65 Tahun

Untukmu Indonesia, yang dengan sedih aku cinta. (Ayu Utami dalam Bilangan Fu)

17 Agustus 2010.

Apa ya yang bisa saya ceritakan di hari ini? Baik dengan perasaan maupun pikiran, saya tidak memiliki apa-apa untuk diceritakan. Kalaupun ada, ya pasti cuma keluh kesah, ungkapan pesimis, gejala-gejala apatis, dan lainnya yang serba negatif. Namun, saya tidak mau menuliskannya. Saya takut, itu semua lambat laun menjadi sesuatu yang saya anggap wajar dan ‘tidak apa-apa’. Saya pun tidak mau berpura-pura menuliskan yang indah-indah. Lelah dan malu hanya bisa berharap tapi saya sendiri belum banyak melakukan apa-apa untuk bangsa ini.

Saya rindu menjadi anak kecil lagi. Yang excited tiap memasuki bulan Agustus dan munculnya rasa ‘bersiap-siap’ menjelang angka 17 di kalender. Juga, rajinnya mengingatkan orang tua saya, “Kok kita belum pasang bendera merah putih?”. Heboh membicarakan rencana mengikuti perlombaan di lapangan sama teman-teman. Menghias sepeda besar dan tua milik Embah untuk ikutan karnaval keliling kompleks rumah.

Atau jangan-jangan, saya rindu untuk menjadi tidak tahu? Tidak tahu bahwa dibalik euforia kecil itu ada masalah-masalah besar yang dihadapi bangsa ini di luar tanggal 17 Agustus. Karena semakin tahu, semakin sadar, diri ini makin terganggu, makin gelisah, makin merasa terlalu banyak yang harus dilakukan dari sekedar memasang bendera merah putih, dari sekedar berteriak ‘Merdeka!’, dari sekedar menonton upacara bendera di TV, dari sekedar menghafal teks proklamasi, dari sekedar menyanyikan lagu Indonesia Raya.

Saya ingin menjadi bocah yang kemarin saya temui di TIM, yang memasang bendera merah putih kecil dari plastik di sepedanya tanpa merasa beban. Yang menjadikan plastik itu simbol tanpa harus gelisah mengetahui makna di baliknya yang ironis bila disandingkan kenyataan.

Jangan-jangan Tuhan menyisipkan harapan bukan pada nasib dan masa depan, melainkan pada momen-momen kini dalam hidup– yang sebentar, tapi menggugah, mungkin indah. (Goenawan Mohammad, Kota Tuhan, Catatan Pinggir 7)

Namun, dari semua kegelisahan itu, tanpa kita sadari bahwa sebenarnya sehari-hari bangsa ini bergelimangan harapan. Yang mungkin tidak tampak, yang mungkin kecil, yang mungkin kasat mata, tetapi ia tetap ada. Seperti saat saya kemarin menghadiri pameran foto di Galeri Cipta 3, Taman Ismail Marzuki bertajuk “Identitas Untuk Semua: Pameran Foto 65 Tahun Republik Indonesia”. Saya diajak merasakan semangat yang begitu menggebu di awal bangsa ini membentuk identitas dan meraih kemerdekaannya. Semangat yang buat saya, rasanya asing sekali jika dibawa ke masa sekarang dan nyaris tidak bisa ditemukan lagi. Teriakan-teriakan idealis, potret cinta rakyat terhadap bangsanya, pembangunan yang penuh harapan, pemimpin yang dielu-elukan, kharismatik, dan dicintai rakyatnya, serta gambaran rasa satu yang mengikat sebagai Indonesia.

Rangkaian foto-foto di pameran tersebut seakan menebarkan benih-benih harapan untuk saya. Untuk tidak hanya bisa diam dan menunggu segala sesuatu berubah, untuk tidak hanya tidur meninggalkan banyak orang yang berjuang sendirian, untuk tidak hanya mengeluh di saat bisa melakukan hal-hal kecil yang berarti.

Lantas, izinkan saya untuk mengutip sedikit bagian pengantar pameran foto “Identitas Untuk Semua: Pameran Foto 65 Tahun Republik Indonesia” yang ditulis oleh Ketua Dewan Kesenian Jakarta, Firman Ichsan.

Dari gambar-gambar foto ini, kita menjadi tahu dan sadar bahwa kemerdekaan yang kita nikmati sekarang adalah hasil kesadaran dan perjuangan individu-individu yang bersama-sama berniat membangun sesuatu yang lebih baik, yang bukan hanya memenuhi kebutuhan sandang dan pangan semata, melainkan pada harkat dan harga diri yang hanya akan dapat tercapai bila ada satu identitas yang baru untuk semua yang sepakat yaitu ; Indonesia.

Iklan

One comment

  1. isdiyanto · Agustus 22, 2010

    dirgahayu republik indonesia…..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s