Super Power Girl!

Saya pernah menulis tentang ‘girl=power’ di Majalah Change, edisi ‘Girls in Media’. Saat hendak menulis, agak kebingungan juga apa yang mau ditulis di artikel itu. Yang saya ingat adalah satu pertanyaan sebagai pengantar, ‘Apakah benar, bahwa perlu embel-embel ‘power’ setelah kata ‘girl’ agar perempuan dianggap kuat?

Kemudian dalam artikel itu, saya menegaskan bahwa kekuatan perempuan adalah ketika perempuan itu bisa memutuskan apa yang terbaik untuk dirinya; memiliki pilihan dan menentukan pilihan bagi dirinya sendiri! Dan resep untuk bisa memiliki kekuatan itu adalah pengetahuan.

Setelah menulis artikel tersebut, terjadi serangkaian peristiwa yang entah sengaja atau tidak sengaja dipertemukan dengan saya. Yang kemudian seakan mengoreksi atau justru melengkapi apa yang pernah saya tulis soal perempuan dan kekuatannya ini.

Pertama, sahabat saya, Shirley Tamara, menulis tentang perempuan, emansipasi, dan posisi keduanya dalam kehidupan masa kini. Dari tanggapannya terhadap orang-orang yang menanggapi sebagian dirinya yang menyamai ‘laki-laki’: cara berjalan, berjakun, kuat ngangkat barang-barang berat, sampai tanggapannya terhadap konsep ‘lady’s first’. Silakan baca di sini.

Kedua, saya akhirnya memutuskan untuk ikut kursus memainkan drum (bukan menjadi drum, tentunya). Di hari pertama saya les, ada satu keluarga (bapak-ibu-dua anak), yang sedang melihat bagaimana jalannya kelas di tempat kursus itu. Melihat saya, ia menyeletuk, “Wah, ada perempuannya juga.” Saya cuma nyengir.

Ketiga, pas lagi ngebet banget pengen nonton ‘The Runaways’. Saya pun meminjam DVD bajakannya dari Deasy April. Tanpa ditunda, saya langsung putar, dan WOW. Ambisi Joan Jett untuk membentuk a-rock-‘n-roll girl band menggugah saya sebegitunya! Adegan saat ia hendak membeli jaket yang dipakai pacar sang penjaga toko, adegan saat ‘membantah’ pertanyaan mantan-calon-guru-gitarnya bahwa perempuan tidak memainkan gitar elektrik, dan lagu-lagu mereka yang bikin saya kepancing untuk pengen bikin band yang personilnya cewek semua, hehe.

Keempat, tragedi kempesnya beat-o, sang motor kesayangan, membawa saya pada kebanggaan personal saya sebagai perempuan! Jadi, waktu saya mau pulang ke rumah di suatu malam, tiba-tiba ban motor saya kempes dan saya tidak menemukan tukang tambal ban yang masih buka. Beberapa orang yang masih menikmati malam tampak tak biasa melihat perempuan ‘menenteng’ motornya gelap-gelap (ya, saya memilih untuk ‘menenteng’ karena takut bannya beat-o malah makin parah dari sekedar bocor), tapi juga tidak turun tangan. Namun saya juga tidak mengharapkan mereka untuk membantu atau apa. Untung kejadiannya sudah di dekat rumah, tapi tetap saja menguras tenaga.

Hari ini, saya baru sempat membawanya ke tukang tambal ban di dekat rumah. Saat saya kembali ‘menenteng’ beat-o dan harus menapaki tanjakan kecil, saya melewati beberapa tukang barang bekas yang sedang beristirahat. Saat membawanya menanjak, saya merasakan motor saya luar biasa beratnya, dan di saat itu saya mengharapkan abang-abang tersebut membantu saya. Namun, tidak ada satu pun yang bangun dari duduknya. Untungnya, dengan segenap tenaga yang ada dan mungkin dibumbui rasa gengsi, saya berhasil membawa motor saya menanjak!

Dan herannya, kenapa untuk ke tukang tambal ban  saja saya perlu menemukan tanjakan kedua yang jauh lebih menanjak dibanding tanjakan pertama. Dengan beat-o yang kempes di ban belakang, maka bebannya seolah bertambah empat kali lipat. Tidak banyak orang yang lewat dan bisa membantu saya mendorong beat-o dari belakang. Hampir saya panik dan takut malu kalau stuck dengan beat-o di tengah tanjakan macam itu!

Namun, mungkin saya lagi pintar atau lagi-lagi beruntung, saya pun memasukkan kunci beat-o lalu menyalakannya, sehingga mesinnya membantu saya ‘memaksa’ beat-o menaiki tanjakan itu! Akhirnya, sampai juga saya ke tukang tambal ban yang saya damba! Karena masih ada orang yang motornya sedang diperbaiki, maka saya memutuskan untuk menitipkan sementara motor saya di sana. Saya pun pulang melewati tanjakan yang telah menjadi turunan, dan melewati segerombolan abang-abang tadi. Mereka nyeletuk, “Udah, neng? Kuat?” Saya pun dengan rasa bangga melenggang di depan mereka sambil lalu dan menjawab, “KUAT, DONG!”

What am I gonna say is, ternyata kekuatan perempuan itu bukan selalu sekedar untuk bisa kuat secara fisik menyamai laki-laki. Karena toh, kita masih punya otak, akal, atau hal-hal lain yang bisa kita jadikan kekuatan, sebagai perempuan, selain kekuatan fisik. Namun, bukan berarti pula bahwa perempuan tidak bisa sama kuat secara fisik dengan laki-laki. Well, intinya bukan siapa yang paling kuat, sih, cuma ya bahwa baik laki-laki maupun perempuan pasti memiliki kekuatannya masing-masing yang bikin satu sama lain tidak berhak di-underestimate atau bahkan direndahkan.

Dan satu lagi resep yang bikin perempuan punya kekuatan adalah keyakinan dirinya sendiri sebagai perempuan bahwa ia memiliki kekuatan! It sounds cliché, tapi emang kebanyakan perempuan masih ragu dan gak yakin sama dirinya sendiri, termasuk saya! Makanya, sejak kejadian ban kempes, saya mulai menemukan keyakinan itu. Karena kalau gak yakin sama kekuatan sendiri, bisa jadi penyebab ketergantungan sama pihak-pihak tertentu yang belum tentu sehat, loh!

So, to all the girls, believe in your own power! ‘Cause you’re a tough, a strong one, even there’s no ‘power’ word following the ‘girl’!

Iklan

2 comments

  1. Red · September 26, 2010

    Gw suka tulisanmu yg elu kategorikan basa basi ini. Wanita memang harus kuat dalam arti mandiri. Mandiri secara pemikiran, mandiri scr finansial dan mandiri dlm sosial. Tidak lupa juga mandiri dan berkuasa penuh atas tubuhnya. Di indo, tubuh wanita adalah domain orang tuanya, domain suaminya dan domain agamanya. Wanita tidak bebas menentukan pilihan atas tubuhnya sendiri. Dan jgn lupakan mandiri dalam spiritualitas, bebas menentukan ajaran2 ruhani mana yg ingin ia ikuti atau tidak ikuti :)

  2. farhanah · September 27, 2010

    Oh akhirnya nonton the runaways jg, sek!
    Salam dr “Ch…ch…ccch….ch……”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s