I Was Fine Before I Met You

19 Jan

Pada tahun 2011 –kalau tidak salah ingat, gue dikasih tahu seorang teman soal serial “The L Word”. Serial berkisah seputar kehidupan sekelompok lesbian yang berlatar di California, Los Angeles. Di serial ini, gue suka banget sama salah satu pasangan: Bette Porter dan Tina Kennard. Mereka diceritakan telah menjadi pasangan dan hidup bersama selama tujuh tahun. Tentunya di serial ini mereka melalui banyak hal: suka duka menjadi pasangan lesbian, berpisah layaknya pasangan manapun, memutuskan punya dan mengasuh anak, sampai akhirnya mereka bersama lagi. Waktu mereka lagi tidak menjadi pasangan, Tina sempat penasaran bagaimana rasanya berhubungan lagi sama laki-laki. Bette, yang pernah menjadi kurator galeri seni, sempat pacaran dengan seorang seniman tuna rungu bernama Jodi Lerner. Mereka bertemu waktu sama-sama mengajar seni rupa di salah satu universitas. Namun, hubungan mereka harus berakhir karena ternyata antara Bette dan Tina masih ada yang belum ‘kelar’. Waktu Jodi meminta Bette meluruskan apa yang salah dengan relasi mereka sampai Bette lebih memilih kembali sama Tina, dia sempat bilang, “I was fine before I met you.” Salah satu adegan yang membuat perut dan dada gue terasa hampir ngilu tapi tidak sampai benar-benar ngilu. Ngilu nanggung.

Kenapa Jodi bisa bilang begitu? Inilah analisis sok tahu gue yang akan berlanjut ke curhatan gue.

Jadi, peran Jodi di serial ini adalah seorang yang ‘bebas’. Singkatnya, dia tidak suka terikat karena itu bisa mengekang kebebasannya. Tidak suka terikat peraturan, termasuk tidak mau terikat sama pasangannya meskipun mereka adalah pasangan. Beda sekali sama Bette yang ingin semua hal berada dalam kontrol dan tampak sempurna berdasarkan anggapan dia. Sebagai tokoh yang baru muncul di musim ke empat, Jodi dikesankan sebagai sosok yang harusnya membuat hidup Bette –yang muncul dari musim pertama, jungkir balik. Semua aturan-aturan yang Bette buat supaya tidak pernah ada kata salah dalam hidupnya, ‘dilanggar’ semua sama Jodi. Meskipun awalnya Bette tidak bisa menerima perbedaan dan gesekan-gesekan yang ia alami sama Jodi, tapi toh cinta mengalahkan segalanya. Sampai akhirnya, produser The L Word yang menjungkirbalikan segalanya. Saat penonton mengira Jodi telah menjungkirbalikan hidupnya Bette (dan mungkin memang), kenapa pada akhirnya Bette memilih jungkir balik hidup sama Tina lagi?

Di saat itulah, di semua situasi yang membuat penonton percaya bahwa Bette tampak tak berdaya di hadapan Jodi, produser tak ingin Bette kembali pada Tina tanpa meninggalkan simpati untuk Jodi. Ternyata Bette pergi saat Jodi siap melibatkan Bette dalam hidupnya. Yang mana, sebelum ketemu Bette, dia bergantung penuh sama dirinya sendiri untuk tiap keputusan yang dia buat. Bette pergi saat dia mulai peduli dan khawatir kalau Bette juga tampak khawatir, padahal sebelum ketemu Bette, dia cukup mengkhawatirkan dirinya sendiri –dan dia cenderung memilih untuk bebas dari kekhawatiran akan dirinya sendiri. Jadi lah, I was fine before I met you itu dilontarkan. Tanpa berharap dan mengira bahwa dia akan bertemu dan bahkan punya hubungan dengan Bette, ternyata orang ini malah membuat hidupnya jungkir balik. Yang tadinya Jodi tidak suka terikat, akhirnya ia memutuskan untuk kompromi dengan kehadiran Bette –dan bukan orang lain, dalam hidupnya. Lalu, orang yang bikin jungkir balik ini malah pergi. Kan bera’?

Mungkin I was fine before I met you hanya frase lain dari You took my heart away atau Separuh jiwaku pergi atau Ada yang hilang dari perasaanku yang terlanjur sudah kuberikan padamu. Serta lagu-lagu lain yang mampu menyuarakan betapa sebagian dari diri lo ikut pergi orang yang (mungkin lo anggap) pergi dari lo. Sebelum ketemu dia, makan siang makan malam sendirian ya biasa saja. Sebelum ketemu dia, tanda messenger di push notification HP nggak ditunggu-tunggu amat. Sebelum ketemu dia, menonton film di bioskop sendirian ya sanggup-sanggup aja. Sebelum ketemu dia, semua barang/peristiwa/hal tertentu, nggak merangsang otak lo untuk bekerja mencari memori tertentu yang ada dia-nya. Serta semua hal biasa saja yang bahkan cenderung tidak lo perhatikan padahal mungkin lo temui tiap hari. Namun, setelah ketemu dia, semua hal jadi tampak baru dan menarik untuk diperhatikan karena lo lakukan/temukan bersama dia. Semua karena lo memposisikan diri lo sebagai bejana kosong sedangkan kehadiran mereka mengisi kekosongan itu. Bahkan, lo yang membiarkan mereka mengisi diri lo atau sengaja menyodorkan diri lo untuk diisi mereka. Padahal, bagi mereka, ya mereka cuma melakukan apa yang mereka mau dan bisa aja tanpa bermaksud menjadi pengisi kekosongan itu.

Waktu awal-awal ketemu orangnya, ya nggak pernah muncul di benak lo kalau dia yang bisa bikin lo jungkir balik. Atau lo habis patah hati dan sudah mengantisipasi, “Ah, nggak usah naksir-naksir, deh. Akan sama aja kayak yang kemarin-kemarin.” Jadi, sekali atau beberapa kali ketemu sih ya nggak merasa apa-apa. Mau dia pulang ngesot kek, mau dia lagi guling-gulingan di rel kereta kek, mau dia makan racun kek, mau dia suka kelupaan barang atau kebiaaan-kebiasaan bodohnya dia, nggak pernah tuh lo tekan tombol ‘rekam’ dan ‘simpan’ adegan-adegannya ke otak lo. Lalu tiba-tiba ada satu kejadian sama dia yang bikin perut lo kayak berisi dinosaurus-dinosaurus lagi lari dari perut menuju dada. Terus lo usaha terus deh bagaimana caranya dia bisa ada di antara 24 jam per hari dalam hidup lo. Semua adegan yang ada dia-nya otomatis terekam dan tersimpan. Frame by frame.

Lalu seterusnya sekian detik aja nggak pernah cukup. Maunya setiap detik bisa bersama dia. Setidaknya, sebanyak-banyaknya detik harus sama dia. Kalau lagi nggak ada dia dan lo lagi sama orang lain, random aja mau menyebutkan namanya padahal lagi ngomongin hal yang belum tentu ada hubungannya sama dia. Lalu kalau lagi sendirian, otak otomatis menayangkan semua yang berhasil terekam deh. Baca-baca ulang pesannya di messenger. Lalu lo senyum-senyum sendiri. Atau diikuti pertanyaan-pertanyaan, “Ini maksudnya apa ya?” Lo tanya teman curhat lo, dia bilang, “Ya yang terbaik aja. Ya dinikmati aja.” ditambah wejangan supaya bisa terima kalau ternyata memang nggak ada maksud apa-apa. Lo penasaran dan akhirnya lo tanya dia. Terus dia bilang, ya nggak ada maksud apa-apa. Memang itu yang dilakukan teman. Lo iya-iya aja, rada sedih juga sih, tapi lo menolak untuk percaya, karena lo masih berharap kalau kali ini akan berbeda dari biasanya. Lalu, lo kembali usaha dan semua terasa makin baik dan makin indah, sampai akhirnya lo tau dari orang lain, bahkan tau dari e-mail berupa notifikasi Facebook –yang biasanya jarang-jarang dikirimi, bahwa dia udah jadian sama orang lain. Terlalu ekstrim sih, hahaha. Ya sebut saja kalau ternyata dia tertariknya menjalin hubungan sama orang lain.

Awalnya cuma bisa ketawa. Sampai akhirnya lo ngerasa kayak jatuh ke dalam lubang gelap dalam tapi nggak sampai-sampai ke dasarnya. Jatuh tapi belum sampai terbentur apa-apa. Jatuh aja. Terus. Belum berasa sakitnya. Namun, lo menanyakan hal yang sama terus-terusan. Masa sih nggak berarti apa-apa? Masa sih? Dia mau diajak makan dan nonton berdua. Dia beberapa kali mengusap kepala lo dan menyandarkan kepalanya di bahu. Dia mau mengolesi obat memar setelah lo jatuh. Dia yang mengingatkan lo supaya nggak malas jalan kaki dan mengurangi makan-makanan cepat saji (kecuali warteg, katanya). Semua lo pertanyakan. Setelah curhat hal yang sama sejuta kali sama teman sampai lo jadi kasihan sama dia, tiba-tiba lo sadar kalau dia juga melakukan itu ke banyak orang. Ya memang dia baik aja. Ya memang dia mau jadi teman yang baik aja. Ya memang dia senang jadi temen main lo aja. Masih untung dia nggak menjauh atau menghindar atau menolak untuk berteman dengan lo.

Ya memang lo aja yang bikin persepsi sendiri di kepala tentang kalian sehingga lo menolak bahwa ada persepsi lain atau bahkan kenyataannya sekalipun. Tiba-tiba lo merasa perlu menjadi gila. Cuma ternyata lo nggak cukup berani buat gila, jadinya lo cuma bisa mengakui kalau lo bodoh. Bahwa sebenarnya lo naif, ge-er, dan penasaran. Lalu lo marah sendiri karena ternyata persepsi lo berbeda dengan persepsi dia, dan dengan kenyataan. Marah karena semua berjalan tidak seperti yang lo bayangkan dan harapkan. Marah karena ternyata dia tetap baik padahal lo sudah menuduh dan menyalahkan dia mengacak-acak hidup lo, padahal dia cuma menjadi dirinya sendiri dan sudah mengasih yang terbaik buat lo sebagai temannya.

Lalu lo menarik diri dan menjauh.

Menyalahkan orang yang kita tuduh bikin kita ge-er karena dia memang mau baik dan perhatian sama lo, karena dia memang sayang sama lo tapi tidak seperti yang lo harapkan, apa nggak terlalu egois ya? Kayaknya sama kejamnya sama pemerkosa menyalahkan korban karena korbannya pakai rok mini, pakai atasan yang belahan dadanya terlihat, atau seandainya sang korban mas-mas yang telanjang dada dan pakai celana di bawah pinggang, misalnya. Padahal semua karena lo yang ge-er, karena lo terlalu mudah menginterpretasikan perhatiannya menjadi sesuatu yang lebih, dan karena lo menjadikan dia prioritas dan berharap dia akan melakukan hal yang sama. Siapa suruh ngarep?

Selain menyalahkan diri sendiri, ada aja waktu buat menyalahkan dia. Apalagi setelah lo kembali ke hari-hari lo yang berasa selalu sendiri itu. Merasa helpless karena sebagian diri lo ikut pergi seiring kepergian dia (padahal elo yang menjauh). Terus tiap hari butuh pendistraksi pikiran dan perasaan. Bukan makin baik malah makin nge-drop. Lo maki-maki dia di semua jejaring sosial yang lo punya, bikin diri lo sendiri menyedihkan, nyanyi lagu The Script yang Break Even karena menganggap dia nggak peduli juga lo mau ngerasa dan berpikir apa tentang dia. Cuma liat korek api, terus lo sedih sendiri cuma gara-gara dia pernah memberikan lo korek api. Ketika memang mau nggak mau jalan kaki, terus lo sedih sendiri karena biasanya ada yang maksa dan menemani jalan kaki. Semuanya deh. Terus lo copy-paste kalimat I was fine before I met you ke kotak ‘compose tweet’ karena lo merasa itu mewakili keadaan dan perasaan lo.

Setelah ditertawakan waktu, tiba-tiba sadar sendiri. Layaknya Sherlock Holmes yang akhirnya menemukan kepingan puzzle yang terlewat, padahal kepingannya selalu ada di situ dan nggak kemana-mana. Cuma nggak disadari dan terlewatkan begitu saja. Tunggu deh, I was fine before I met you?

Kalau

gue

bisa

baik-baik

aja

sebelum

gue

ketemu

dia,

bukannya harusnya sekarang gue juga bisa baik-baik aja tanpa dia?

Bisa kok, harusnya bisa. Cuma soal mau dan nggak mau aja. Cuma soal menerima kalau dunia dia emang bukan lo doang. Cuma soal menerima kalau bukan elo yang dia mau untuk bikin hidupnya jungkir balik. Bahwa memang sama lo dia bisa senang, tapi dia punya kebutuhan senang yang lain dengan orang yang dia pilih. Jika memang harus terjadi ya terjadilah.

Hampir sama kayak dulu kita bisa baik-baik aja waktu belum ada HP, belum ada internet, dan teknologi canggih lainnya. Begitu mereka ada, sekarang susah banget kayaknya kalau HP ketinggalan atau kalau internet di kantor/rumah/tempat nongkrong lagi down. Lalu, apa berarti keberadaan HP, internet, dan lain-lainnya itu perlu disesali? Meski sekarang dikit-dikit buka HP, lagi ngumpul bareng teman tapi malah sibuk dengan HP masing-masing, atau butuh internet tanpa mengenal waktu, tapi bukan berarti HP, internet, dan teknologi ini perlu dihilangkan dan dimusnahkan kan? Cuma perlu lebih bijak aja mengelolanya dan nggak perlu gila kalau lagi nggak ada dua hal itu.

Mungkin begitu juga seharusnya mengelola memori dan perasaan. Kayak lirik “Lost Stars”-nya Begin Again aja, don’t you dare let our best memories bring you sorrow. Kehadiran orang lain tuh dipastikan bisa mengubah hidup kita dan sebagainya. It’s inevitable. Namun nggak perlu membuat diri sendiri hancur juga karena menganggap orang lain yang menentukan hidup kita baik atau sengsara. Ya yang menentukan kita harus tetap waras ya diri sendiri.

Well, dulu gue pernah menulis, pengalaman dan pengetahuan pernah sayang sama orang lain itu ibarat membuat tato. Ketika berakhir luka dan nggak enak, mau berusaha dihapus dengan cara apapun, ya nggak bisa aja. Cuma bisa menyerahkan semuanya sama waktu dan Tuhan, kalau lo percaya. Time heals almost everything. Jadi, seiring berjalannya waktu ya cuma persepsi kita aja yang bisa berubah tentang makna tatonya. Mungkin dari suatu hal yang kita sesali, jadi sesuatu yang bisa kita syukuri karena kita pernah punya tato itu.

Ya nggak tahu sih apakah perasaan atau urusan hati bisa disamakan sama teknologi, tapi ya dicoba dulu aja. Namanya juga hidup. Ini pun gue tulis pas lagi agak positif aja. Nanti juga kalau lagi bego, kecele, dan terjebak perasaan, ya korsleting lagi juga. Hahahaha.

Kutipan

Yang satu mati,…

9 Jan

Yang satu mati, yang satu kawin dan bikin anak lagi.

– Hidup, #truestory.

Enough Years Wasted

8 Jan

Memasuki bulan Desember 2012 kemarin, semangat untuk bekerja mulai kendur. Atas dasar alasan A, B, C, D, hawa bulan Desember itu adalah hawa-hawanya santai dan bermalas-malasan. Jadilah pertarungan antara membiarkan diri bermalas-malasan dengan tuntutan membereskan beberapa hal yang sebaiknya sudah dibereskan sebelum pergantian tahun. Pertarungan berlangsung seimbang: beberapa hal berhasil dituntaskan, beberapa lagi tersingkirkan sementara oleh rasa malas (seharian hanya makan, nonton drama korea, dan tidur).

Malam pergantian tahun dirayakan dengan makan shabu-shabu homemade bersama keluarga. Berhasil (sok-sok) bikin toast dengan white wine. Sisanya tidur, melanjutkan nonton drama korea, dan santai-santai. Seolah-olah pada dua hari penting itu, waktu diciptakan hanya untuk disia-siakan. Lagi-lagi ada pertarungan: di satu sisi merasa tidak tahu harus merasa apa, di sisi lain ada rasa syukur yang gengsi diutarakan. Sedikit khawatir, kalau tahun yang baru akan sama saja: menjadi tahun yang dilewati begitu saja. Sudah tidak sanggup lagi bikin resolusi, karena masih tetap belum punya mimpi. Membayangkan diri ini membayangkan masa depan saja, rasanya sulit sekali. Masih berpegang teguh pada prinsip ya-sudahlah-ikut-saja.

Image

Namun, hari ini, setelah beberapa momen terjadi, saya mulai berpikir bahwa sepertinya prinsip lihat-saja-nanti sudah harus mulai dikurangi. Mungkin, yang bikin saya merasa kosong dan buntu karena saya tidak lagi merasakan ‘berhasil’, tidak juga merasakan ‘gagal’. Semua terjadi karena ya-sudah-begitu-saja, karena tidak punya patokan keberhasilan ataupun kegagalan terhadap apa yang saya kerjakan. Terlalu banyak rencana yang tidak pernah berhasil diwujudkan, karena sudah keburu gelisah dan ketakutan dalam pikiran. Takut salah, takut gagal, dan takut-takut lainnya. Semua dilewati hanya karena harus dilewati.  Seperti saat ini hidup, hanya karena belum bisa mati. Hasilnya, muncul keinginan kembali untuk berefleksi dan membuat resolusi. Jadilah tulisan ini.

Sebelum mencatat resolusi atau ambisi yang ingin mulai dikejar per 2013, ada inginnya mengeluarkan catatan terlebih dahulu tentang beberapa hal yang terjadi pada 2012. Lagi-lagi, sebagai tahun yang tanpa ekspektasi, memasuki 2012 hanya berarti satu: lulus dari kampus. Awal tahun lalu hanya diisi kombinasi upaya saya menyusun bab I skripsi dengan persiapan Bulan Film Nasional 2012. Angan-angan untuk bisa lulus 3,5 tahun, lalu sisa ½ tahunnya akan dipakai berlibur dan santai-santai, ambyar sudah. Antara ketagihan dan keteteran karena malas menyeimbangkan pengerjaan skripsi dengan kerjaan.

Maret 2012, itu jadi Bulan Film Nasional pertama yang dikerjakan tanpa manajer kami yang dulu. Kembali jadi programmer, kali ini untuk program dokumenter. Mencoba menyajikan film-film dokumenter Indonesia yang menerapkan gaya observasional dan partisipatif. Cukup puas meski setelah dipikir-pikir lagi, masih banyak yang harus dievaluasi. Banyak belajar, entah dari konten yang dikerjakan, maupun dari pelaksanaan kegiatannya. Meski jadi agak kapok memegang dua kerjaan sekaligus.

Setelah Bulan Film Nasional selesai, niat mengerjakan skripsi kembali terdistraksi dengan antusiasme menyambut hampir selesainya restorasi film Lewat Djam Malam karya Usmar Ismail tahun 1950. Sampai awal Juni, sedikit terlibat dalam persiapan pemutaran film tersebut di Jakarta, tetapi cukup menyita banyak waktu dan pikiran. Lagi-lagi banyak belajar dari keterlibatan ini, mulai dari pengalaman bekerja dengan orang-orang berpengalaman, sampai mengantar undangan ke rumah orang-orang sehingga harus mempelajari rute yang efektif dan efisien.

Usai bereuforia atas film Lewat Djam Malam yang sudah direstorasi, pertengahan Juni benar-benar harus mau tidak mau menuntaskan skripsi. Dengan tekad yang sok untuk menyelesaikan skripsi dalam waktu sebulan, ternyata saya malah digampar kenyataan: dosen pembimbing yang marah dan kecewa karena saya ‘menghilang’ dan skripsi belum juga ada peningkatan, sehingga saya mendapat ganjaran tidak bisa lulus tepat waktu. Nangis-nangis di depan (semacam) dosen konseling, di depan teman-teman dan dosen lain, ngablu tiga hari, sampai akhirnya mulai mengerjakan lagi. Menonton teman-teman sidang skripsi sampai satu per satu dari mereka akhirnya sudah bergelar S.I.Kom. Sedangkan saya masih berkutat dengan revisi-revisi, bahkan ketika masa berlaku kartu mahasiswa saya sudah habis.

Entah mukjizat dari mana, ternyata walaupun tidak lulus tepat waktu, tapi saya masih bisa wisuda bareng teman-teman seangkatan. Hanya perlu bayar uang perkuliahan satu semester tambahan. Sidang 22 Oktober 2012, deadline pengumpulan skripsi yang sudah direvisi dan hard cover 5 November 2012, wisuda 24 November 2012. Sesudah itu, kembali bekerja di tempat kerja masing-masing. Sudah, sepertinya itu saja.

Tahun 2012 harus jadi tahun terakhir untuk buang-buang waktu dan tahun 2013 harus jadi tahun ‘pertama’ untuk fokus belajar tentang sinema. Entah bagaimana caranya. Semua harus bisa, kalau memang mau. Kalau kata idola saya, “Stress nggak apa-apa, asal ada hasilnya.” Jadi, atas dasar itu, maka target 2013 saya, antara lain,

1.    Membaca minimal 2 buku tentang sinema

2.    Menulis minimal 2 resensi film

3.    Menonton 1/5 dari total film di hard disk eksternal yang belum ditonton

4.    Membaca buku Komposisi-nya  Gorys Keraf dan diterapkan dalam tulisan yang dibuat :p

5.    Menemukan target dan rencana mau lanjut sekolah atau belajar formal di mana

6.    Mengurangi satu tingkat kemalasan dan kesukaan menunda-nunda pekerjaan, fokus

7.    Lebih rapih dan bersih (baik dalam merawat diri sendiri maupun terhadap lingkungan sekitar)

8.    Berusaha keras buat hidup cukup, mengurangi tanggungan babe sama tante-tante, syukur-syukur bisa ngasih mereka macem-macem

9.    Membuat minimal 1 program film

10. Pergi ke satu kota di negara lain dan satu kota lain selain Jakarta, lalu harus bikin tulisan perjalanan

Itu dulu saja, deh. Belum kepikiran lagi. Semoga tidak terlalu ambisius, tetapi juga jangan terlalu tidak berambisi. Semangat! Tahun ini sudah berusia 22 tahun, yang semakin ke depan (katanya) usia akan semakin terasa cepat berganti. Semoga semangatnya nggak cuma pas awal-awal tahun, tapi juga terus-terusan! Selama ini cuma punya target dan membayangkan diri sudah mencapai target, sehingga lupa melakukan yang perlu dilakukan untuk mencapai target secara nyata, atau keburu takut targetnya tidak tercapai.

Tahun ini tahun mengurangi rasa takut, terutama takut salah dan takut gagal. Satu hal yang saya lupa syukuri adalah bagaimana saya bisa berada di mana saya berada sekarang. Apalagi dengan kondisi otak, yang baru ketahuan tidak sesuai ‘standar’, setelah 20 tahun hidup. Jadi, sebelum makin kenapa-kenapa dan untuk mencegah saya semakin ‘lemah’ setelah mengetahui hal tersebut, maka lewat tulisan ini saya bertekad untuk mengurangi menyia-nyiakan apapun dalam hidup saya. Kecuali hidup saya memang ditakdirkan sia-sia, hehe.

 

Jembatan Lima, 6 Januari 2013

Kutipan

Kalau ada bola …

7 Jan

Kalau ada bola jauh, kamu harus deketin. Jangan malas ngejar.

– Pak Robin, guru les tenis, evaluasi hari pertama latihan.

Surealis itu Skripsi

23 Okt

Selama 21 tahun sekian bulan saya hidup, selain pengalaman-pengalaman skip saya akibat bentuk fisik otak saya yang tidak 100%, pengalaman paling surreal bagi saya adalah pengalaman menyelesaikan skripsi. Menyelesaikan skripsi menjadi proses yang kalau saya ingat-ingat lagi, akan selalu bikin saya heran bagaimana proses itu bisa saya lewati. Ibaratnya putus dari pacar, mengerjakan skripsi itu adalah fase move on-nya. Waktu ngejalanin kok rasanya nggak selesai-selesai, gak tuntas-tuntas, tapi tanpa dirasa-rasa dan disadari, tau-tau sudah selesai, sudah sidang, dan lalu sudah mau diwisuda.

Mungkin yang bikin pengalaman mengerjakan skripsi saya jadi surreal adalah karena saya terlalu meremehkan dan menganggap enteng proses mengerjakan skripsi. Entah ini alibi atau tidak, tetapi bagi saya, proses mengerjakan skripsi yang ‘apa adanya’ menjadi bentuk protes saya dengan sistem kampus yang juga sangat ‘apa adanya’ dalam menyiapkan kami mengerjakan skripsi dengan baik. Pikir saya, berhak apa kampus menuntut kami membuat skripsi yang ideal jika toh mereka juga nggak berhasil ‘mengajar’ kami secara ideal? Yang kemudian membuat saya berpikir, bahwa kami akan jadi sarjana lulusan S1, tapi dalam mata kuliah-mata kuliah sebelumnya, kami tidak dibiasakan berpikir sistematis, analitis, atau pola berpikir yang dibutuhkan seorang peneliti atau akademisi. Namun, kami lebih cenderung disiapkan membuat program TV yang handal, menulis berita yang baik, dan hal-hal lain yang lebih cocok untuk bekal sebagai pekerja media.

Atas dasar itu lah, saya tidak mau membuat skripsi yang muluk-muluk agar bisa selesai lebih cepat. Namun ternyata, untuk membuat skripsi yang ‘asal-asalan’ saja ternyata tetap butuh waktu. Jadi, di saat detik-detik terakhir pengumpulan skripsi, saya diprediksi tidak bisa menyelesaikan skripsi tepat waktu sehingga akhirnya saya diharapkan untuk bisa ‘legowo’ menerima bahwa saya mungkin bisa tidak lulus tahun ini (padahal jarak pengumpulan skripsi terakhir dengan waktu wisuda masih ada sekitar 3,5 bulan). Dan ada cerita lain lagi tentang bagaimana saya melewati detik-detik menyedihkan itu.

Yang tadinya saya rencanakan bisa lulus 3,5 tahun, gagal. Yang tadinya saya rencanakan bisa lulus tepat waktu dengan menyelesaikan skripsi seadanya dengan ngebut, gagal. Yang saya bayangkan saya bisa membuat skripsi yang “saya banget”, gagal. Yang tadinya saya bayangkan saya masih punya uang tabungan sekitar 2,5 juta karena masih ada sisa uang beasiswa saya yang belum kepakai, gagal, karena saya harus bayar biaya SKS semester baru. Semua yang saya prediksikan dan bayangkan tentang lulus dari kampus ini dengan riang, ternyata sangat berlainan dengan kenyataannya.

Image

Namun, hanya butuh waktu sekian hari untuk akhirnya saya kembali melanjutkan dan menyelesaikan skripsi saya. Mungkin, yang bikin proses mengerjakan skripsi ini menjadi begitu surreal adalah saya merasa begitu sendirian saat mengerjakannya. Bukan karena saya tidak punya pasangan yang bisa nemenin mengerjakan skripsi (walaupun pernyataan teman saya, Windu, bahwa kita lebih butuh pendamping dalam mengerjakan skripsi daripada pendamping pas wisuda, terasa benar bagi saya), tapi karena saya berada di gelombang yang berbeda dengan teman-teman saya. Di saat teman-teman saya sibuk bimbingan dan kesana kemari mencari referensi buku, saya lagi ada kerjaan lain. Di saat teman-teman saya sudah tinggal mengerjakan abstraksi, saya baru mau mulai mencari konsep-konsep teori. Ketika teman-teman saya sudah boleh teriak lega, saya baru merasakan skripsi terbawa mimpi. Ketika teman-teman saya sudah mencari kerja, saya masih mencari waktu untuk bimbingan.

Jadi, di saat teman-teman cenderung mengisolasi diri dan menyerahkan hampir sekian minggunya untuk begadang, bimbingan secara intens, saya masih bisa mengerjakan skripsi sambil diselingi menonton film atau teater. Apalagi dosen pembimbing saya bukan orang yang bisa diajak bimbingan intens setiap hari. Kemudian, ketika saya mengumpulkan skripsi (saya tidak tahu kalau hari itu adalah deadline pengumpulan skripsi gelombang pertama di semester baru), tidak ada kepanikan-kepanikan juga rasa lega yang luar biasa. Atau, sehari sebelum sidang, saya masih sempat menonton pertunjukkan teater dan baru menyiapkan materi H-sekian jam (salah bawa bahan skripsi pula, ternyata). Di mana ketika sidang, saya bisa merasa begitu ngantuk sehingga begitu ngelantur dalam menjawab pertanyaan penguji. Yang ketika dinyatakan lulus, saya cuma bisa teriak “faaaaak” atau perasaan ingin teriak “aaaaak” sebagai konsekuensi kebingungan, “Sudah lewat, nih?”. Seperti ada sesuatu di luar saya yang menggerakkan badan saya, mulut saya, otak saya, sedangkan saya sendiri merasa selama ini hanya tidur saja. Bahkan saya heran kenapa saya nggak kepengen mengganti status BBM saya dengan “S. I. Kom” pakai smiley dan lain-lain. It’s so fucking surreal.

Pada akhirnya, mungkin ini seperti pernyataan Robert Frost yang pernah dikutip seorang teman di status BBM-nya, bahwa “the best way out is always through it.” Dan syukurlah, dari pengalaman paling surreal ini, ada begitu banyak dukungan dan kasih sayang yang saya rasakan dari orang-orang terdekat, dan bahkan sekalipun sama yang tidak dikenal. Jadi, rasa syukur ini bukan sekedar karena saya berhasil melewati, tapi bersyukur karena saya dikelilingi orang-orang baik hati luar biasa ketika melewatinya🙂

Oktober 22nd, 2012.

Double for Single

6 Jan

Tidak banyak yang bisa diceritakan. Hal ini disebabkan dua hal: memang tidak banyak hal yang terjadi sebagai bahan cerita, atau justru terlalu banyak yang disimpan, yang begitu ada kesempatan untuk dikeluarkan, malah tidak ada yang keluar sama sekali karena tidak ingin kelewatan satu hal pun untuk diceritakan.

Pola hidup saya belakangan agak berubah. Tidur pukul setengah enam pagi, bangun pukul satu siang, bahkan pernah bangun pukul empat sore. Baru bekerja di rumah sampai pagi lagi, atau keluar rumah baru jam empat sore, yang selalu memancing pertanyaan mbak gado-gado atau abang ojek depan rumah, “baru mau berangkat? mau kemana?”. Sedangkan muka saya udah pasang template senyum manis, tapi protes di dalam hati.

Well, soal pekerjaan, keluar-masuk rumah, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu saya sukai punya cerita sendiri. Namun kali ini cuma ingin mengungkapkan betapa saya ketagihan dan menikmati tidur di pagi hari dan pengaruhnya terhadap waktu pola hidup saya yang jadi berlawanan dengan orang pada umumnya. Namun saya cuma bisa menerapkan pola ini ketika sedang sendiri di rumah. Sensasi sepi, tidak ada yang peduli, timeline twitter pun tidak seramai di waktu biasanya. Isolasi fisik yang nikmat menenangkan, rasa lelah dan kantuk yang tertahan, pemaksaan, gerakan melenturkan badan karena pegal, kesendirian yang tidak sendiri. Entah, tapi situasinya membuat saya ketagihan.

Setelah itu biasanya masuk kamar tidur dengan kepala berat. Tidur bukan sebagai kebiasaan tapi sebagai kebutuhan yang amat sangat primer, dan perasaan akan itu. Kipas angin tidak menyala, tidak masalah. Tidak juga perlu kasur, bantal kepala, maupun bantal guling yang sempurna, karena selama butuh tidur, situasinya tetap bagai surga. Masalahnya, ranjang saya masih ukuran dua orang, karena bekas ranjang ayah dan istrinya. Di satu sisi menjadi terlalu luas buat saya. Di sisi yang lain karena terlalu luas, saya manfaatkan dengan eksplorasi kesana-kemari sehingga tidak mubazir. Perasaan lain yang adiktif adalah ketika tidur jam enam pagi tetapi seringkali terbangun pukul delapan pagi. Bangun dengan kepala berat (ditambah kemampuan otak saya yang cuma 7/8 saja), di ambang batas sadar dan tidak sadar yang nyaman, meraba-raba kasur yang amat luas, mata terbuka sedikit demi sedikit dan berkedip pelan berulang kali karena tidak siap sepenuhnya akan cahaya matahari tipis yang masuk ke kamar, kepala menjadi sedikit pening, mencoba menyadari di kamar itu sendiri, di rumah itu sendiri, tapi tidak merasa sedih atau menyedihkan.

Lalu kemudian tidur lagi jika tidak ada kegiatan yang harus diburu. Kadang, di antara sadar dan tidak sadar itu, seringkali melihat ke arah sisi ranjang sebelah saya. Berharap ada yang seperti ini:

Hahaha. Sexy, huh? Well, ternyata yang ada cuma bantal guling dan tumpukan bantal kepala, dan Hermes, yang waktu tidur saya peluk, pas bangun udah kelempar kemana tau. Ya, berharap suatu saat bisa membuka mata dan ternyata di sebelah saya ada orang, tapi kalau ternyata belum ada, ya tidak apa-apa. Entah naif atau tidak, kemudian yang bikin jadi kenapa-kenapa memang selalu apa-kata-orang. Jadinya, buat saya, sendiri atau tidak sendiri bukan soal bahagia atau tidak bahagia, hanya perasaan dan pengalaman yang berbeda.

Sampai saya menulis ini, saya masih ketagihan akan imajinasi dan imaji di kepala saya tentang perasaan-perasaan saya tadi. Rasanya malam, rasanya sendiri, rasanya sadar dan tidak sadar di kasur sendiri, rasanya mengerjapkan mata, menghadap sisi ranjang yang satu lagi. Hmm, mungkin kalau Mama masih ada, pasti doi bilang, “kebanyakan nonton film, nih..” Ya, bener, sih. Ya, mungkin saya lagi kasmaran dengan imaji-imaji di benak saya tentang malam, pagi, kurang tidur, sakit kepala, dan ranjang. Toh, saya menikmati.

The Trip of Not Being Owned

14 Sep

14 September 2011. Lagi enggak ngerasa apa-apa. Hidup juga lagi baik-baik aja. Cuma sudah dua hari ini terjebak di situasi sendirian-di-tengah-keramaian. Setelah mampir makan, minum, dan sebatang dua batang, jam sepuluh malam saya pulang. Niatnya menghindari macet, tiba-tiba di kepala saya terbesit konsep bahwa jalan kaki dari Cipete ke rumah sepertinya tidak sulit diwujudkan.

Hal yang saya sadari di tengah perjalanan adalah saya merasa bahwa rute yang saya ambil terlalu jauh. Jadi, jalan kaki saya berangkat dari 711 Cipete, menuju ke arah jalan raya besar Fatmawati, ke arah perempatan lampu merah yang posisi Giant berhadapan dengan Carrefour, lalu menyusuri sepanjang Jalan T.B. Simatupang, ke arah Pasar Rebo.

Kira-kira Segini

Untungnya, BB saya masih menyala sehingga bisa menemani saya berdendang. Bahkan, lebih dari berdendang. Seperti karaoke di tengah jalan, tidak peduli orang lain mendengar atau tidak. Sampai lagu-lagu yang rasanya perlu dinyanyikan dengan berteriak. Sudah seperti di video klip. Jalan yang saya susuri pun merupakan jalanan di sebelah jalan tol yang trotoar untuk pejalan kakinya tidak ada. Atmosfir kesendirian di tengah keramaiannya pun luar biasa terasa. Apalagi seenaknya nyanyi-nyanyi, dibantu botol air mineral yang saya pegang, seperti mikrofon.

Dari semua scene perjalanan, yang paling saya sukai adalah bagian ketika saya sampai di perempatan lampu merah Jalan Warung Jati Barat. Tanda lampu lalu lintas hijau berganti merah. Saya juga berhenti sejak karena menunggu saatnya untuk menyeberang. Kesempatan berhenti saya gunakan untuk menyalakan satu batang. Lalu, lampu lalu lintas berganti kembali menjadi hijau. Saya menyeberang dengan gaya musafir urban. Tiba-tiba BB saya memainkan lagu Need You Now milik Lady Antebellum. Semakin galau, semakin gamang. Begitu sampai di bagian reff, saya berteriak melantunkan lagunya..

“It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now..
I said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now..
And I don’t know how I can do without, I just need you now..”

Dan wajah yang muncul dalam bayangan saya adalah wajahnya. Gawat.

Sebelum sampai di situ, saya sempat melewati dua orang pria yang bermain bulutangkis dengan memanfaatkan pagar sebagai net-nya. Melewati para pekerja yang masih sibuk menyemen merapikan jalan. Boot-nya yang menginjak-injak campuran semen mengingatkan saya pada film Love Me If You Dare. Sempat juga melewati taksi yang mengantri, tetapi memarkirkan mobilnya setengah naik ke atas trotoar. Sempat berhenti di Graha Simatupang. Duduk untuk sebatang. Sayangnya tidak ada pemandangan bagus selain jalan tol dan mobil motor yang lewat.

Setelah berhenti, saya melanjutkan perjalanan karena R.E.M. menyemangati saya dengan terus-terusan bilang, “Hold on, hold on..” Namun, apa daya. Sekitar satu kilometer sebelum Pasar Rebo, kaki saya sudah ogah diajak jalan. Meski saya masih tetap kekeuh dan bertahan dengan konsep saya bahwa masih bisa berjalan kaki sampai rumah, tapi ternyata konsepnya memang sebatas konsep. Sempat berhenti untuk yang kedua kali, sempat mencoba jalan mundur yang rasanya memang lebih ringan, tapi malah tidak pasti dengan apa yang ada di depan.

Yang jelas, akhirnya saya bisa juga melakukan hal yang belum bisa saya lakukan selama ini: menolak laki-laki. Ada abang ojek, abang taksi, sampai dua Bapak-Bapak yang menawarkan saya tumpangan sampai ke Pasar Rebo: yang satu naik mobil, yang satu naik motor. Akhirnya. Bisa nolak orang juga. Mungkin mereka enggak percaya kalau saya emang lagi mau berjalan.

So, it’s just a concept. Saya salah pakai kacamata untuk melihat. Sehari-hari naik mobil, naik angkot, naik motor, memang dekat. Namun, ternyata kalau berjalan kaki, jauh sekali. Benar-benar jauh sekali. Ditambah lagi baterai BB habis, jadi lagu sebagai ‘distraksi’ kelelahan saya berjalan, pudar sudah. Perjalanannya menjadi lebih berat, realistis, dan melelahkan. Akhirnya, menjelang Pasar Rebo, saya langsung mengiyakan tawaran abang ojek yang langsung mau membawa saya pulang. Abangnya ngebut, lalu beberapa kali ngerem mendadak. Bikin saya ingat film Mamalia, buatan Tumpal, yang merupakan bagian dari film Belkibolang.

Sampai di rumah pukul setengah dua. Kaki sudah pasti pegal. Tidak tahu pasti apakah yang saya alami malam ini berarti. Saya cuma ingin menamakannya, The Trip of Not Being Owned.

P.S.: It’s a quarter after three. I’m not really drunk. I’m missing you now.

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.

Bergabunglah dengan 2.303 pengikut lainnya

%d blogger menyukai ini: