Current Feeling

I’m happy that I’m happier

Sejak dari Idul Fitri saya sudah ingin menuliskan perasaan ini. Sejak teman saya, si iji gigi, memberikan ucapan selamat hari raya yang lebih seperti ucapan selamat ulang tahun. Dia bilang sebaiknya saya mengurangi kegalauan saya. Karena menurut dia, kebanyakan galau jadi membuat saya tidak bisa menikmati hidup secara utuh.

Awalnya saya pikir, positif sekali ucapannya tetapi rasanya saya tidak akan sanggup mengurangi kegalauan saya yang semakin hari tampaknya semakin bertambah. Namun, ternyata ucapannya ada benarnya juga. Saya jadi menikmati detik-detik di tengah keluarga saya, keluarga besar, di mana saya selama ini terbiasa menaruh kebahagiaan pada satu orang saja. Begitu dia pergi, saya merasa kebahagiaan saya ikut pergi.

Dan mungkin memang ada campur tangan Tuhan. Entahlah. Saya termasuk orang yang percaya bahwa Tuhan punya banyak sekali kejutan-kejutan kecil tak terduga yang terjadi begitu saja. Ya, hubungan saya dengan ayah membaik. Dia akhirnya bercerita tentang bagian hidupnya yang sebelumnya saya tidak tahu yang membuat saya membangun tembok keras dan kuat dan jadi antipati terhadapnya. Namun, seperti tembok Berlin, saat ini tembok itu sudah runtuh dan yang ada adalah simpati dan keinginan untuk lebih coba memahami dan mungkin.. mengalah lagi. Saya pun merasa ia juga melakukan hal yang sama, lebih mendengarkan saya, meski mungkin belum mudah untuk langsung berubah.

Kemudian, sempat terusik dengan kata-kata carpe diem, seize the day. Ya, partner terbaik saya, Shirley tampaknya sedang berjuang untuk mengimplementasikan konsep di balik kata tersebut ke dalam kehidupannya. Membuat saya terpancing untuk melakukan hal yang sama dan sepertinya tidak buruk-buruk amat. Dari situ memang saya jadi lebih waspada setiap mulai merasa mati rasa (eh, tandanya masih merasa, ya?). Apalagi setelah memutuskan menonton film Dead Poets Society. All i remember about the movie are only the ‘carpe diem’ and how cute ethan hawke was.

Dan terakhir, saya sepertinya sedang kasmaran dan memilih untuk stay that way. You know, it’s like adoring someone, feels good when you’re with this someone, feels glad when this person ‘creating’ moment with you, and waiting for another chance to be in the same time and place, but you’re not hoping. Ya, saya tidak berharap apa-apa bahwa dapat terjadi sesuatu di antara kita. BEUH! Hanya menjalankan saja dan itu membuat saya merasakan percikan-percikan kebahagiaan kecil tanpa harus merasa merana dan menderita, merasa gundah karena dia tidak pernah melihat saya, sudah lewat fase-fase itu sepertinya (meski nggak menutup kemungkinan, bahwa saya bisa kumat, hehe). I will just enjoy the moment i’ll have with this someone. Entah sebagai seorang yang saya adore, atau mungkin memang sebagai teman yang menyenangkan :)

Sempat saya merasa, ‘there’s no such a right day’. Ya, merasa saya sudah begitu mantap untuk menyatakan, ‘i’m happy that i’m happier’, tapi ternyata ada sedikit momen di mana saya merasa down lagi. Dan entah mengapa itu memengaruhi mood saya secara keseluruhan. Namun, dari situ saya belajar, bahwa mungkin hidup kita memang nggak harus selalu happy, ada kalanya pasti kita merasa sedih, meski itu bukan karena suatu hal yang besar. Sedih pasti kita alami, kok. Cuma ya jangan sampai kesedihan itu bikin kita merasa ‘we don’t deserve happiness’. As i ever said, mungkin dengan merasa galau, sedih, kecewa, dan sebagainya, toh kita jadi ingat bagaimana rasanya bahagia dan itu lebih menyenangkan, bukan? Seperti pemikiran Heraclitus (+ 540-480 SM), bahwa dunia dicirikan dengan adanya kebalikan. Jika kita tidak mengenal kelaparan, kita tidak akan merasakan senangnya jadi kenyang. (Dunia Sophie, hlm. 51)

So, thank you, iji gigi. Thank you Shirley. Thank you, you. Thank you, someones. Thank you, friends. Thank you, Horace. Thank you, Dad. Thank you, fams. Thank you, Dead Poets Society.

Thank you, God :) Alhamdulillah..

Iklan

2 comments

  1. moli · September 21, 2010

    mood-maker bgt deh ini.. hehehe. blog lo gw link ya kar. :)

  2. Xx · September 26, 2010

    Paragraf 3……….. bokap lo mau nikah lg y?

    “emang udah nikah lagi, hehe.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s