Drum Lesson

Terima kasih atas sakit hati, karenanya, saya bertemu dengan Drum.

September 2010. Itu kali pertama saya secara resmi mengikuti kelas Drum di Gilang Ramadhan Studio Drummer (GRSD) Gading Serpong. Setelah di bulan sebelumnya saya secara random menyatakan keinginan untuk bisa bermain drum dan kemudian secara kebetulan pula saya dipertemukan dengan GRSD. Dari ikut trial class sampai akhirnya saya benar-benar berniat mengikuti kursus dengan biaya les dari uang saya sendiri.

Kelasnya cukup menyenangkan. Yang tidak bisa saya lupakan adalah saya yang paling besar (baik secara ukuran badan maupun takaran usia) di antara teman-teman yang lain, dan satu-satunya perempuan di kelas. Instruktur saya dipanggil Kak Reza, orangnya cukup pengertian dan memotivasi serta baik dalam memberikan pengarahan. Sabar tentunya dalam menghadapi saya yang suka kesulitan. Dari Groove 1 lalu ujian sampai sekarang saya masih di tingkat Groove 2. Akhir April ini saya hendak ujian, mohon didoakan!

Selain hal-hal menyenangkan dan juga sensasi memukul drum, di latihan terakhir, Sabtu, 9 April 2011 lalu, saya justru menyadari beberapa hal dari hasil kelas Drum saya. Bukan filosofi-filosofi tertentu mengenai drum, beat, atau pukulan-pukulan tertentu, melainkan lewat kelas hari itu, saya seolah membuka lapisan diri saya sendiri. Ya, mengenali diri saya sendiri. Lewat kelas hari itu, saya menyadari bahwa saya ini orang yang mudah sekali terdistraksi (tidak fokus) dan pesimis.

Mengapa saya jadi tahu bahwa saya mudah sekali terdistraksi? Dalam bermain drum, perlu ada tempo yang dijaga dan ‘rumus’ pukulan tertentu yang kita lakukan berulang-berulang. Untuk menjaga kedua hal tersebut menjadi sebuah rhythm yang teratur dan dinamikanya terjaga, maka harus konsentrasi penuh. Saat latihan kemarin, saya diminta sticking7 strokes‘ untuk membiasakan pukulan tersebut. Namun, beberapa kali saat mulai bisa memainkannya, pukulan saya bisa langsung kacau atau berhenti cuma karena mendengarkan suara lain atau mendengar kakaknya mencoba menirukan suara pukulannya. Ada kesulitan untuk menjaga stabilitas pukulan saya dalam waktu yang lama karena begitu terdistraksi dan konsentrasi lepas, saya seperti kehilangan ritme yang sudah saya temukan.

Begitu juga di kehidupan saya selama ini. Saya mudah sekali terdistraksi dari satu bidang yang sedang saya tekuni. Begitu ada hal lain yang sepertinya lebih menarik, maka saya menjadi kehilangan ritme ketekunan terhadap hal yang lama tadi. Tidak heran kalau saya sekarang tumbuh sebagai mediocre. Niatnya ingin tahu sedikit tentang banyak hal, tetapi saya jadi tidak tahu apa-apa tentang banyak hal. Maka dari itu, sepertinya di usia ini saya mau mencoba menemukan fokus atau kembali mengingat hal-hal yang sudah pernah saya coba dan tekuni, lalu mencoba membuat pilihan, mulai saat ini.

Kedua, saya sadar saya sangat pesimis. Terkait dengan distraksi tadi, saya seringkali berhenti saat memukul, because i can’t barely hear my own beats. It’s like i don’t believe in all the beats i made. Padahal jelas sekali bahwa satu-satunya yang memegang stick drum dan sedang melakukan pukulan-pukulan adalah diri saya sendiri. Entah kenapa, saya seringkali berhenti karena merasa selalu ada yang salah dengan pukulan-pukulan itu karena saya seperti tidak bisa mendengarkan suara pukulan saya sendiri.

Dan tidak ada kata yang lebih tepat menjadi analogi kehidupan saya selain inferior. Saya jadi ingat, dulu waktu kecil saya diikuti kursus les renang. Pada saat lomba, saya harus berenang dua kali 50 meter. Saya sudah merasa tidak sanggup duluan sebelum berlomba dan takut kalah, sehingga pada akhirnya saya menyerah hanya dengan menyelesaikan satu kali 50 meter dan didiskualifikasi. Saya masih ingat, Ibu saya membandingkan saya dengan teman lain yang usianya lebih muda dan badannya lebih kecil, “Tuh, lihat dia. Walaupun selesainya jauh paling terakhir (dibanding peserta yang lain), tetapi dia berenang sampai selesai.”

Saya rasa saya harus lebih banyak menemukan ‘diri’ saya lagi.  Sudah saatnya merasakan gagal berkali-berkali, bukan menyesal karena menghindarinya dan tidak tuntas. Mencoba menemukan kepercayaan diri lagi. Tidak perlu lebih, setidaknya cukup untuk membuat saya bisa melakukan sesuatu, sampai selesai, meski nilainya jauh dari sempurna.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s