Pernah

Hai, Bodoh. It’s me. Again. Semoga kamu tidak ingin muntah membaca muntahan-muntahan pikiran aku. Karena aku tahu, ini tidak mungkin sampai padamu.

Bodoh, sudah hampir tiga minggu sejak kata itu terucap. The good bye. Ya, it supposed to be a good one. Well, kamu bisa lihat sendiri, aku berusaha, berusaha, dan terus berusaha untuk bisa biasa saja, untuk bisa terus, untuk bisa tetap bertahan dalam kondisi apapun. Kadang bisa, kadang rapuh, kadang bangkit, kadang terpuruk, aku tidak punya stabilizer, aku belum bisa menciptakan alat itu untuk diriku.

Bodoh, aku mau tidak peduli kalau kamu sekarang sudah bersama orang yang sangat kamu inginkan untuk bersamamu. Bodoh, aku mau melepaskanmu karena aku terlalu tahu bahwa we never meant to be together. Bodoh, aku mau bisa tersenyum, tertawa, merasa bahagia, setiap kamu tersenyum, tertawa, dan merasa bahagia, meskipun bukan aku penyebabnya. Aku mau itu semua, tetapi kenapa aku masih kurang bisa, ya?

Aku heran, kenapa aku tidak bisa seperti mobil yang tidak punya memori? Semua begitu membekas dan seringkali muncul tanpa kuduga dan kuharapkan. Ketika mendengar lagu ini, ketika mendengar kata itu, ketika melihat merek mobil, semuanya mengarahkan ingatanku kepadamu.

Mengapa aku begitu berat melepaskan? Mengapa aku begitu sulit melupakan? Jangan-jangan aku cuma penasaran. Apa iya, sudah tidak lagi ada rasa dan keinginan untuk bersama? Sama sekali? Apa iya, sekian detik yang kita alami, rasa itu pernah ada? Apa iya, yang kamu rasakan untuknya kini pernah kamu rasakan untukku dulu?

Aku tahu. Pernah. Kamu pernah merasakan itu semua. Tolong, mohon, akui bahwa kamu memang pernah merasakan itu semua. Pernah merasakan perasaan yang kini kamu peruntukkan kepada orang lain. Atau ternyata tidak pernah?

Mungkin saatnya bagiku untuk mensyukuri bahwa aku pernah menjadi si ‘pernah’. Aku hanyalah si ‘pernah’ dan sudah, ceritaku sudah usai, kisahku sudah berakhir, dan aku hanya seonggok masa lalu, yang aku tidak pernah tahu apakah aku pernah berarti sedetik pun dalam hidupmu.

Maafkan aku, Bodoh. Sungguh ini hal tersulit yang pernah kulakukan. Jika pun ada satu hal yang paling sia-sia yang pernah kulakukan di hidupku, itu adalah upayaku melupakanmu. Sepertinya semua ini terjadi karena aku benar-benar baru pertama kali memiliki seseorang yang kusayang dan menyayangiku balik. Kamu adalah orang pertama yang menjadi muara atensiku sekaligus sumber aku bisa mendapatkan perhatian. Begitu kamu pergi.. BUFF! Aku tidak percaya aku kehilangan satu-satunya hal luar biasa yang aku miliki.

Past.. is still the past. Di film Bright Star, tokoh John Keats sempat berujar, bahwa sentuhan memiliki ingatan. That’s what i feel, dear. Help me to forget. Help me.

290510-17:08

..while listening to She & Him – Ridin’ In My Car

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s