Double for Single

6 Jan

Tidak banyak yang bisa diceritakan. Hal ini disebabkan dua hal: memang tidak banyak hal yang terjadi sebagai bahan cerita, atau justru terlalu banyak yang disimpan, yang begitu ada kesempatan untuk dikeluarkan, malah tidak ada yang keluar sama sekali karena tidak ingin kelewatan satu hal pun untuk diceritakan.

Pola hidup saya belakangan agak berubah. Tidur pukul setengah enam pagi, bangun pukul satu siang, bahkan pernah bangun pukul empat sore. Baru bekerja di rumah sampai pagi lagi, atau keluar rumah baru jam empat sore, yang selalu memancing pertanyaan mbak gado-gado atau abang ojek depan rumah, “baru mau berangkat? mau kemana?”. Sedangkan muka saya udah pasang template senyum manis, tapi protes di dalam hati.

Well, soal pekerjaan, keluar-masuk rumah, dan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terlalu saya sukai punya cerita sendiri. Namun kali ini cuma ingin mengungkapkan betapa saya ketagihan dan menikmati tidur di pagi hari dan pengaruhnya terhadap waktu pola hidup saya yang jadi berlawanan dengan orang pada umumnya. Namun saya cuma bisa menerapkan pola ini ketika sedang sendiri di rumah. Sensasi sepi, tidak ada yang peduli, timeline twitter pun tidak seramai di waktu biasanya. Isolasi fisik yang nikmat menenangkan, rasa lelah dan kantuk yang tertahan, pemaksaan, gerakan melenturkan badan karena pegal, kesendirian yang tidak sendiri. Entah, tapi situasinya membuat saya ketagihan.

Setelah itu biasanya masuk kamar tidur dengan kepala berat. Tidur bukan sebagai kebiasaan tapi sebagai kebutuhan yang amat sangat primer, dan perasaan akan itu. Kipas angin tidak menyala, tidak masalah. Tidak juga perlu kasur, bantal kepala, maupun bantal guling yang sempurna, karena selama butuh tidur, situasinya tetap bagai surga. Masalahnya, ranjang saya masih ukuran dua orang, karena bekas ranjang ayah dan istrinya. Di satu sisi menjadi terlalu luas buat saya. Di sisi yang lain karena terlalu luas, saya manfaatkan dengan eksplorasi kesana-kemari sehingga tidak mubazir. Perasaan lain yang adiktif adalah ketika tidur jam enam pagi tetapi seringkali terbangun pukul delapan pagi. Bangun dengan kepala berat (ditambah kemampuan otak saya yang cuma 7/8 saja), di ambang batas sadar dan tidak sadar yang nyaman, meraba-raba kasur yang amat luas, mata terbuka sedikit demi sedikit dan berkedip pelan berulang kali karena tidak siap sepenuhnya akan cahaya matahari tipis yang masuk ke kamar, kepala menjadi sedikit pening, mencoba menyadari di kamar itu sendiri, di rumah itu sendiri, tapi tidak merasa sedih atau menyedihkan.

Lalu kemudian tidur lagi jika tidak ada kegiatan yang harus diburu. Kadang, di antara sadar dan tidak sadar itu, seringkali melihat ke arah sisi ranjang sebelah saya. Berharap ada yang seperti ini:

Hahaha. Sexy, huh? Well, ternyata yang ada cuma bantal guling dan tumpukan bantal kepala, dan Hermes, yang waktu tidur saya peluk, pas bangun udah kelempar kemana tau. Ya, berharap suatu saat bisa membuka mata dan ternyata di sebelah saya ada orang, tapi kalau ternyata belum ada, ya tidak apa-apa. Entah naif atau tidak, kemudian yang bikin jadi kenapa-kenapa memang selalu apa-kata-orang. Jadinya, buat saya, sendiri atau tidak sendiri bukan soal bahagia atau tidak bahagia, hanya perasaan dan pengalaman yang berbeda.

Sampai saya menulis ini, saya masih ketagihan akan imajinasi dan imaji di kepala saya tentang perasaan-perasaan saya tadi. Rasanya malam, rasanya sendiri, rasanya sadar dan tidak sadar di kasur sendiri, rasanya mengerjapkan mata, menghadap sisi ranjang yang satu lagi. Hmm, mungkin kalau Mama masih ada, pasti doi bilang, “kebanyakan nonton film, nih..” Ya, bener, sih. Ya, mungkin saya lagi kasmaran dengan imaji-imaji di benak saya tentang malam, pagi, kurang tidur, sakit kepala, dan ranjang. Toh, saya menikmati.

The Trip of Not Being Owned

14 Sep

14 September 2011. Lagi enggak ngerasa apa-apa. Hidup juga lagi baik-baik aja. Cuma sudah dua hari ini terjebak di situasi sendirian-di-tengah-keramaian. Setelah mampir makan, minum, dan sebatang dua batang, jam sepuluh malam saya pulang. Niatnya menghindari macet, tiba-tiba di kepala saya terbesit konsep bahwa jalan kaki dari Cipete ke rumah sepertinya tidak sulit diwujudkan.

Hal yang saya sadari di tengah perjalanan adalah saya merasa bahwa rute yang saya ambil terlalu jauh. Jadi, jalan kaki saya berangkat dari 711 Cipete, menuju ke arah jalan raya besar Fatmawati, ke arah perempatan lampu merah yang posisi Giant berhadapan dengan Carrefour, lalu menyusuri sepanjang Jalan T.B. Simatupang, ke arah Pasar Rebo.

Kira-kira Segini

Untungnya, BB saya masih menyala sehingga bisa menemani saya berdendang. Bahkan, lebih dari berdendang. Seperti karaoke di tengah jalan, tidak peduli orang lain mendengar atau tidak. Sampai lagu-lagu yang rasanya perlu dinyanyikan dengan berteriak. Sudah seperti di video klip. Jalan yang saya susuri pun merupakan jalanan di sebelah jalan tol yang trotoar untuk pejalan kakinya tidak ada. Atmosfir kesendirian di tengah keramaiannya pun luar biasa terasa. Apalagi seenaknya nyanyi-nyanyi, dibantu botol air mineral yang saya pegang, seperti mikrofon.

Dari semua scene perjalanan, yang paling saya sukai adalah bagian ketika saya sampai di perempatan lampu merah Jalan Warung Jati Barat. Tanda lampu lalu lintas hijau berganti merah. Saya juga berhenti sejak karena menunggu saatnya untuk menyeberang. Kesempatan berhenti saya gunakan untuk menyalakan satu batang. Lalu, lampu lalu lintas berganti kembali menjadi hijau. Saya menyeberang dengan gaya musafir urban. Tiba-tiba BB saya memainkan lagu Need You Now milik Lady Antebellum. Semakin galau, semakin gamang. Begitu sampai di bagian reff, saya berteriak melantunkan lagunya..

“It’s a quarter after one, I’m all alone and I need you now..
I said I wouldn’t call but I lost all control and I need you now..
And I don’t know how I can do without, I just need you now..”

Dan wajah yang muncul dalam bayangan saya adalah wajahnya. Gawat.

Sebelum sampai di situ, saya sempat melewati dua orang pria yang bermain bulutangkis dengan memanfaatkan pagar sebagai net-nya. Melewati para pekerja yang masih sibuk menyemen merapikan jalan. Boot-nya yang menginjak-injak campuran semen mengingatkan saya pada film Love Me If You Dare. Sempat juga melewati taksi yang mengantri, tetapi memarkirkan mobilnya setengah naik ke atas trotoar. Sempat berhenti di Graha Simatupang. Duduk untuk sebatang. Sayangnya tidak ada pemandangan bagus selain jalan tol dan mobil motor yang lewat.

Setelah berhenti, saya melanjutkan perjalanan karena R.E.M. menyemangati saya dengan terus-terusan bilang, “Hold on, hold on..” Namun, apa daya. Sekitar satu kilometer sebelum Pasar Rebo, kaki saya sudah ogah diajak jalan. Meski saya masih tetap kekeuh dan bertahan dengan konsep saya bahwa masih bisa berjalan kaki sampai rumah, tapi ternyata konsepnya memang sebatas konsep. Sempat berhenti untuk yang kedua kali, sempat mencoba jalan mundur yang rasanya memang lebih ringan, tapi malah tidak pasti dengan apa yang ada di depan.

Yang jelas, akhirnya saya bisa juga melakukan hal yang belum bisa saya lakukan selama ini: menolak laki-laki. Ada abang ojek, abang taksi, sampai dua Bapak-Bapak yang menawarkan saya tumpangan sampai ke Pasar Rebo: yang satu naik mobil, yang satu naik motor. Akhirnya. Bisa nolak orang juga. Mungkin mereka enggak percaya kalau saya emang lagi mau berjalan.

So, it’s just a concept. Saya salah pakai kacamata untuk melihat. Sehari-hari naik mobil, naik angkot, naik motor, memang dekat. Namun, ternyata kalau berjalan kaki, jauh sekali. Benar-benar jauh sekali. Ditambah lagi baterai BB habis, jadi lagu sebagai ‘distraksi’ kelelahan saya berjalan, pudar sudah. Perjalanannya menjadi lebih berat, realistis, dan melelahkan. Akhirnya, menjelang Pasar Rebo, saya langsung mengiyakan tawaran abang ojek yang langsung mau membawa saya pulang. Abangnya ngebut, lalu beberapa kali ngerem mendadak. Bikin saya ingat film Mamalia, buatan Tumpal, yang merupakan bagian dari film Belkibolang.

Sampai di rumah pukul setengah dua. Kaki sudah pasti pegal. Tidak tahu pasti apakah yang saya alami malam ini berarti. Saya cuma ingin menamakannya, The Trip of Not Being Owned.

P.S.: It’s a quarter after three. I’m not really drunk. I’m missing you now.

The Taxes of July

17 Agu

“You should paint my love, not pain my love.”

“Selamat bersenang-senang buat yang sudah dapat tiket nonton Harry Potter. Habis itu, jangan lupain urusan kerugian negara yg blm tuntas ya.”

RT @cecilmariani I give thanks to all the negative n pessimistic thoughts I had about myself that has kept me sober, humble and honest

“Tidak ada yang menyambut pulang selain pelukan kesepian.”

RT @esotericafra Lebih mudah mempertahankan kamu drpd mempertahankan ruang hijau di JKT #eh

“Membangun mall tampak lebih mudah daripada membangun hubungan. #eh

RT @nivellism Harry Potter and the Unpaid Taxes.

“People come and go. I can’t believe you’re the one who did ‘go’.”

“Orang yang mencari mimpi akan membentuk mimpi.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Kamu memberiku 3 biji nangka yg amat manis. Aku tidak menyukainya. Tapi aku tahu kamu ingin aku memakannya.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Topeng adalah teror, dan teror.. adalah topeng.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Mungkin, kesepian adalah birahi.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Aku adalah pesimis yang tidak bebas.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Aku terpikat dengan ketidakbahagiaanmu.” – Surti dan Tiga Sawunggaling

“Last night I’m so afraid to die.”

“This is a story about how I love you. Not about how to make you love me. Because you never will.”

“I’m really, really sorry. The pain of life overrides the joy to the point that joy does not exist.” – a letter found in Kevin Carter’s car

“It’s always about one feeling: I never be good enough.”

“Akhirnya kemarin ada yang bilang kalau gue banyak omong. Akhirnya!”

“Semangaaaaat! Pagi-pagi harus happy. Malam-malam baru gloomy.” #halah

“I wish I could scan your heart, to know if there’s a piece of me in it.”

“Tiba-tiba inget kata @jarakpandang, kalau mau melanggar aturan, kenali dulu aturannya, baru melanggar. | Well, harus ditanamkan sejak dini..”

@raditz7 @rifqfauzigibran tapi cm Ratu yg bs melangkah kmn aja dan melahap musuh dgn cara apapun: agar Raja gak mati, dan yg lain jg nggak.

“Notasi cuma do re mi fa sol la si do, tapi ada ribuan lagu tercipta dari situ.” - @jarakpandang di sesi Kreativitas #IYC 2011!

“There’s something about Jogja’s men.”

“What if I never really grow up and only do shits?”

RT @makbulsehat Thanks to the  language that find “loneliness” for the sadness of being lonely, and “solitude” for the happiness of being one.

“I no longer interested in you.”

RT @fatimaalkaff: Buanglah kenangan pada tempatnya.

“Being 20 doesn’t mean I’m ready to be happy.”

“Sefokus-fokusnya hidup, pasti tetap ada blur-nya.”

@KikiFebriyanti sperma perasaanmu tidak bisa mencapai ovarium hatiku utk membuahi dan membentuk janin cinta, bahkan utk menjadikan ‘kita’.

@KikiFebriyanti I wish you’re a condom. Responsible when you ‘fuck’ me.

@esotericafra or, you’re like Jero Wacik, promising all the time, but I kinda know, you’re playing with me too, all the time.

But you’re like Hollywood movies, you won’t be here. RT @esotericafra: I wish you’re the best scene that I’d like to repeat it and pause.

“I wish I was a movie. So you can sit there and see me.”

“I wish there’s my Mom, who’s willingly waiting me home, who’s standing there open the door, asks me “How’s today?”, and makes me cup of tea.”

“Why do I have to go home when there’s no one home? And I don’t have you, the one and only who makes me feels home.”

“Rokok itu suplemen hati. Kamu itu gizi utamanya.” *bantinghatiketembok*

“Diselimuti kerinduan-kerinduan tak beralasan.”

“Too much sleep will kill you.”

“Patah hati pas lagi mau menstruasi itu bahaya. Sakitnya setitik, galaunya sebelangga :|

“Lama-lama gue beli KFC bucket buat seorang diri biar gue gak ngerasa sendirian karena ditemani 9 ayam goreng Kentucky :|

“When people underestimate you, don’t think they’re cruel. They just give you chances to prove them wrong.” #tumbenpositif

RT @perihbahasa Bertepuk sebelah kangen..

“For once in my life, I know what I love to do :)

Aku: Kamu kyk 21, monopoli hatiku. | Kamu: Aku nggak monopoli, cuma dominasi. | Aku: Tetep aja ngematiin perasaan utk org lain yg bs muncul.

Finally. Gonna meet The Zorro of the Zero!

“Terima kenyataan kalau saya tidak bisa terima kenyataan.”

“Cinta tidak harus timbal balik. Hubungan iya.”

RT @cecilmariani: Ars longa vita brevis..

Khawatir yang konyol.

uncomfortable silence.

Kebahagiaan yang muram.

Ini bukan kisah sedih. Ini perjuangan yang harus diteruskan. Ini sebuah kisah tentang ketulusan dalam berkarya, berkesenian. Ini cinta.

Kesucian Ramadhan sepertinya malah sudah dinodai ‘kesucian’-nya itu sendiri.

“Old memories die hard when you got sentimental heart.”

Kehilangan orang-orang berdedikasi.

“Mungkin kita lebih sering mengasihani daripada benar-benar mencintai.”

“I even love you from the way you love someone you love, even it’s impossibly me.”

“Ah, andai pacar bisa dibeli dengan uang. Sungguh akan sangat manusiawi daripada dibeli dengan cinta.” - @ameliasarahh | *ngusapngusaphati*

Dji Sam Soe dan Es Jeruk Nipis

17 Agu

Ini sebuah tulisan yang hendak dipersembahkan kepada siapa-siapa tanpa maksud apa-apa. Yang saya persembahkan, pasti merasa tulisan ini berlebihan, hehehe. Kalau begitu, anggap saja ini satu hal random yang iseng-iseng saya lakukan.

Ini tulisan tentang seseorang yang jadi idola dan inspirasi saya sepanjang masa. Hahaha. Dari saya pertama kali bertemu doi, saya masih pakai putih abu-abu dan sampai dibikinin label khusus ‘tukang bolos’ dan si bocah-di-bawah-umur. Dari saya masih ‘ketutup’ sampai sekarang bergumul dengan asap rokok dan alkohol yummy. Dari doi naik mobil VW sabi, naik sepeda, sampai sekarang lebih sering naik taksi. Dari sok-sok bertanya ke e-mail doi yang @centrin.net.id sampai e-mail kerjaan ke e-mailnya yang sekarang. Namun, masih aja doi gemar Dji Sam Soe dan Es Jeruk Nipis!

Dari doi, saya belajar terlalu banyak. Dari memisahkan urusan personal dengan profesional dengan bijak. Dari bagaimana mengerjakan apa yang bisa dikerjakan. Sampai belajar untuk nggak gampang menyerah dan kesempatan untuk belajar film programming. Doi juga yang akhirnya mengingatkan pada usia ke-20 saya, (well, nggak secara langsung, sih :]) bahwa saya terlalu sering main-main loncat ke sana dan kemari tapi (sebenarnya) enggak ngapa-ngapain. Doi juga yang jadi ikon saya kalau be a dreamer bukan berarti nggak bisa bikin itu jadi terwujud, asalkan usahanya nggak setengah-setengah. I learn the meaning of ‘work hard, play hard’ from her! Hehehe, and the meaning of being humble. Terlalu banyak yang saya pelajari dari doi sejak tahun 2007 sampai sekarang dan masih akan terus bisa banyak belajar.

Well, good luck dan sakses terus untuk studinya ya, Mba! Terima kasih sudah terlalu sering berbagi (baik teh botol maupun info-info dari A-Z)! Semoga kita bisa bersama-sama terus berjuang untuk kesenian dan kehidupan. #halah

 

Adieu, salam sabi! \m/

Penjara Malam Minggu

25 Jun

Kita bermalam minggu di penjara.

Kita dipenjara pada malam minggu.

 

Dipenjara kemacetan.

Dipenjara gemerlap semu.

Dipenjara kapitalisme.

Dipenjara konsumerisme.

Dipenjara mall.

Dipenjara keluarga.

Dipenjara kerinduan.

Dipenjara pekerjaan.

Dipenjara drama.

Dipenjara kicauan.

Dipenjara ritual.

Dipenjara pasar malam.

Dipenjara ambiguitas.

Dipenjara nafsu.

Dipenjara kesunyian.

dan..

Dipenjara malam minggu itu sendiri.

 

Kita bermalam minggu di penjara.

Kita dipenjara pada malam minggu.

(on my very last night at Kelapa Dua no. 91, June 25th 2011)

June, I Found You! (Juni 2011)

24 Jun

Hello, my lovely morning nicotines :)

I’m not so good at compromising. When I hate a subject, I hate it ’till death. Alhasil, so far baru kelar sampai bab 4.1. and I don’t care.

“Ngedeskripsiin objek penelitian sesusah ngedeskripsiin perasaan aku ke kamu.”

You forgot the first rule of remake: Don’t fuck with the original.” – Sidney Prescott (Scream 4, 2011)

| A: “Lagi apa?” | B: “Lagi grow up and do some shit.” |

Maybe to love is when you stop theorizing.”

Have you ever in condition like you want to change something you shouldn’t?

“Alhamdulillah, hari ini merasakan bagaimana ‘beribadah’ di salah satu gereja :)

“Cuma gara-gara nulis ‘GKI Gading Serpong’ di status BBM dan gak berjilbab lagi, teman SMA gue mikir gue gak muslim lagi. *speechless*”

Would you like to lie beside me, spend our cigarettes, and watching how the smokes beautifully gone? We keep silent but holding hand still.

“Perut sakit dan perih gara2 makan kripik maicih jam 5 pagi sambil baca bahan UAS :’( Lebih perih dari luka hati, nih.”

I never ‘love’ someone like this before :)

“Sekuat-kuatnya orang, kalau sendirian nggak akan pernah cukup.” – It Could Have Been a Perfect World di Future Shorts

“Saat ini kita sedang akrobat, dari apa yang ada menuju apa yang kita inginkan.” – Budi Darma

“Matahari itu tidak bisa dikejar. Menulis yang sempurna juga tidak bisa dikejar, tetapi mungkin bisa dilakukan.” – Budi Darma

“Because I think I’m in danger, of falling in love with you..” – Kyle (Beastly) #eaaa

You make my everyday is like sunday :)

“Makin sayang.. tapi dari jauh aja, deh :) Sleep tight! Hear the moon singing and saying good night :)

“Tuhan bersama mahasiswa deadline.”

 ”Bahkan nunggu render-an video lebih pasti daripada nunggu kamu menoleh ke aku.”

Eight notes funk! I will play you someday and I will remember today every time I’m playing you.”

“Kalau udah ngegebet selama tiga tahun dan selama itu dia punya tiga gebetan dan sekali jadian, it means he’s just not that into you :)

“Galau dan gombal adalah sarana saya berlatih membuat analogi. #alibi

I’m just too exhausted to be sentimental this time.”

Is there any differences between fragile and sentimental?”

“Orang kalau berusaha jaga perasaan orang lain tapi sebenernya nggak mau malah bikin gemes ya.”

“Orang tegas suka nyebelin tapi kerjaan beres.”

“Obsesi punya kakak perempuan. Thanks God, I have ones :) Dari ciciw sampai kakak sampai yang gak ada sebutan, semuanya baik dan perhatian :)

“Engkoh-engkoh penjual bubur maknyos: pakai kaos santai udah bolong tapi abis jalan-jalan ke Taiwan, broh!”

“Betapa sebuah karya visual dapat dimaknai secara beragam dan betapa mudahnya kita terjebak.”

Relevansi Masa Lalu dan Kini

24 Jun

Setelah kemarin mengutak-ngatik blog untuk tugas akhir, hari ini saya menemukan kembali kegembiraan mengutak-ngatik blog pribadi ini. Ditambah lagi mungkin berakhirnya semester enam, seharusnya lebih banyak waktu bagi saya untuk lebih produktif. Saya sedang mencoba, semoga saja.

Hari ini iseng-iseng mengetik nama saya dalam kolom search engine Google. Lalu, ada satu link yang menarik yakni link blog teman SMA saya yang sudah lama tidak bersua, Alia Prawitasari. Terbuka lah gambar di bawah ini.

Saya merasa lupa pernah menulis itu. Sudah lama ternyata. But well, apa yang tertulis di situ sangat relevan dengan apa yang saya rasakan kini. Saya bisa begitu tertarik dengan seseorang yang begitu sentimentil dan ‘terluka’ karena ditinggalkan. Bahkan, saya bisa jatuh cinta dengan seseorang karena ke-melankolia-annya. It feels bad, and i don’t want anyone else feels how bad it is.

Ternyata saya belum banyak berubah. Hanya saja saya jadi berpikir betapa naifnya saya berharap bahwa tidak ada orang yang terluka dan merasa sendirian. Betapa naifnya ada keinginan untuk mengubah seseorang agar ia lebih kuat. Well, ternyata  bukan kebahagiaan aja yang riil ketika berbagi. Rasa sakit dan perih juga only real when shared.

Thanks, Al, for reminding me something. It feels good when you found someone out there feels the same way, too. Berbagi ‘kerapuhan’ bukan untuk berbagi the ungrateful feelings, cuma saja itu jadi cara untuk tetap bertahan. To admit that we’ re not strong enough. And no one can change you, except yourself. Persoalannya cuma seputar izin sang waktu.

Jadi, relevansi masa lalu dan kini adalah repetisi perasaan yang sama dengan definisi yang berbeda karena ada revisi sehingga terus diperbaharui. Mungkin seperti skripsi. Sekian.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 227 pengikut lainnya.