19 going on 20


argh!

Hari ini adalah hari pertama di bulan Ramadhan. Saya nggak bisa ngerasa apa-apa (kecuali lapar dan haus, tentunya, hahaha) sedangkan status facebook beberapa teman saya beragam: ada yang semangat menyambut, ada yang mengucapkan selamat berpuasa, ada juga dosen saya yang mempertanyakan “bulan yang suci atau hati yang suci?”, dan lainnya.

Kenapa, ya? Sepertinya semakin hari saya semakin mati rasa. Sepertinya semakin hari saya semakin kehilangan passion hidup saya. Sepertinya semakin hari saya semakin negatif saja. Sepertinya semakin hari saya semakin merasa terluka. Sepertinya semakin hari saya semakin lupa bagaimana caranya percaya.

Segala yang terjadi di hidup saya dua tahun belakangan ini, di fase-fase peralihan, semakin banyak kegelisahan-kegelisahan yang entah muncul dari mana dan terus merongrong perasaan dan pikiran. Mungkin sakit hati sekali tidak mengapa. Namun, jika sakit hati itu muncul berkali-kali, terus menerus, tanpa memberi saya jeda untuk bernafas, saya bisa apa? Ya, saya bisa menangis, marah, benci, memaki-maki, dan memandang hidup ini semakin pahit saja. Orang yang datang, pergi, lalu datang lagi, berjanji, mengacak-acak diri saya, lalu pergi lagi. Terserah nasib saja lah, yang semakin hari semakin seenak jidat.

Dan hati ini, yang telah berulang kali percaya pada sesuatu yang tidak bisa dipercaya dalam wujudnya yang berbeda, telah berulang kali pula hancur, retak, dan menjelma menjadi serpihan tak berguna. Lalu, kubuat lagi satu, yang baru, yang terbungkus kebencian, kemarahan, ketidakpedulian, kesinisan, yang meskipun itu membahayakan, setidaknya semua itu menghindari hati saya hancur kembali yang siap disapu dan dibuang ke tempat sampah, seperti rambut sisa di lantai tempat tukang cukur.

Izinkan saya menyalahkan, pengalaman yang membuat saya seperti ini.

Katanya, ini peralihan saya untuk menjadi lebih dewasa. Haruskah saya menjadi dewasa? Haruskah sakit hati untuk menjadi dewasa? Haruskah dengan membenci, marah, dan memaki-maki untuk menjadi dewasa? Haruskah saya kehilangan rasa dan kepekaan untuk menjadi dewasa? Haruskah saya menyalahkan orang-orang yang membuat saya merasa sakit hati? Haruskah saya tidak peduli? Haruskah saya menjaga kebencian, kemarahan, ketidakpedulian, dan kesinisan agar hati saya tidak hancur lagi? Haruskah saya menjunjung tinggi rasio dan merendahkan intuisi? Haruskah saya memilih?

Kita harus bisa memisahkan telur gaib dari telur biasa, telur bebek dari telur angsa, atau telur ayam kampung dari telur ayam negeri. Setelah itu baru kita bisa menilai masing-masing telur. Tanpa itu, kita hanya akan melakukan kerancuan. (Manjali dan Cakrabirawa, p. 139)

Dulu saya pernah menyatakan, bahwa yang membedakan anak kecil dan orang dewasa adalah kemampuan membedakan. Membedakan mana yang benar, mana yang salah, mana yang gak salah dan gak benar. Kemampuan membedakan mana yang hitam, putih, dan abu-abu. Kemampuan membedakan sikap yang tepat dalam menanggapi sesuatu. Kemampuan membedakan mana masa lalu yang dikunci rapat dalam peti dan mana yang kita biarkan saja hingga sesekali muncul saat dibutuhkan. Sepertinya saya harus mencoba itu semua sekarang, di usia saya yang 19 tahun, yang kata teman saya itu adalah saat-saat terakhir berusia kepala ‘1’. Karena begitu menginjak usia 20, lebih banyak lagi hal yang akan memengaruhi hidup kita. Well, some people said, “life begins at twenty!”.

Baiklah, saya akan coba berhenti mengeluh dalam hidup saya. Dan mencoba untuk menerapkan kutipan yang pernah saya sanjung dari TV series Ugly Betty, bahwa tidak peduli bagaimana caranya kita mencapai posisi sekarang, tetapi yang penting adalah apa yang bisa kita lakukan dengan posisi kita tersebut. Mungkin buat saya, hal itu jadi seperti ini:

Kita tidak pernah meminta untuk dilahirkan. Namun, tidak peduli alasan kenapa Tuhan memilih kita untuk lahir dan hidup di dunia ini, tetapi yang penting adalah apa yang bisa kita lakukan saat kita sudah dilahirkan dan hidup di dunia ini..

everyone has got their own 'nametag'

Iklan

2 comments

  1. alia · Agustus 11, 2010

    sekaar :)
    gw udah baca dan gw juga menyadari
    semakin bertambahnya usia, rasanya gw semakin hitam melihat dunia
    gw kadang merindukan rasanya menjadi anak kecil yang bisa melihat dunia berwarna cerah ceria

  2. rezky · Agustus 11, 2010

    sek, gatau kenapa gue seneng banget baca tulisan2 lo.
    buat yang ini, gue cuma bisa bilang.

    you know it’s time..
    that we…
    grow old and do some shit…

    hahahaha

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s