Berbeda dan Merdeka 100%: Sebuah Kesempatan (1)

Hari ini, 17 April 2011, sebuah gerakan yang menamai dirinya ‘Berbeda dan Merdeka 100%’ mengajak siapapun untuk melakukan aksi-aksi yang ‘menyuarakan’ indahnya keberagaman. Hal ini berangkat dari maraknya kekerasan yang terjadi belakangan ini. Lewat gerakan ini, kita semua diingatkan dan diajak kembali untuk hidup damai dalam perbedaan dan keberagaman.

Saya sendiri akhirnya memutuskan untuk menulis. Menulis tentang diffable dan queer, dua ‘kaum’ yang beberapa kali mendapat perlakuan berbeda hingga kehilangan kesempatan. Namun, tulisan yang pertama ini akan membahas pandangan saya mengenai diffable.


“I am different, but not less.” (Temple Grandin, 2010)


Diffable adalah gabungan kata ‘different’ dan ‘ability’, yang dalam bahasa Indonesia berarti kemampuan berbeda. Istilah ini digunakan untuk ‘menyebut’ individu yang memiliki cara tertentu dalam melakukan aktivitas fisik maupun mental dikarenakan kondisi mereka yang ‘berbeda’ dari umumnya. Istilah ini berkembang dari sebutan ‘penyandang cacat’ (disable) sampai ‘orang-orang berkebutuhan khusus’ dan sejauh ini istilah diffable yang dianggap sebutan yang paling non-diskriminatif meski masih memunculkan perdebatan. Yang jelas, banyak yang masih memperjuangkan penggunaan istilah diffable ini dan mengganti konsep ‘cacat’ tadi.

Mungkin sebagian besar dari kita pernah bilang, ‘gue udah nggak diskriminatif kok sama teman-teman gue yang difabel.’ Namun, tak sedikit pula yang tanpa disadari masih ‘membatasi’ mereka dengan rasa kasihan. Mengapa rasa kasihan ini menjadi membatasi? Karena tanpa disadari, kita masih menganggap mereka ‘kurang’ karena ‘tidak memiliki’ tangan, kaki, tidak bisa mendengar, melihat, dan lainnya. Kita memandang mereka dengan kaca mata kita yang sehari-hari bisa berjalan, bisa menggenggam dengan jari-jari, bisa mendengarkan musik, bisa melihat warna-warni bunga (atau ‘stereotype’ wajah ganteng/cantik model idola kita di papan reklame pinggir jalan). Padahal, mereka lebih butuh kesempatan untuk bisa menemukan dan melakukan hal yang mereka inginkan dengan cara mereka sendiri dibandingkan rasa kasihan kita yang membatasi.

Saya jadi ingat, pernah mewawancarai seseorang yang kehilangan kemampuan mendengarnya akibat overdosis antibiotik. Keinginannya untuk kuliah sempat ‘dibatasi’ oleh pernyataan dokternya bahwa ia tidak apa-apa tidak kuliah karena nanti akan membuatnya kelelahan. Saya menggarisbawahi adanya estimasi yang ‘merendahkan’ di situ. Mungkin sang dokter kasihan, takut ia tidak bisa mengikuti pelajaran. Nyatanya, seseorang ini sekarang sudah menyelesaikan S2-nya di bidang Komunikasi dan bekerja sebagai Public Relation di sebuah perusahaan. Satu hal yang saya kagumi darinya, ia pernah bilang, mungkin ia tidak bisa menonton televisi, tidak bisa mendengarkan radio, tapi ia mengoleksi ilmu dan pengetahuan dari buku. Yang dari contoh ini, saya membuat kesimpulan, ia memang ‘terbatas’ untuk hal-hal tertentu, tetapi bukan berarti ia tidak bisa mendapatkan yang ia mau. Prinsip ‘ada banyak jalan menuju Roma’ mungkin yang paling tepat menggambarkan bagaimana ia mencari cara-cara tertentu untuk ‘menyiasati’ cara yang tidak dapat ia tempuh.

Begitu juga dengan para seniman tuna netra atau seniman yang melukis dengan kaki atau mulutnya. Kita bisa saja sekedar berbelaskasihan, “Duh, kasihan ya. Gak kebayang nggak bisa ngelihat apa-apa.” “Duh, kasihan ya rasanya susah banget untuk jalan.” Namun, kenalkan mereka dengan kuas, kenalkan mereka dengan cat, kenalkan mereka dengan benda-benda sederhana, kenalkan mereka dengan dunia, penuhi apa yang mereka ingin ketahui, yang memang butuh ekstra keras dan cara tertentu agar mereka paham. Namun, hal tersebut justru bisa membuat mereka bermakna, karena hanya dengan cara itu, kita menjadi tahu bahwa mereka punya cara luar biasa yang tak pernah kita pikirkan sebelumnya.

Mungkin mereka hidup dengan cara yang ‘berbeda’ dari kita, dengan cara yang tak bisa kita bayangkan. Namun, ketika kita tidak bisa membayangkan bahwa mereka bisa ‘normal’ dengan ‘keterbatasan’ lantas kita menjadikan mereka harus sesuai dengan bayangan kita. Mereka cuma butuh kesempatan, bukan rasa kasihan. Dengan ‘perbedaan’ ini, kita justru bisa saling belajar bersyukur dan makin memahami makna sebuah kesempatan, kerja keras, dan cinta. Dengan ‘perbedaan’ ini, kita justru belajar tentang keluarbiasaan dan harapan. Dengan ‘perbedaan’ ini, kita jadi punya banyak cerita beragam yang indah dan bikin kejutan-kejutan sehingga hidup ini penuh dinamika dan tidak monoton layaknya warna-warni kembang api.

Hellen Keller telah membuktikan. Hee Ah Lee telah membuktikan. Temple Grandin telah membuktikan. Gus Dur telah membuktikan. Namun, masih banyak teman-teman lain yang masih perlu kesempatan. Merdeka-kan mereka dari tekanan dan ketidaktahuan karena ‘perbedaan’ mereka.

kindly check:

http://difablr.tumblr.com/page/5

http://tobytall.wordpress.com/2010/03/02/d-i-f-f-a-b-l-e/#comment-1013

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s