sama bergolongan darah A. Kompak banget, kan? \m/

Berangkatlah saya dan ayah ke PMI di Kramat, daerah Senen sana. Selama perjalanan saya berusaha menyingkirkan ketakutan saya untuk mendonor darah karena saya tahu, ini saya lakukan untuk ibu saya.

Sebelum bisa melakukan pendonoran, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi. Dari isi formulir, menjawab beberapa pertanyaan seputar penyakit, sampai tes golongan darah dan hemoglobin. Ayah saya berhasil donor. Saya tidak. Saya terhenti karena pernyataan saya bahwa dalam jangka waktu beberapa bulan terakhir, saya baru menjalani vaksinasi. Ya, saat itu memang saya sedang divaksin untuk mencegah kanker serviks. Saya gagal mendonor darah untuk ibu saya sendiri.

Namun, campur tangan Tuhan selalu luar biasa. Kebutuhan darah ibu bisa ditutupi dengan persediaan darah dari PMI, darah dari seorang siapa yang tidak saya kenal, ditambah darah ayah yang baru didonor. Sepertinya persediaan darah tersebut diberikan karena ayah saya memang telah beberapa kali mengikuti kegiatan donor darah, jadi ia memiliki kartu penanda dari PMI. Padahal, diketahui kemudian, setelah saya cek, sebenarnya saya bisa melakukan donor darah, karena jangka waktu dari saya vaksinasi terakhir sampai pada hari itu saya donor, sudah memenuhi persyaratan. Hal ini membekaskan penyesalan lebih karena saya gagal mendonor darah untuk ibu saya sendiri karena salah informasi -_______-

Sejak saat itu, saya berjanji pada diri saya sendiri bahwa saya akan melakukan donor darah betapapun saya takut untuk melakukannya dan meski itu bukan untuk ibu saya. Namun, sampai akhirnya ibu saya telah berpulang ke rumahnya yang kekal dan sejati, saya tetap belum melangsungkan donor darah. Sempat satu kali saya meminta teman saya mengantarkan saya ke PMI untuk donor darah karena saya pasti tidak akan bisa melakukannya sendiri, tapi rencana tersebut gagal.

Sampai akhirnya, teman baik saya, si Ocha Balon, menawarkan untuk mengikuti kegiatan donor darah tersebut. Tanpa pikir panjang, saya langsung mengiyakan. Jadilah, tanggal 20 Mei 2010 tersebut saya berhasil donor darah!

Keberhasilan tersebut didukung oleh Shirley Tamara yang rela menemani saya dan mendukung penuh dalam melewati fase-fase masuknya jarum ke lengan saya, lalu Sheridan Olenka yang bersedia membuang pulsa dan waktunya menemani saya SMSan saat darah-darah saya mengalir ke kantong, serta Letysia Searamita, Izzy Tanasale, Gita Adinda, Deasy April, dan Stephanie Yovita, yang menunggu sampai saya berhasil mendapatkan pop mie, telur rebus, dan milo coklat gratis!

Sampai saat ini saya masih tidak tahu bagaimana saya bisa berhasil melakukan donor darah tersebut. Karena saya benar-benar tidak berani melihat saat jarum masuk, saat jarum dicabut, saat darah mengalir, saya tidak mengetahui prosesnya itu semua. Saya alihkan pikiran saya, ya mungkin kadang-kadang dengan tidak mengetahui sesuatu adalah cara untuk kita bisa melakukan sesuatu. It works, for me. Saya sama sekali tidak mengetahui prosesnya, tiba-tiba darah saya sudah sekantong! Sedikit pusing dan lemas, memang, tapi itu pusing dan lemas yang menyenangkan, after all!

pasrah -___-

Satu lagi, yang sangat saya pelajari dari mendonor ini adalah bahwa selama ini saya berpikiran sangat sempit dan bodoh. Kita berpikir bahwa dengan mendonor maka darah kita disedot, dikeluarkan, diambil, yang menciptakan pola pikir bahwa darah kita berkurang. Karena menurut kita hal itu membuat kita merasa kekurangan, maka bisa jadi hal tersebut yang menghalangi kita mendonor. Sekantong pula! Namun, kita tidak pernah terpikir bahwa dengan memberi segitu, justru kita mendapatkan sel-sel darah baru yang justru bisa membuat kita lebih segar!

Bayangkan, dengan memberi, kita tidak hanya kehilangan, tetapi justru mendapatkan sesuatu yang lebih baik. Hal ini yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya.

Me and My Blood!

Iklan

One comment

  1. efraim · Mei 28, 2010

    ahiyy….
    panik berasa ga panik!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s