Menawarkan Jasa :D

•November 5, 2008 • Comments Off

Hai orang-orang di luar sana, saya menawarkan jasa untuk..

1. Menterjemahkan teks, baik dari bahasa Inggris ke bahasa Indonesia, maupun dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Masih amatir sih, tapi tidak buruk-buruk banget :D

2. Memotret-motret. Silahkan lihat beberapa foto saya di facebook atau di amaliasekarjati.deviantart.com Meski di jaman kini sudah banyak yang punya kamera, tapi kalau merasa butuh orang untuk memotret-motret anda dengan indah, silahkan pakai jasa saya :D

3. Mengetik. Anda malas mengetik? Saya akan mampir ke rumah anda dan membantu mengetik. Dijamin cepat dan minim kesalahan :D

Semua jasa tersebut dapat dibalas dengan bayaran yang dapat dinegosiasikan dan manusiawi :D  Silahkan hubungi saya di blog ini atau email ke amaliasekarjati@yahoo.com

TERIMA KASIH BANYAK :D

I’m Not A Girl I Used To Be

•November 11, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

n665804799_3265

I smoke.

I drunk, but now in recovery.

I wear shorts and tee.

I believe in God with a different version i used to use.

I love my Dad with my shouts, my hatred, my tears, but also my prays.

I try to be critical, but it becomes cynical.

I’m not easily forgiving, because i used to be too often ask for apology and most of it are rejected.

I lost some of my idealism, because i am forced to give up to reality by my used-to-be-only-one-idealist-figure.

I’m cursing, but not really mean it. It just sounds cool, hahaha.

but..

I’m pretty sure i still have my good and pure heart (not literally, because my heart-literally has already fill by smokes). But, please. Don’t judge me that bad. I still help a blind-man crossing the crowded and blind street. I still respect elder people. I still love my family, so damn much. I still pay my kost-kostan bill. I still let elder people for having my seat in the bus. I still.. and i try to still.

God, I miss my Mom..

DSC_0829_resizeDSC_0864_resizeDSC_1298_resize

Misbach Yusra Biran dan Sejarah Film Indonesia

•November 8, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar
Misbach Yusa Biran

Misbach Yusa Biran memberikan sambutan

Saya seorang mahasiswi semester tiga di suatu perguruan tinggi swasta. Senin, 9 November 2009, saya harus ikut serta di Ujian Tengah Semester (UTS). Andaikan, saat UTS nanti ada soal “Sebutkan nama-nama pekerja film Indonesia!” saya pasti akan menulis nama Riri Riza, Nia Dinata, Joko Anwar, Upi, Mira Lesmana, Rudi Soedjarwo, Monty Tiwa, dan nama-nama aktor aktris yang segudang. Namun, setelah saya menghadiri launching dan diskusi buku Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa karangan Misbach Yusa Biran, maka jawaban saya pasti berbeda. Saya pasti akan turut menyebutkan nama Misbach Yusa Biran, Teguh Karya, Usmar Ismail, Djajakusumah, Sjumandjaja dan sejumlah orang yang luar biasa berjasa atas eksistensi film Indonesia. Acara yang berlangsung di Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki pada tanggal 6 November lalu itu memberikan saya banyak pengetahuan dan pengalaman.

Mungkin sebaiknya saya ceritakan sesuai susunan acaranya. Dimulai dari sambutan oleh M. Abduh Azis, selaku Anggota Komite Film Dewan Kesenian Jakarta (DKJ), di mana DKJ turut berpartisipasi dalam penerbitan buku tersebut bersama penerbit Komunitas Bambu. Selanjutnya sambutan dari Misbach Yusa Biran sendiri mengenai buku yang ditulisnya dengan multiperan: sebagai cendekiawan pengamat, pencatat sejarah perfilman Indonesia, dan –yang paling penting- pelaku sejarah itu sendiri. Sambil diselingi gurauan ringan, beliau menceritakan rencana diterbitkannya buku sejarah film mulai dari tahun 1960-an, sebagai ‘kelanjutan’ dari buku yang sekarang terbit ini. Lantas kabar ini diterima sebagai kabar baik bagi semua yang hadir di sana.

Setelah dua sambutan, diputarlah film Batavia: Tempoe Doloe. Film bisu yang diproduksi tahun 1920-an ini menggambarkan kehidupan masyarakat Indonesia di masa kolonial. Dari sini dapat dilihat keseharian masyarakat, karakter masyarakat, kondisi sosial masyarakat, dan hubungan yang terjalin di masyarakat.

Lalu, masuklah ke acara inti berikutnya yakni diskusi buku yang sangat dinanti. Diskusi ini melibatkan Lisabona Rahman sebagai moderator, kritikus film Eric Sasono sebagai pembicara, dan aktor kawakan Slamet Rahardjo juga sebagai pembicara.

Eric Sasono, Lisabona Rahman, Slamet Rahardjo

(ki-ka) Eric Sasono, Lisabona Rahman, Slamet Rahardjo

Apa yang saya dapatkan dari diskusinya? Banyak. Eric Sasono mengutarakan ‘kegelisahan’nya sebagai bagian dari generasi yang kehilangan, generasi yang tidak bisa menyaksikan karya-karya dari ‘pendahulunya’, yang melahirkan benih-benih perfilman di Indonesia, akibat minimnya atensi masyarakat dan pemerintah mengenai pengarsipan. Saya pun menjadi lebih gelisah. Karena jika Eric Sasono menyebut generasinya generasi kehilangan, apalagi generasi saya? Kehilangan berarti masih menyadari ada kepemilikan, meski hak memiliki itu jadi tak bisa direalisasikan. Tapi generasi saya, bisa saya bilang bahwa mungkin generasi saya adalah generasi yang merasa tidak memiliki. Generasi yang tidak tahu bahwa ada harta karun milik bangsanya yang ditanam para ‘maestro’ generasi terdahulu. Tidak tahu sama sekali.

Hal lainnya yakni saya diingatkan bahwa belum tentu yang ada sekarang, yang terjadi sekarang adalah suatu kemajuan, suatu perbaikan kualitas. Untuk itulah kita perlu mengetahui sejarah, untuk menilai kondisi kini, apakah yang terjadi adalah suatu progres atau justru mengalami dekadensi? Deskripsi Slamet Rahardjo tentang bahasa film dari film-film Indonesia di tahun 50-an tampak lebih baik buat saya dibandingkan bahasa film di masa sekarang, khususnya untuk film-film yang bertema sama. Belum lagi perkataan beliau yang menyuratkan betapa Usmar Ismail berhasil menyajikan “kehidupan” lewat film-filmnya, bukan sekedar “tontonan” seperti yang ditawarkan sebagian besar film-film sekarang. Untuk itulah sejarah film Indonesia perlu dikenali, bukan hanya untuk dilihat dari segi teknis semata dan lewat sudut pandang filmnya saja, tapi untuk memahami perjalanan bangsa ini juga.

Pada intinya, diskusi ini menyadarkan saya betapa pentingnya keberadaan sosok Misbach Yusa Biran yang peduli akan sejarah, yang ia buktikan dengan upayanya mengarsipkan dan mencatat perjalanan film Indonesia, sebagai buah tangan untuk generasi yang hidup di zaman sekarang. Terutama lagi, pentingnya kelahiran buku Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa karangan beliau yang membantu kita mengenali negeri kita sendiri lewat sejarah filmnya yang dituliskan dengan gaya yang menarik, yang tidak membosankan seperti buku sejarah pada umumnya. Mengutip deskripsi yang diberikan oleh Slamet Rahardjo bahwa membaca buku ini sama seperti saat sedang memadu kasih bersama kekasih. Di buku ini juga ada banyak sekali fakta-fakta menarik yang mengejutkan yang terkesan sepele, tetapi justru cukup penting dan mengesankan.

Tidak ada kata-kata yang mampu menggambarkan jasa seorang Misbach Yusa Biran, khususnya bagi perfilman Indonesia. Semuanya sudah terwujud dalam karya nyata, bukan omongan belaka. Akan jadi percuma lah ini semua, jika kita generasi muda melepas jubah kepedulian dan menutup mata serta berdiam diri saja. Akhir kalimat, izinkan saya mengutip dialog seorang tokoh di akhir film Ruma Maida (2009), Dasaad Muchlisin, tentang sejarah, “…yang manis, kita rayakan. Yang pahit, kita catat, agar tidak terulang lagi…”

Doa Baswara dan Pradnya

•Oktober 29, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Ya Allah, Pemilik Hati dan Hidupku. Izinkan aku meminta, izinkan aku memohon, izinkan aku memiliki doa untukMu. Ya Allah, izinkan aku dan Pradnya Lila Dara merintis jalan kasih kami karena kami tahu Engkau menciptakan cinta untuk kami. Ya Allah, izinkan aku dan Pradnya Lila Dara tetap bertahan dalam perbedaan karena kami sama-sama meyakiniMu, Ya Allah, Ya Tuhan. Ya Allah, izinkan tawaku dan tawa Pradnya Lila Dara bersatu dalam kebahagiaan karena kami sadar itu semua ada dan dapat diwujudkan. Sungguh aku bersimpuh dan berserah diri karena kebesaranMu, Ya Allah. Amin.

(Doa Baswara Raspati di setiap saat ia mampu berdoa)

***

Ya Bapa, hamba kembali datang kehadiratMu untuk menaikkan doa agar hamba bisa selalu bersama dengan orang yang hamba kasihi, Baswara Raspati, setiap detik, setiap waktu, setiap saat yang Kau izinkan. Hamba pun terus percaya, Engkau yang mampu melihat kesungguhan hati hamba, berapa dalam cinta hamba padaMu. Hamba terus percaya, rencana Engkau pasti yang terindah dan terbaik. Hamba pun terus percaya, tak akan ada kasih antara hamba dan Baswara Raspati tanpa kuasa dan kehendakMu. Kiranya, Kau mengabulkan doaku. Dalam namaMu aku berdoa. Amin.

(Doa Pradnya Lila Dara setiap ia ragu akan apa yang terjadi di masa depan)

***

24 Desember 2000

Matahari terlalu terik. Seorang gadis sedang menyeruput teh berkemasan sambil duduk di bangku-bangku. Ia tampak menunggu dengan tenang dan sabar dan bangunan masjid besar menjadi latar belakang yang indah.

Lima menit kemudian sekian puluh laki-laki keluar dari mesjid itu. Sebagian masih memakai sarung, sebagian dengan bangga masih mengenakan peci, sebagian hanya mengandalkan rambut yang basah-basah bekas air wudhu. Salah satu laki-laki dari kriteria ketiga adalah Baswara Respati yang berjalan perlahan dengan pasti ke arah si gadis yang menunggu tadi, Pradnya Lila Dara.

“Sholatnya khusyuk gak?” tanya Anya, nama panggilan si gadis, dengan sedikit nada canda.
“Nggak, mikirin kamu. Takut kamu kepanasan nungguin aku sholat.” jawab Baswara menimpali.
“Sialan. Doa apa kamu tadi?” tanya Anya lagi sambil menggandeng tangan Baswara lalu berdua berjalan ke tempat parkir motor.
“Doa apa, ya? Ya, doa apa lagi? Yang itu-itu aja. Abisnya yang doa biasanya aja belum dikabulkan, bingung mau doa apa lagi.” jawab Baswara dengan intonasi yang membingungkan, antara pasrah, serius, dan mencoba santai.
Lantas keduanya diam. Semakin mendekat ke parkir motor, bunyi langkah-langkah mereka makin mendominasi kehampaan yang tercipta. Baswara merasa salah bicara, Anya bingung harus menanggapi bagaimana.

“Makan, yuk. Abis itu kita hias pohon Natal di rumah kamu.” ujar Baswara memecah keheningan antara mereka sambil mengeratkan genggamannya ke tangan Anya, seakan tak ingin melepas. Anya mengangguk pelan dan menatap Baswara dalam dengan senyuman.

***

Beberapa orang tampak sibuk kesana-kemari. Orang-orang berkerumun dengan beragam wajah dan ekspresi: bingung, kaget, panik, heran, sedih, kacau, ragu. Satu ragam wajah yang tidak ada: bahagia. Malam makin sendu dan kelabu dihias asap-asap tak menentu. Malam yang seharusnya penuh syukur dan tenang menghangatkan, berubah menjadi ruang sauna luas tanpa batas yang membuat kelenjar keringat tubuh setiap orang memproduksi lebih dari biasanya. Kepingan dan reruntuhan bangunan menyebar di jalanan. Padat. Riuh. Duka. Tidak akan ada yang lebih terluka. Tidak akan ada yang bisa lupa.

Ya, ledakkan di malam Natal itu mengguncang semua orang di belahan Indonesia mana pun. Bahkan mungkin sampai ke ujung-ujung dunia. Semua mengutuk aksi yang dengan lantang disebut sebagai aksi terorisme. Semua marah dengan pengeboman di gereja-gereja itu. Terutama dua insan yang sedang duduk bersama menatap muramnya malam dalam diam di sebuah ayunan pekarangan rumah.

Baswara melirik jam tangannya. 00.15. Ia diam. Anya diam. Ia ingin bicara. Anya juga. Tapi tak ada satu kata pun terucap dari mulut mereka. Baswara melirik jam tangannya lagi. 00.18. Tiga menit berlalu dan mereka masih terdiam. Keduanya sama-sama menghindari mata satu sama lain. Keduanya sama-sama tak berani untuk mengetahui isi mata satu sama lain. Keduanya takut menemukan hal-hal yang menyiratkan kepedihan di mata satu sama lain. Keduanya tahu bahwa mata tak akan bisa menyuarakan kebohongan.

Baswara merasa harus mewujudkan apa yang ada di pikirannya.

“Selamat Natal, Anya.” ujar Baswara setenang mungkin. Akhirnya keduanya bertatapan. Baswara tersenyum. Mata Anya berkaca-kaca. Senyuman Baswara pudar lebih cepat dari warna pada baju yang sudah terlalu sering dicuci.

“Aku gak yakin Papa Mama bakal ngizinin kita ketemu lagi, Bas. Apalagi setelah pengeboman ini. Gereja hancur. Saudara-saudara seagamaku banyak yang jadi korban, Bas. Meskipun bukan kamu yang ngelakuin itu, tapi kamu bagian dari mereka juga, kamu Islam.” kata Anya dengan nada lemah dan sedikit menahan adukan emosi dirinya.

“Kenapa kamu jadi pesimis gitu? Kenapa tiba-tiba pikiran kamu jadi gitu? Kita kan udah sepakat, gak akan ada yang bisa ngehalangin kita kecuali Tuhan menghendakinya, bahkan agama sekalipun.” ujar Baswara dengan sedikit menggebu.

“Kalau ternyata ini pertanda dari Tuhan gimana?” tanya Anya. Baswara terdiam. Lalu menatap mata sayu berkaca-kaca yang sedang menatapnya juga dengan penuh harapan dan meminta perlindungan. ‘I won’t let you down,’ ujar Baswara dalam hati.

“Anya. Kamu Kristen yang taat, aku muslim yang taat, bukan teroris. Sekarang saatnya kamu harus percaya dan yakin,” Baswara mengambil tangan Anya dan meletakkannya di dadanya, “sekarang kita bersama karena ada cinta yang diciptakan Tuhan. Kita jalanin ini berdua, tanpa ketakutan, tanpa pikiran-pikiran yang meragukan. In the end, everything is gonna be okay. If it’s not okay, then it’s not the end.” ujar Baswara lagi menatap dalam menembus sekat-sekat korne dan selaput apapun yang ada di mata Anya.

“Aku bisa ngerti, Bas. Tapi Papa Mama?” tanya Anya lagi sambil melepaskan tangannya dari dada Baswara.

“Anya, kamu tuh emang udah gak mau sama aku lagi apa gimana, sih? Kamu terlalu mencari-cari alasan. Aku pikir kamu percaya sama aku, aku pikir kamu percaya sama kita, sama kita!” ujar Baswara sedikit marah sambil bangkit dari duduknya. Anya terdiam dan malah menunduk. ‘You don’t understand, Boy. It’s not easy to be me.’ ucap Anya dalam hatinya.

“Oh, bahkan kamu gak percaya sama diri kamu sendiri.” seru Baswara dengan nada sedikit sinis. “Well, kalau emang aku udah gak bisa lagi terlibat di kehidupan kamu, aku pergi. Gak usah ketemu-ketemu lagi. Makasih ya, Anya yang cuma bisa manjain ketakutannya. Bahkan gak mau menghadapi kenyataan bersama seorang Baswara. Thanks!” ujar Baswara sambil berjalan menjauh. Bicaranya menjadi melantur saking kesalnya. Bukan hanya pada Anya, bahkan pada dirinya sendiri, bahkan pada agamanya, bahkan pada Tuhan.

Anya sesengukan sendirian di ayunan. Meratapi kisah cintanya yang sedang diayun-ayun Tuhan. Ia tidak sanggup melihat kepergian Baswara yang tampak begitu kesal dengan dirinya yang meragu. Baswara, andai kamu Kristen, andai tidak ada pengeboman, andai aku Islam.. Baswara, andai aku Islam..

***

“Anya, maafin sikap aku kemarin, ya. Aku kesel banget.” kata Baswara lemah lembut sambil mengaduk-aduk kopi hangat dalam cangkir di hadapannya.

“Iya, gak apa-apa. Aku ngerti, kok. Maafin aku juga ya, Bas.” balas Anya dengan lebih lembut. Namun tampak ada kegelisahan di masing-masing pihak pada pertemuan kembali setelah dua minggu mereka tidak berhubungan.

“Anya, kalau emang ternyata kamu masih ragu, kalau emang ternyata kamu masih takut ngejalanin kebersamaan kita yang terhalan perbedaan ini,” ujar Baswara perlahan dan memancing Anya untuk membantah namun ditahan kembali oleh Baswara, “dengerin aku dulu,” kata Baswara. Anya pun menunda niatnya untuk menjelaskan apa yang ingin ia jelaskan pada Baswara. Ia sudah yakin, ia sudah percaya, karena ia sudah menentukan sikap. Ia cuma tahu bahwa muara cintanya hanya kepada Baswara.

“Anya, kalau emang ternyata kita terbentrok pada perbedaan agama, aku siap pindah agama, ke agama kamu, Kristen.” ujar Baswara pasti sambil menatap mata Anya dalam, menunjukkan kesungguhan sekaligus ketakutan kalau ia tidak mengatakannya segera, kepastiannya itu akan berubah lagi.

“Bas!” seru Anya sambil terbelalak. Ia tidak percaya apa yang didengarnya. “Bas! Bagaimana bisa kamu baca pikiran aku! Aku hari ini ketemu kamu juga ingin bilang kalau aku sudah menentukan sikap, aku juga siap pindah ke agama kamu, Islam.” seru Anya dengan sedikit berapi-api.

Tidak ada tanggapan. Diam kembali tercipta. Baswara masih tersentak kaget, bingung, heran, tidak percaya. Anya hanya bisa tersenyum heran juga tidak percaya, bagaimana mungkin mereka sama-sama siap untuk mengikuti agama orang yang dikasihinya. Keduanya lantas tertawa terbahak-bahak dan suasana pun menjadi cair. Keduanya masih tidak percaya apa yang terjadi barusan dengan begitu cepatnya hanya dalam hitungan detik. Keduanya akhirnya merasa lega dan bebas dari cengkeraman ketakutan akan perpisahan.

“Well, gak ada yang perlu pindah agama. Bagiku ini jadi kekonyolan semata. Karena sebenarnya kita yakin sama agama kita masing-masing, kita masih percaya sama Tuhan. Aku udah bilang kan, kamu Kristen yang taat, aku Islam yang taat. Di antara perbedaan itu, ada cinta kita yang teramat kuat. Terima kasih Pradnya Lila Dara atas cinta kamu buat aku, terima kasih Tuhan atas cinta luar biasa-Mu untuk kami berdua.” ujar Baswara perlahan tapi pasti. Lagi-lagi, matanya menatap Anya sangat dalam, melebihi dalamnya palung terdalam di dunia sekalipun. Ia terlanjur yakin bahwa Anya adalah satu dari sekian milyar manusia ciptaan Tuhan yang ditakdirkan untuk berbagi kisah hidup dengannya.

Anya tak bisa tidak melepaskan keinginannya untuk memeluk Baswara. Baswara tidak bisa tidak mendekap Anya dengan segenap perasaan sayang, cinta, apalah namanya. Anya tak bisa tidak mengalirkan air mata campuran perasaan sedih, takut, kesal, dan marah. Baswara tidak bisa tidak mengeratkan dekapannya dan mengusap kepala orang yang sangat disayanginya, yang menangis melimpahkan air mata di depannya. Tanpa bicara, tanpa kata, mereka akhirnya mengerti. Bahasa peluk menjelaskan semuanya. Bahasa peluk membeberkan semuanya. Bahasa peluk mengisahkan semuanya. Ketakutan akan masa depan, kepasrahan akan kenyataan, keresahan akan perbedaan, kegelisahan akan ketidakmungkinan, semua lenyap dalam pelukan.

***

Selesai: 28 Oktober 2009
Dalam rangka tugas mata kuliah Creative Writing. Diselesaikan H-2 jam deadline dikumpulkan. Hehehe, jadi maaf-maaf aja kalau agak kacau.

B.

•Oktober 22, 2009 • & Komentar

hi, B. i’m here. at your back. see you leaving catch your apv. see you playing your hair. see your skinny body and jeans. see you walk away and never notice me. glad for having your back, glad for seeing you alive, glad for your existence.

Twitter Helps Me A Lot for Blogging :)

•Oktober 20, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Awalnya saya sangat tidak ingin membuat akun di jejaring sosial selain Facebook yang telah menjadi trend juga, Twitter. Saya akan merasa bersalah sendiri jika ternyata saya hanya akan menyampah di dunia maya, meski mungkin itu bukanlah suatu ‘dosa’.

Tapi saya mencoba mencari alasan yang menarik untuk membuat akun di Twitter selain karena teman-teman saya mulai banyak yang menggunakannya. Tidak. Tapi karena memang saya bisa menemukan pemikiran-pemikiran menarik dari beberapa orang, baik yang saya kenal maupun yang tidak. Selain itu, untuk hal-hal sederhana dan singkat yang saya temukan, bisa saya langsung ’simpan’ untuk kemudian mungkin dikembangkan lebih dalam lewat blog ini. Maka dari itu lah, fungsinya yang dikatakan “micro-blogging’ ini sangat membantu saya agar lebih bisa produktif menulis.

Jadi, sepertinya mulai saat ini saya akan menulis dari apa yang pernah saya tweet. Boleh loh difollow twitter saya di http://amaliasekarjati.twitter.com Thanks, teman! Keep enjoying my blog, yaa :) Hehehe.

God, Religion, and Human.

•Oktober 5, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

Gak tau kenapa, setiap gue lagi memikirkan sesuatu, hal-hal lain yang berkaitan dengan sesuatu itu langsung muncul seakan menjadi referensi gue dalam berpikir, menimang, menimbang, dan mengenang. Hal yang lagi gue pikirin belakangan ini adalah tiga hal yang jadi judul jurnal gue ini: Tuhan, Agama, dan Manusia.

Bermula dari satu keputusan penting dalam hidup gue. Lalu kemudian gue jadi mempertanyakan. Tiba-tiba, diminta membantu teman yang membuat film berjudul “Indonesia Bukan Negara Islam”. Yeah, he has a deviantart, too. Let’s check out the film, guys! See it on YouTube. Setelah itu, gue berbincang dengan teman yang berbeda agama tapi cukup memiliki pandangan sama dalam sebuah bis Tangerang-Blok M ditemani rintik hujan mengenai kebingungan kita akan keTuhanan dan agama.

Ke pameran fotografer terkenal yang judul-judulnya gak lepas dari keagamaan pula. “Samsara”, “The Last Supper”, dan lainnya. Ketemu GM, jadi pengen baca bukunya, “God and The Unfinished Things”. Terus, tadi pagi menjelang siang, belajar Sosial Budaya Indonesia, belajar Masyarakat Majemuk Indonesia. Gue pun jadi mempertanyakan kebangsaan di tengah kemajemukan itu beserta konflik yang terjadi selama ini. Well, jawaban dosen gue boleh juga: Toleransi.

Sekarang, ada seorang kawan yang lagi bingung. Dia pacaran beda agama. Dia serius dengan hubungannya ini. Tapi masa depan mereka berdua makin gak jelas arahnya.

Apa yang gue pertanyakan? Apa benang merahnya? Gue juga jadi gak ngerti. Mungkin sekarang bingung. Mungkin nanti bingung. Mungkin selamanya bingung. Mungkin juga, ketemu jawabannya! Lalu? Lalu ya..

DKWTW.

•September 8, 2009 • & Komentar

DKWTW.
don’t know what to write.
klise banget.
bodoh banget.
tapi gue beneran bingung mau nulis apa.

lagi minder.
lagi pesimis.
di kuliah semester 3 jurusan jurnalistik yang makin bikin gue panik.

malah ada RUU perfilman yang gak asik banget.
apaan sih maunya?
keinget mata kuliah sistem hukum indonesia.
sampai batas mana suatu undang-undang harus dituruti dan bisa dikritisi?

gak ngerti apa-apa kok sok ngatur-ngatur.

makin sering dengar berita kematian.
bencana gempa.

ya ampun.
kalau besok gue mati gimana?
di akhirat ada facebook gak ya?
di sana bisa wifi gak yaa?

kagak lah, bego lo kar.
okaaay. gue si bego.

the end.

KURSOR

•September 2, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

lagi di kelas desktop publishing yang lebih menggoda untuk internet-an daripada membuat gambar-gambar lucu tapi gue gak ngertiii.
tepatnya tidak mencoba untuk mengerti dan mencari tahu.
hahaha. nyampah banget dehh.

gak tau mau nulis apa meski sebenernya tau ada yang bisa ditulis.

..dan aku hanya bisa menatap kursor yang timbul tenggelam dalam diam.

Mbah Surip: an artist, for sure.

•Agustus 6, 2009 • & Komentar

Sebenarnya saya tidak mau menambah-nambahi opini mengenai kematian Mbah Surip, yang media (media bentuk jamak dari medium) sebut-sebut sebagai sosok fenomenal itu. Tapi saya merasa ada makna dibalik kematian beliau. Entah saya sok tahu, tapi ini yang ada di otak saya, Anda boleh menimpalinya.

Saya tahu Mbah Surip sekitar empat tahun lalu, saat saya masih satu SMA. Melihat aksi, kreasi, dan keluarbiasaannya di acara Kenduri Cinta bersama seorang tokoh yang saya kagumi juga, Emha Ainun Najib. “Tak Gendong”, “Menyetem Gitar”, dan lagu-lagu ‘gila’ lainnya saya saksikan di sana. Sebelum saya melihat aksi langsungnya itu pun, saya sempat mengenal beliau via medium televisi lewat kisah hidupnya dan lagunya yang luar biasa ‘nyeni’, “Bangun Tidur”.

Bagi saya, ia tampak nyentrik dan menarik bukan sekedar dari penampilannya. Tapi apa yang ia ciptakan, tapi apa yang ia lontarkan, tapi apa yang ia bawakan, itulah yang berkesan sangat pada saya. Apa adanya, sederhana, kreatif, dan tidak munafik. Dia menjadi bintang tamu langganan di acara Kenduri Cinta itu. Sudah lama saya tidak menghadiri acara rutin itu sehingga jarang pula saya melihat Mbah Surip tampil. Sampai belakangan ini saya tahu bahwa dia ‘menyerahkan diri’ ke publik lewat lagunya yang sudah saya dengar dari empat tahun lalu itu, “Tak Gendong”.

Lantas tiba-tiba, saya mendapat pesan singkat dari seorang teman, “kar, masa mbah surip-”mu” meninggal dunia..” SMS itu hadir di saat semua orang sudah tidak asing lagi dengan dirinya, yang kata orang-orang bilang, ia sedang di puncak karirnya. Apa yang saya rasakan? Mungkin kata umumnya: sedih. Tante saya sibuk berkomentar, “Padahal uang 4,5 Milyarnya belum diambil, tuh..” Semua media massa tidak ada yang tidak mengangkat beritanya, bahkan di iklan yang dibintanginya pun diutarakan belasungkawa.

Tetapi saya merasa ada makna lain. Saya mencoba mengklaim bahwa Tuhan itu adil. Mengapa Mbah Surip ‘dipanggil’-Nya saat ia sedang ‘makmur’? Saya mencoba membuat jawaban saya, jawaban seorang manusia yang sok menalar suatu yang transendental. Mungkin, jika Mbah Surip ‘dipanggil’ saat ia tidak tenar, yang menyadari kehadirannya yang luar biasa itu dan menginspirasi itu hanya sebagian kecil orang. Tapi saat ia terkenal, semua orang harusnya menyadari keberadaannya dan mengutip ‘kutipan-kutipan’ hidupnya yang apa adanya, yang bijaksana, yang filosofis sangat, terutama untuk para serakahwan-serakahwan yang beredar di luar sana..

Dia seorang seniman asli, tulen. Hidup yang ia jalani pun buat saya sangat ‘nyeni’. Tuhan, bahagiakanlah ia, sebagaimana Engkau membawa kebahagiaan buat kami lewat dirinya. Amin..

Is Afgan is The One?

•Juli 27, 2009 • Tinggalkan sebuah Komentar

hmm.. tiba-tiba inget si afgan.
tiba-tiba inget percakapan gue dengan seorang teman.

gue lagi cerita ke dia kalau gue lagi fall for a senior. terus dia bilang, “beneran gak, nih?”. lah gue bingung: ya beneran dong, aww. emang yang beneran kayak gimana? dia jawab, “ya yang beneran falling. bukan cuma sekedar adore atau apa. yang elo tuh stick/stuck sama dia”. intinya gitu, deh.

lalu gue jadi mikir-mikir. siapa yaa?
kayaknya semua beneran. hahaha. tapi masa banyak banget? siapa yang bisa bikin gue stick dan stuck?

huff.. kayaknya si afgan.
afgan, afgan, afgan. lo udah gak merajai memori gue lagi. tapi lo di hati gue gak akan kemana.. (dangsduts sekali yaaa). huff. meski sekarang lo udah gak kayak afgan. meski gue gak pernah punya momen bareng lo lagi. meski gue gak bakal pernah ada di profile picture lo. meski lo semakin out of reach.

tapi..
ya gitu dehhhh. jelek lo ah. ngeselin. bikin gue sendu aja. hihihi. tuh kan ngaco. elo siiihhh.
arrgh. afgan, afgan.
sampai ketemu lagi.. kapan-kapan.
(semoga gue masih ada tempat di memori atau hati lo, meski cuma sebesar bulir padi atau bahkan upil terkecil sekalipun, AMIN.)