Titik Nol

Jumat, 08 April 2011.

Saya sampai pada titik saya sudah tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Saya sudah tidak bisa marah, sedih, atau bahkan kecewa. Jadi, jika Anda berpikir bahwa saya masih ‘Saya’ yang kecewa terhadap ekspektasi, Anda salah besar. Selamat, Anda berperan besar dalam pembelajaran ini. Kalau Anda berpikir saya masih kecewa dengan segala keputusan Anda dan semua yang sudah lewat itu, Anda juga tidak benar. Saya sudah sampai di fase saya sudah sangat tidak peduli tentang semua yang sudah terjadi dan belajar mensyukuri.

Namun, sepertinya Anda tidak pernah melihat saya berproses dan beralih dengan sangat tertatih-tatih. Yang Anda tuntut bahwa saya harus seperti yang Anda mau: menurut, ceria, positif, bahagia, santun, manis, sopan. Lantas, siapakah yang berekspektasi saat ini dan kemudian kecewa karena ekspektasinya tidak terwujud? Anda yang selalu mengira bahwa saya masih pencemburu dan pemarah serta tidak bisa menerima kenyataan. Di saat saya mencoba menerapkan, Anda seolah-olah tidak menerima bahwa saya sudah menerima kenyataan.

Jika saya depresif, negatif, dan sangat pesimis, itu jauh sama sekali dari campur tangan Anda. Mengapa semua orang harus bahagia? Bagi saya meratap dan menjadi pahit adalah cara saya menghadapi sebuah kenyataan. Ini jalur hidup saya. Menjadi usia 20 tahun bukan berarti saya sudah siap hidup dengan baik dan teratur, bukan juga sudah seterusnya bahagia. Sudah saatnya saya menemukan sendiri tapak-tapak dan kerikil-kerikil saya sendiri dan menemukan sendiri cara mengatasi sakitnya.

Bukankah selama ini Anda yang selalu mengasihani saya dan menganggap saya rapuh? Saya memang rapuh dan saya punya cara sendiri yang mungkin berbeda dengan cara Anda. Anda tidak bisa memaksakannya, bukan? Atau Anda yang justru masih menginginkan saya manja? Lalu mengapa tadi Anda berujar seolah-olah saya yang ingin terus dimanja? Saya berubah seperti yang Anda mau, tapi mengapa begitu saya berubah saya tetap yang bersalah?

Saya justru merasa saya sudah di tahap saya tidak mau membebani Anda. Saya tahu Anda juga punya kehidupan sendiri dan saya mau Anda menjalaninya sebagaimana saya menjalani hidup saya. Tidak perlu ada tuntutan untuk selalu terus ada dan bersama. Sudah bukan waktunya lagi membuat drama semacam itu. Saya lelah dan Anda sendiri yang mengajarkan saya realistis. Anda menjadi terlalu fokus pada hal-hal atributif dibandingkan hal substantif di balik semua atribut itu. Terima kasih telah menjadikan saya prioritas, tapi beban juga jika itu jadi bumerang balik buat saya. Prioritaskan hidup Anda dulu saja, nanti kalau sudah lebih rileks dan tidak ada hal lain yang dipikirkan, baru pikirkan saya lagi. Saya juga butuh waktu untuk belajar menjaga diri sendiri dan sedang ingin tidak menjadi prioritas siapa-siapa.

Mungkin buat Anda, saya menyia-nyiakan Anda. Namun, sungguh. Semuanya berawal dari niat: sudah saatnya saya mengurangi beban Anda. Jika Anda tidak bisa mengerti dan menerima, ya saya tidak tahu lagi harus bagaimana. Selamat membebani diri sendiri saja kalau begitu.

Salam,
AS

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s