Damai

Saya marah. Saya sedih. Saya kecewa.

Meski saya tahu semua salah saya hingga kamu jenuh dan jengah dan akhirnya meninggalkan saya.

Mungkin saya berlebihan. Mungkin saya keterlaluan. Namun, sungguh. Segala kesedihan, kegalauan, kemarahan, datang begitu saja tanpa saya kehendaki.

Hampir 6 bulan sudah, dan saya tidak mau terus begini. Percaya, saya tidak pernah mau ini terjadi. Namun entah mengapa, segala keresahan, kemarahan, kesedihan, dan kekecewaan terus menghampiri.

Saya hanya menunggu kamu bicara.

Dan kamu sudah.

Maka sudah.

Mari akhiri dengan damai.

 

Saya meminta maaf karena telah begitu arogan, begitu egois, begitu merugikan, begitu naif, begitu berlebihan, karena sungguh saya begitu ketergantungan. Saya meminta maaf karena telah begitu menyusahkan, menambah beban pikiran, dan begitu tidak berperasaan menganggap kamu tidak berperasaan. Saya meminta maaf karena telah begitu merepotkan dan menjijikan akibat kesombongan saya yang tak ada juntrungan.

Saya meminta maaf atas sakit hati dan kecewa yang saya ciptakan.

Terima kasih. Terima kasih atas semua ketersediaan waktu, atensi, dan tenaga yang terlalu berarti bagi saya. Terima kasih atas kasih, keluarga, dan rasa yang mungkin pernah ada. Terima kasih telah begitu baik untuk tetap mendengarkan meski saya selalu datang dengan keluhan dan makian. Terima kasih telah mengajarkan saya untuk menghadapi kenyataan dan bisa melepaskan.

Terima kasih telah hadir dan menciptakan kebahagiaan yang terlalu berharga untuk saya syukuri sekalipun.

 

Andai saya bisa menyampaikan ini bersama satu pelukan, satu tangisan, satu salam terakhir untuk mengakhiri apapun yang pernah terjalin, tercipta, dan terjadi. Hingga kita siap menjalani jalur kita masing-masing tanpa saling mengganggu dan merasa tersakiti lagi.

I promise you, i’m happy if you’re happy, even if it’s no longer involve me.

Saya akan tetap memberikanmu alamat saya jika sewaktu-waktu kamu merasa perlu saya, meski saya ragukan itu. Toh, kamu telah menemukan orang-orang yang bisa membuatmu nyaman dan diandalkan.

Namun, saya tidak bisa janji untuk tidak pernah ada air mata lagi. Untuk tidak pernah mengingat yang lalu lagi. Bagaimana pun, memori ini sudah terpatri.

Terima kasih, sekali lagi.

 

Salam,

your very worst memory ever.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s