The Trip of Not Being Owned

14 September 2011. Lagi enggak ngerasa apa-apa. Hidup juga lagi baik-baik aja. Cuma sudah dua hari ini terjebak di situasi sendirian-di-tengah-keramaian. Setelah mampir makan, minum, dan sebatang dua batang, jam sepuluh malam saya pulang. Niatnya menghindari macet, tiba-tiba di kepala saya terbesit konsep bahwa jalan kaki dari Cipete ke rumah sepertinya tidak sulit diwujudkan.

Hal yang saya sadari di tengah perjalanan adalah saya merasa bahwa rute yang saya ambil terlalu jauh. Jadi, jalan kaki saya berangkat dari 711 Cipete, menuju ke arah jalan raya besar Fatmawati, ke arah perempatan lampu merah yang posisi Giant berhadapan dengan Carrefour, lalu menyusuri sepanjang Jalan T.B. Simatupang, ke arah Pasar Rebo.

Kira-kira Segini

Untungnya, BB saya masih menyala sehingga bisa menemani saya berdendang. Bahkan, lebih dari berdendang. Seperti karaoke di tengah jalan, tidak peduli orang lain mendengar atau tidak. Sampai lagu-lagu yang rasanya perlu dinyanyikan dengan berteriak. Sudah seperti di video klip. Jalan yang saya susuri pun merupakan jalanan di sebelah jalan tol yang trotoar untuk pejalan kakinya tidak ada. Atmosfir kesendirian di tengah keramaiannya pun luar biasa terasa. Apalagi seenaknya nyanyi-nyanyi, dibantu botol air mineral yang saya pegang, seperti mikrofon.

Dari semua scene perjalanan, yang paling saya sukai adalah bagian ketika saya sampai di perempatan lampu merah Jalan Warung Jati Barat. Tanda lampu lalu lintas hijau berganti merah. Saya juga berhenti sejak karena menunggu saatnya untuk menyeberang. Kesempatan berhenti saya gunakan untuk menyalakan satu batang. Lalu, lampu lalu lintas berganti kembali menjadi hijau. Saya menyeberang dengan gaya musafir urban. Tiba-tiba BB saya memainkan lagu Need You Now milik Lady Antebellum. Semakin galau, semakin gamang. Begitu sampai di bagian reff, saya berteriak melantunkan lagunya..

“It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now..
I said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now..
And I don’t know how I can do without, I just need you now..”

Dan wajah yang muncul dalam bayangan saya adalah wajahnya. Gawat.

Sebelum sampai di situ, saya sempat melewati dua orang pria yang bermain bulutangkis dengan memanfaatkan pagar sebagai net-nya. Melewati para pekerja yang masih sibuk menyemen merapikan jalan. Boot-nya yang menginjak-injak campuran semen mengingatkan saya pada film Love Me If You Dare. Sempat juga melewati taksi yang mengantri, tetapi memarkirkan mobilnya setengah naik ke atas trotoar. Sempat berhenti di Graha Simatupang. Duduk untuk sebatang. Sayangnya tidak ada pemandangan bagus selain jalan tol dan mobil motor yang lewat.

Setelah berhenti, saya melanjutkan perjalanan karena R.E.M. menyemangati saya dengan terus-terusan bilang, “Hold on, hold on..” Namun, apa daya. Sekitar satu kilometer sebelum Pasar Rebo, kaki saya sudah ogah diajak jalan. Meski saya masih tetap kekeuh dan bertahan dengan konsep saya bahwa masih bisa berjalan kaki sampai rumah, tapi ternyata konsepnya memang sebatas konsep. Sempat berhenti untuk yang kedua kali, sempat mencoba jalan mundur yang rasanya memang lebih ringan, tapi malah tidak pasti dengan apa yang ada di depan.

Yang jelas, akhirnya saya bisa juga melakukan hal yang belum bisa saya lakukan selama ini: menolak laki-laki. Ada abang ojek, abang taksi, sampai dua Bapak-Bapak yang menawarkan saya tumpangan sampai ke Pasar Rebo: yang satu naik mobil, yang satu naik motor. Akhirnya. Bisa nolak orang juga. Mungkin mereka enggak percaya kalau saya emang lagi mau berjalan.

So, it’s just a concept. Saya salah pakai kacamata untuk melihat. Sehari-hari naik mobil, naik angkot, naik motor, memang dekat. Namun, ternyata kalau berjalan kaki, jauh sekali. Benar-benar jauh sekali. Ditambah lagi baterai BB habis, jadi lagu sebagai ‘distraksi’ kelelahan saya berjalan, pudar sudah. Perjalanannya menjadi lebih berat, realistis, dan melelahkan. Akhirnya, menjelang Pasar Rebo, saya langsung mengiyakan tawaran abang ojek yang langsung mau membawa saya pulang. Abangnya ngebut, lalu beberapa kali ngerem mendadak. Bikin saya ingat film Mamalia, buatan Tumpal, yang merupakan bagian dari film Belkibolang.

Sampai di rumah pukul setengah dua. Kaki sudah pasti pegal. Tidak tahu pasti apakah yang saya alami malam ini berarti. Saya cuma ingin menamakannya, The Trip of Not Being Owned.

P.S.: It’s a quarter after three. I’m not really drunk. I’m missing you now.

Iklan

The Taxes of July

“You should paint my love, not pain my love.”

“Selamat bersenang-senang buat yang sudah dapat tiket nonton Harry Potter. Habis itu, jangan lupain urusan kerugian negara yg blm tuntas ya.”

RT @cecilmariani I give thanks to all the negative n pessimistic thoughts I had about myself that has kept me sober, humble and honest

“Tidak ada yang menyambut pulang selain pelukan kesepian.”

RT @esotericafra Lebih mudah mempertahankan kamu drpd mempertahankan ruang hijau di JKT #eh

“Membangun mall tampak lebih mudah daripada membangun hubungan. #eh

RT @nivellism Harry Potter and the Unpaid Taxes.

“People come and go. I can’t believe you’re the one who did ‘go’.”

“Orang yang mencari mimpi akan membentuk mimpi.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Kamu memberiku 3 biji nangka yg amat manis. Aku tidak menyukainya. Tapi aku tahu kamu ingin aku memakannya.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Topeng adalah teror, dan teror.. adalah topeng.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Mungkin, kesepian adalah birahi.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Aku adalah pesimis yang tidak bebas.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Aku terpikat dengan ketidakbahagiaanmu.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Last night I’m so afraid to die.”

“This is a story about how I love you. Not about how to make you love me. Because you never will.”

“I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” – a letter found in Kevin Carter’s car

“It’s always about one feeling: I never be good enough.”

“Akhirnya kemarin ada yang bilang kalau gue banyak omong. Akhirnya!”

“Semangaaaaat! Pagi-pagi harus happy. Malam-malam baru gloomy.” #halah

“I wish I could scan your heart, to know if there’s a piece of me in it.”

“Tiba-tiba inget kata @jarakpandang, kalau mau melanggar aturan, kenali dulu aturannya, baru melanggar. | Well, harus ditanamkan sejak dini..”

@raditz7 @rifqfauzigibran tapi cm Ratu yg bs melangkah kmn aja dan melahap musuh dgn cara apapun: agar Raja gak mati, dan yg lain jg nggak.

“Notasi cuma do re mi fa sol la si do, tapi ada ribuan lagu tercipta dari situ.” – @jarakpandang di sesi Kreativitas #IYC 2011!

“There’s something about Jogja’s men.”

“What if I never really grow up and only do shits?”

RT @makbulsehat Thanks to the  language that find “loneliness” for the sadness of being lonely, and “solitude” for the happiness of being one.

“I no longer interested in you.”

RT @fatimaalkaff: Buanglah kenangan pada tempatnya.

“Being 20 doesn’t mean I’m ready to be happy.”

“Sefokus-fokusnya hidup, pasti tetap ada blur-nya.”

@KikiFebriyanti sperma perasaanmu tidak bisa mencapai ovarium hatiku utk membuahi dan membentuk janin cinta, bahkan utk menjadikan ‘kita’.

@KikiFebriyanti I wish you’re a condom. Responsible when you ‘fuck’ me.

@esotericafra or, you’re like Jero Wacik, promising all the time, but I kinda know, you’re playing with me too, all the time.

But you’re like Hollywood movies, you won’t be here. RT @esotericafra: I wish you’re the best scene that I’d like to repeat it and pause.

“I wish I was a movie. So you can sit there and see me.”

“I wish there’s my Mom, who’s willingly waiting me home, who’s standing there open the door, asks me “How’s today?”, and makes me cup of tea.”

“Why do I have to go home when there’s no one home? And I don’t have you, the one and only who makes me feels home.”

“Rokok itu suplemen hati. Kamu itu gizi utamanya.” *bantinghatiketembok*

“Diselimuti kerinduan-kerinduan tak beralasan.”

“Too much sleep will kill you.”

“Patah hati pas lagi mau menstruasi itu bahaya. Sakitnya setitik, galaunya sebelangga :|”

“Lama-lama gue beli KFC bucket buat seorang diri biar gue gak ngerasa sendirian karena ditemani 9 ayam goreng Kentucky :|”

“When people underestimate you, don’t think they’re cruel. They just give you chances to prove them wrong.” #tumbenpositif

RT @perihbahasa Bertepuk sebelah kangen..

“For once in my life, I know what I love to do :)”

Aku: Kamu kyk 21, monopoli hatiku. | Kamu: Aku nggak monopoli, cuma dominasi. | Aku: Tetep aja ngematiin perasaan utk org lain yg bs muncul.

Finally. Gonna meet The Zorro of the Zero!

“Terima kenyataan kalau saya tidak bisa terima kenyataan.”

“Cinta tidak harus timbal balik. Hubungan iya.”

RT @cecilmariani: Ars longa vita brevis..

Khawatir yang konyol.

uncomfortable silence.

Kebahagiaan yang muram.

Ini bukan kisah sedih. Ini perjuangan yang harus diteruskan. Ini sebuah kisah tentang ketulusan dalam berkarya, berkesenian. Ini cinta.

Kesucian Ramadhan sepertinya malah sudah dinodai ‘kesucian’-nya itu sendiri.

“Old memories die hard when you got sentimental heart.”

Kehilangan orang-orang berdedikasi.

“Mungkin kita lebih sering mengasihani daripada benar-benar mencintai.”

“I even love you from the way you love someone you love, even it’s impossibly me.”

“Ah, andai pacar bisa dibeli dengan uang. Sungguh akan sangat manusiawi daripada dibeli dengan cinta.” – @ameliasarahh | *ngusapngusaphati*

Dji Sam Soe dan Es Jeruk Nipis

Ini sebuah tulisan yang hendak dipersembahkan kepada siapa-siapa tanpa maksud apa-apa. Yang saya persembahkan, pasti merasa tulisan ini berlebihan, hehehe. Kalau begitu, anggap saja ini satu hal random yang iseng-iseng saya lakukan.

Ini tulisan tentang seseorang yang jadi idola dan inspirasi saya sepanjang masa. Hahaha. Dari saya pertama kali bertemu doi, saya masih pakai putih abu-abu dan sampai dibikinin label khusus ‘tukang bolos’ dan si bocah-di-bawah-umur. Dari saya masih ‘ketutup’ sampai sekarang bergumul dengan asap rokok dan alkohol yummy. Dari doi naik mobil VW sabi, naik sepeda, sampai sekarang lebih sering naik taksi. Dari sok-sok bertanya ke e-mail doi yang @centrin.net.id sampai e-mail kerjaan ke e-mailnya yang sekarang. Namun, masih aja doi gemar Dji Sam Soe dan Es Jeruk Nipis!

Dari doi, saya belajar terlalu banyak. Dari memisahkan urusan personal dengan profesional dengan bijak. Dari bagaimana mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Sampai belajar untuk nggak gampang menyerah dan kesempatan untuk belajar film programming. Doi juga yang akhirnya mengingatkan pada usia ke-20 saya, (well, nggak secara langsung, sih :]) bahwa saya terlalu sering main-main loncat ke sana dan kemari tapi (sebenarnya) enggak ngapa-ngapain. Doi juga yang jadi ikon saya kalau be a dreamer bukan berarti nggak bisa bikin itu jadi terwujud, asalkan usahanya nggak setengah-setengah. I learn the meaning of ‘work hard, play hard’ from her! Hehehe, and the meaning of being humble. Terlalu banyak yang saya pelajari dari doi sejak tahun 2007 sampai sekarang dan masih akan terus bisa banyak belajar.

Well, good luck dan sakses terus untuk studinya ya, Mba! Terima kasih sudah terlalu sering berbagi (baik teh botol maupun info-info dari A-Z)! Semoga kita bisa bersama-sama terus berjuang untuk kesenian dan kehidupan. #halah

 

Adieu, salam sabi! \m/

Penjara Malam Minggu

Kita bermalam minggu di penjara.

Kita dipenjara pada malam minggu.

 

Dipenjara kemacetan.

Dipenjara gemerlap semu.

Dipenjara kapitalisme.

Dipenjara konsumerisme.

Dipenjara mall.

Dipenjara keluarga.

Dipenjara kerinduan.

Dipenjara pekerjaan.

Dipenjara drama.

Dipenjara kicauan.

Dipenjara ritual.

Dipenjara pasar malam.

Dipenjara ambiguitas.

Dipenjara nafsu.

Dipenjara kesunyian.

dan..

Dipenjara malam minggu itu sendiri.

 

Kita bermalam minggu di penjara.

Kita dipenjara pada malam minggu.

(on my very last night at Kelapa Dua no. 91, June 25th 2011)

June, I Found You! (Juni 2011)

Hello, my lovely morning nicotines :)

I’m not so good at compromising. When I hate a subject, I hate it ’till death. Alhasil, so far baru kelar sampai bab 4.1. and I don’t care.

“Ngedeskripsiin objek penelitian sesusah ngedeskripsiin perasaan aku ke kamu.”

You forgot the first rule of remake: Don’t fuck with the original.” – Sidney Prescott (Scream 4, 2011)

| A: “Lagi apa?” | B: “Lagi grow up and do some shit.” |

Maybe to love is when you stop theorizing.”

Have you ever in condition like you want to change something you shouldn’t?

“Alhamdulillah, hari ini merasakan bagaimana ‘beribadah’ di salah satu gereja :)”

“Cuma gara-gara nulis ‘GKI Gading Serpong’ di status BBM dan gak berjilbab lagi, teman SMA gue mikir gue gak muslim lagi. *speechless*”

Would you like to lie beside me, spend our cigarettes, and watching how the smokes beautifully gone? We keep silent but holding hand still.

“Perut sakit dan perih gara2 makan kripik maicih jam 5 pagi sambil baca bahan UAS :'( Lebih perih dari luka hati, nih.”

I never ‘love’ someone like this before :)”

“Sekuat-kuatnya orang, kalau sendirian nggak akan pernah cukup.” – It Could Have Been a Perfect World di Future Shorts

“Saat ini kita sedang akrobat, dari apa yang ada menuju apa yang kita inginkan.” – Budi Darma

“Matahari itu tidak bisa dikejar. Menulis yang sempurna juga tidak bisa dikejar, tetapi mungkin bisa dilakukan.” – Budi Darma

“Because I think I’m in danger, of falling in love with you..” – Kyle (Beastly) #eaaa

You make my everyday is like sunday :)”

“Makin sayang.. tapi dari jauh aja, deh :) Sleep tight! Hear the moon singing and saying good night :)”

“Tuhan bersama mahasiswa deadline.”

 “Bahkan nunggu render-an video lebih pasti daripada nunggu kamu menoleh ke aku.”

Eight notes funk! I will play you someday and I will remember today every time I’m playing you.”

“Kalau udah ngegebet selama tiga tahun dan selama itu dia punya tiga gebetan dan sekali jadian, it means he’s just not that into you :)”

“Galau dan gombal adalah sarana saya berlatih membuat analogi. #alibi

I’m just too exhausted to be sentimental this time.”

Is there any differences between fragile and sentimental?”

“Orang kalau berusaha jaga perasaan orang lain tapi sebenernya nggak mau malah bikin gemes ya.”

“Orang tegas suka nyebelin tapi kerjaan beres.”

“Obsesi punya kakak perempuan. Thanks God, I have ones :) Dari ciciw sampai kakak sampai yang gak ada sebutan, semuanya baik dan perhatian :)”

“Engkoh-engkoh penjual bubur maknyos: pakai kaos santai udah bolong tapi abis jalan-jalan ke Taiwan, broh!”

“Betapa sebuah karya visual dapat dimaknai secara beragam dan betapa mudahnya kita terjebak.”

Relevansi Masa Lalu dan Kini

Setelah kemarin mengutak-ngatik blog untuk tugas akhir, hari ini saya menemukan kembali kegembiraan mengutak-ngatik blog pribadi ini. Ditambah lagi mungkin berakhirnya semester enam, seharusnya lebih banyak waktu bagi saya untuk lebih produktif. Saya sedang mencoba, semoga saja.

Hari ini iseng-iseng mengetik nama saya dalam kolom search engine Google. Lalu, ada satu link yang menarik yakni link blog teman SMA saya yang sudah lama tidak bersua, Alia Prawitasari. Terbuka lah gambar di bawah ini.

Saya merasa lupa pernah menulis itu. Sudah lama ternyata. But well, apa yang tertulis di situ sangat relevan dengan apa yang saya rasakan kini. Saya bisa begitu tertarik dengan seseorang yang begitu sentimentil dan ‘terluka’ karena ditinggalkan. Bahkan, saya bisa jatuh cinta dengan seseorang karena ke-melankolia-annya. It feels bad, and i don’t want anyone else feels how bad it is.

Ternyata saya belum banyak berubah. Hanya saja saya jadi berpikir betapa naifnya saya berharap bahwa tidak ada orang yang terluka dan merasa sendirian. Betapa naifnya ada keinginan untuk mengubah seseorang agar ia lebih kuat. Well, ternyata  bukan kebahagiaan aja yang riil ketika berbagi. Rasa sakit dan perih juga only real when shared.

Thanks, Al, for reminding me something. It feels good when you found someone out there feels the same way, too. Berbagi ‘kerapuhan’ bukan untuk berbagi the ungrateful feelings, cuma saja itu jadi cara untuk tetap bertahan. To admit that we’ re not strong enough. And no one can change you, except yourself. Persoalannya cuma seputar izin sang waktu.

Jadi, relevansi masa lalu dan kini adalah repetisi perasaan yang sama dengan definisi yang berbeda karena ada revisi sehingga terus diperbaharui. Mungkin seperti skripsi. Sekian.

Tanda Tanya: Yang Personal dan Yang Komunal

Siapa yang tidak mengenal Indonesia karena keberagamannya? Agama, suku, etnis, adat istiadat, bahasa, dan juga beberapa produk budaya lain yang ada di Indonesia tidak hanya satu, tidak monoton, tetapi begitu banyak sampai-sampai tidak mudah bagi kita untuk menghafalnya satu per satu. Namun, keberagaman yang bisa ‘dibanggakan’ itu dipertanyakan dengan beberapa kekerasan atas nama agama yang terjadi belakangan ini atau terorisme atas nama jihad. Dua kondisi ini seolah menjadi dua realitas yang paradoks. Di satu sisi, perbedaan itu realitas yang tak dapat dihindari apalagi di’musnah’kan. Sedangkan, kekerasan atas nama agama juga bukan sebuah kisah fiksi. Maka kemudian kehadiran film ‘Tanda Tanya’ (2011) seolah-olah mempertanyakan, realitas mana yang sebaiknya dipilih?

Kedua realitas ini ditampilkan dalam film, seolah berebut menjadi juara agar dipilih. Dibuka dengan shot tempat ibadah dari agama berbeda yang diambil dalam diam dan diiringi nuansa musik berlainan yang mewakilkan ‘karakteristik’ masing-masing agama tadi. Setelah menikmati manisnya perbedaan lalu kita dibawa pada adegan penikaman seorang pendeta yang sedang menyambut umat-umatnya datang ke gereja. Di sini ‘tanda tanya’ pertama muncul.

 

Ekstrim

Perbedaan-perbedaan di film ini sendiri ditampilkan secara ekstrim. Menuk (Revalina S. Temat), seorang muslim yang bekerja di restoran milik Tan Kat Sun (Hengky Solaiman), seorang keturunan Tionghoa, di mana restoran tersebut menyajikan daging babi sebagai menu masakannya. Toleransi di sini digambarkan dengan keramahan Tan Kat Sun dan istrinya terhadap Menuk (yang ke-Islam-annya ‘diperkuat’ dengan memakai jilbab), mempersilakan Menuk sholat ketika waktunya, serta membedakan perangkat masak-memasak yang digunakan untuk memasak makanan yang memakai daging babi dan mana yang tidak.

Persoalan Rika (Endhita) juga digambarkan tidak kalah ekstrimnya. Ia berpindah agama, dari Islam ke Katholik, setelah berpisah dari suami yang ingin mempoligaminya. Namun, ia tinggal dengan anaknya yang tetap muslim. Perbedaan ekstrim lainnya tergambar pada pilihan Surya (Agus Kuncoro), seorang aktor yang selalu menjadi figuran, ketika mendapatkan tawaran untuk berperan sebagai Yesus, aktor utama, dalam drama paskah sebuah gereja, padahal ia seorang muslim.

Perbedaan yang ekstrim ini seperti sengaja dikondisikan sedemikian rupa untuk mempermudah penonton bersentuhan langsung dengan perbedaan yang menjadi tanda tanya utama dalam film ini. Ibaratnya, konflik dalam film ini tidak muluk-muluk membawa pada konsep perbedaan yang abu-abu dan multi-interpretasi, tetapi perbedaan yang mencolok, yang hitam dan putih. Dengan perbedaan yang tampil ekstrim, maka seharusnya lebih mudah untuk menyeret penonton konflik para tokoh karena gesekan-gesekan perbedaan itu terus terjadi hampir di sepanjang film.

Walaupun begitu, hal ini harus dipertimbangkan secara hati-hati karena justru bisa menjadi jebakan-makan-tuan jika representasi perbedaan secara ekstrim ini diambil hanya dari simbol-simbol konvensional. Bahkan akan jadi cenderung normatif. Apa iya semua muslim tidak memakan babi? Atau dari yang paling sering dibicarakan, apa iya semua muslim memakai jilbab? Jika tidak ada rumus untuk mengembangkan representasi-representasi tadi secara visual, maka selamanya akan terjebak dalam simbol-simbol konvensional tadi.

Namun dalam film ini, hal tersebut tertolong dengan menempatkan simbol-simbol konvensional dalam gambar adegan tertentu yang ‘menampar’. Seperti bagaimana kamera bergerak menyorot istri Tan Kat Sun yang sedang beribadah dengan hio lalu beralih ke Menuk yang berjilbab dan sedang membereskan sajadahnya. Atau shot gambar Rika yang mencoba membujuk anaknya yang mengunci diri di kamar karena marah padanya akibat telat menjemputnya di langgar seusai mengaji. Kamera bergerak dari menangkap ekspresi kesedihan dan kebingungan Rika ke gambar kaligrafi bertuliskan ‘Allah’ di pintu depan kamar Abi, anaknya.

 

Personal dan Komunal

Yang juga menjadi tanda tanya lainnya dalam film ini adalah bagaimana memposisikan keyakinan itu sendiri. ‘Tanda Tanya’ menjadikan tokoh-tokoh protagonisnya adalah tokoh yang bisa memposisikan agama sebagai pilihan yang personal dan dijalankan secara personal pula. Rika, yang memutuskan pindah agama dan menyatakan bahwa keputusannya itu diambil atas pilihannya sendiri. Walaupun begitu, saat ditanya oleh Romo siapa Tuhan baginya, ia tidak bisa mengelak bahwa Tuhan yang ia kenal adalah yang Ar-Rahman, Ar-Rahim, dan istilah lainnya yang ia kenal.

Atau ketika Menuk mencoba mengingatkan suaminya yang keburu mengeneralisasikan ‘Cina’ ketika Ping Hen (Rio Dewanto) tidak memberikan libur lebaran pada karyawan tokonya. Ia mengingatkan bahwa yang ia dan teman-temannya protes adalah Ping Hen sebagai individu, bukan ia sebagai etnis Cina.

Konflik muncul ketika tokoh-tokoh protagonis ini justru yang paling harus bermasalah karena adanya keyakinan akan kebenaran yang berlaku secara komunal. Seperti beberapa pemuda masjid yang berpapasan dengan Ping Hen dan mengoloknya “Cina!” atau ketika Soleh (Reza Rahadian), suami Menuk, yang menyerbu restoran tempat Menuk bekerja, berdasarkan kebenaran menurut mereka secara kelompok. Atau konstruksi berpikir seorang ibu yang berujar, “Kalau jual buku agama, pasti lebih laku.” yang membuktikan bahwa ada kebenaran komunal yang diproduksi sehingga menghilangkan ruang untuk ‘kebenaran pribadi’ dan pilihan ‘personal’. Atau bagaimana Abi merasa tertekan dengan olok-olok teman-temannya tentang ibunya yang ‘memilih’ agamanya sendiri.

Walau demikian, posisi tokoh agama dalam film ini justru dihadirkan sebagai pihak yang memoderasi perbedaan-perbedaan ini. Seperti Ustad yang menganjurkan Surya untuk memilih sesuai kemantapan hatinya atau Romo yang justru melerai ketika ada keributan dari jemaahnya yang memprotes peran Yesus diperankan Surya yang beragama Islam. Bisa dibilang ini cara aman sekaligus untuk menyampaikan pesan-pesan toleransi. Ditambah lagi banser NU di film ini yang sangat toleran dengan tugas mereka menjaga keamanan gereja pada saat paskah.

Namun, sayang sekali menjelang ending, film ini tampak kehilangan pegangannya. Ia seperti tidak bisa mempertahankan secara utuh keharmonisan dari perbedaan yang berusaha ia perjuangkan meski menemukan banyak kesulitan. Pasca kematian Soleh yang disebut-sebut ‘mati syahid’, maka kemudian Soleh dijadikan pahlawan film ini karena ia akhirnya tahu apa yang harus ia lakukan setelah selama ini ia hidup dalam kerapuhan dan rasa bersalahnya. Nama pasar pun berganti menjadi Pasar Soleh dan toko tempat Menuk bekerja yang sudah menjadi milik Ping Hen pun berganti aliran menjadi restoran halal setelah Ping Hen juga berganti keyakinan. Mungkin Soleh mati tidak sia-sia, tapi film ini berakhir dengan sia-sia karena seperti menyingkirkan keharmonisan perbedaan yang mencoba dicapai di awal film.

Dua realitas bertabrakan yang dipertanyakan pada awal film sampai sekitar 2/3 film ternyata tidak ada yang dimenangkan dalam film ini karena justru film ini diakhiri dengan mimpi. Mimpi bahwa pada akhirnya semua kondisi akan harmonis ketika seseorang bisa membuat pilihan untuk menjadi seragam atas kemauannya sendiri.