Kehilangan

Sudah empat hari, saya tidak bisa tidur saat malam gelap. Biasanya, begitu di kasur, saya langsung terlelap. Banyak pikiran lari kesana kemari melintas seperti di arena balap. Entah kenapa, tembok-tembok kamar masih minta untuk terus ditatap.

Hehehe, sok serius banget, ya. Hmm, ya pokoknya tumben-tumbenan saya yang biasanya tidur sekitar jam 21.00, beberapa hari belakangan ini gak bisa tidur nyenyak dan baru bisa tidur sekitar jam 02.00 – 03.00 pagi. Mungkin buat orang-orang itu biasa, tapi buat saya nggak. Apa yang terjadi? Tiada lain tiada bukan, mengenang yang sudah-sudah, masih saja mempertanyakan kenapa harus berpisah, dan semua hal yang harusnya sudah bisa saya lupakan.

Tiba-tiba galau (padahal tiap detik juga galau). Merasa dua tahun ini mengalami banyak kehilangan. Dan itu terus-menerus. Dari nyokap, bokap, sampai ada lah lainnya. Jadi, sebel dan berujar dalam hati, “Tuhan, please, jangan bikin saya ngerasa kehilangan lagi.” Saya capek. Bahkan saya pun kehilangan kepercayaan dan optimisme.

Lalu kemudian, ada pikiran lain yang saya tidak suka tapi entah kenapa tepat juga rasanya. Mengapa saya harus merasa kehilangan? Toh, saya memang tidak pernah memiliki orang-orang itu sepenuhnya. Pemiliknya ya cuma satu. Dia. Lalu, mengapa saya harus merasa kehilangan jika memang mereka kembali ke Pemiliknya? Mengapa saya harus merasa kehilangan jika memang jalan hidup mereka memang sudah ditentukan oleh Yang Memilikinya? Dan itu bukan bersama saya? Mengapa saya terlalu membuat ini menjadi drama? Mengapa saya tidak bisa terima? Mengapa saya kecewa? Mengapa saya marah?

Mungkin ini justifikasi, tapi buat saya, itu karena saya tetap manusia.

Mungkin saya tidak bisa memaafkan. Mungkin saya tidak bisa berhenti kecewa. Mungkin saya tidak bisa sembuh dari luka-luka yang ada. Mungkin saya tidak bisa lupa atas kesalahan-kesalahan cara yang bikin dada ini sesak dan mata sembab. Namun, saya punya kehendak bebas untuk bisa berdamai. Dengan diri sendiri, dengan kekecewaan, dengan amarah, dengan musuh. Saya pun masih bisa terus. Saya masih bisa lanjut. Saya masih bisa bertahan. Lantas, bertemu dengan penderitaan lainnya dalam perjalanan, tapi tak perlu merasa kehilangan.

Bukan berarti saya langsung bisa ‘nggak kenapa-kenapa’. Saya masih kenapa-kenapa. Saya masih mengeluh, saya masih mengungkit. Karena tidak bisa dipungkiri bahwa itu memang terjadi dan menjadi bagian dari saya. Namun setidaknya saya bisa lebih berkuasa atas diri saya untuk bisa mengusir luka dan kecewa yang usil muncul ke permukaan, menuntut balas agar sesuai keinginan.

Saya tahu, mau saya dan mau Tuhan memang beda. Namun, saya juga harus tahu. Bahwa pada akhirnya, semuanya adalah yang terbaik untuk saya. Lantas, nikmatNya yang mana lagi yang saya ragukan?

Semoga kesadaran ini terus terjaga di hati dan pikiran saya. Semoga kesadaran ini bukan kesadaran semu yang lantas kemudian sirna. Semoga kesadaran ini bisa membuat saya lebih bisa menerima.

Amin.

Iklan

One comment

  1. farhanah · Agustus 18, 2010

    mandi keringat di padang mashar
    semangat, kar!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s